KATA PENGANTAR OLEH ANDHY PULUNG
Jakarta Film Week hadir di tengah perubahan yang semakin cepat dalam perjalanan perfilman Indonesia. Pertumbuhan produksi, munculnya generasi filmmaker baru, berkembangnya teknologi, serta semakin terbukanya akses terhadap pengetahuan menunjukkan bahwa ekosistem film kita terus bergerak dan mencari bentuk barunya.
Namun, perkembangan industri tidak hanya tentang seberapa banyak film yang kita produksi. Yang lebih penting adalah bagaimana pengetahuan, kesempatan, dan akses terhadap ekosistem dapat tumbuh secara lebih merata. Kita membutuhkan ruang untuk belajar, berdiskusi, menguji gagasan, berbagi pengalaman, sekaligus membangun jejaring yang memungkinkan talenta-talenta baru berkembang dan menemukan posisi mereka dalam industri.
Dalam proses ini, ruang pendidikan perlu semakin dekat dengan ekosistem film. Kampus, sekolah film, komunitas belajar, dan berbagai ruang pendidikan tidak seharusnya berjalan sendiri di luar perkembangan industri. Ada kebutuhan untuk mempertemukan pengetahuan akademik dengan pengalaman praktik, mempertemukan mahasiswa dengan filmmaker dan pekerja film, serta membuka lebih banyak kesempatan bagi generasi muda untuk memahami bagaimana sebuah film benar-benar berkembang dari gagasan menjadi karya.
Pertemuan antara pendidikan dan industri juga menjadi penting ketika kita menghadapi perubahan teknologi yang begitu cepat. Kita sedang memasuki era kecerdasan artifisial atau AI. Bagi saya, AI perlu dilihat sebagai tool development—sebuah alat yang dapat membantu filmmaker mengeksplorasi ide, mengembangkan proses kreatif, memperluas kemungkinan produksi, dan menemukan cara-cara baru dalam bekerja.
Namun, teknologi tetap membutuhkan manusia yang memiliki pengetahuan, kepekaan, pengalaman, dan keberanian untuk menentukan apa yang ingin dikatakan melalui sebuah film. Karena itu, tantangan kita bukan hanya bagaimana menggunakan teknologi baru, tetapi bagaimana membangun literasi, kemampuan berpikir kritis, dan pengetahuan kreatif agar teknologi menjadi bagian dari perkembangan sinema Indonesia tanpa kehilangan karakter, konteks, dan nilai kemanusiaannya.
Di sinilah festival film memiliki peran yang penting. Festival bukan hanya ruang untuk memutar dan merayakan film, tetapi juga ruang untuk bertukar pengetahuan, membaca perubahan, mempertemukan generasi, dan membangun ekosistem. Filmmaker, pekerja film, komunitas, institusi pendidikan, industri, teknologi, dan penonton perlu berada dalam percakapan yang sama.
Jakarta Film Week 2026 saya harapkan dapat menjadi salah satu ruang pertemuan tersebut—ruang di mana film tidak hanya ditonton, tetapi juga dipelajari; di mana pengalaman industri dapat dibagikan kepada generasi berikutnya; dan di mana pendidikan, kreativitas, teknologi, serta kebutuhan industri dapat saling bertemu dan berkembang bersama.
Karena membangun industri film bukan hanya tentang membuat lebih banyak film, tetapi tentang membangun manusia, pengetahuan, pendidikan, jejaring, dan ekosistem yang memungkinkan film-film berikutnya lahir dengan lebih baik.
Selamat bertemu, berdiskusi, belajar, dan menemukan kemungkinan baru di Jakarta Film Week 2026.