SILENT FILM, GRIEF, HEALING
Cahya harus menghadapi kenyataan pahit ketika ia ditinggalkan kedua orang tuanya untuk selamanya, di waktu yang bersamaan. Dalam kesedihannya, Cahya memulai perjalanan duka di sebuah rumah duka, ditemani oleh bayangan kedua orang tuanya yang kini hadir sebagai sosok hantu. Sepanjang perjalanan, Cahya teringat beberapa kenangan akan dirinya dan orang tuanya. Dari ia semasa kecil hingga kenangan pahit ketika beranjak dewasa. Potongan kenangan tersebut perlahan membimbingnya untuk memahami arti kehilangan. Hingga akhirnya, Cahya perlahan bangkit untuk menerima duka saat sampai di ruang duka milik kedua orang tuanya dan berpisah untuk selamanya dengan kedua orang tuanya.
Fritz Widjaja adalah seorang seniman, dan itulah satu-satunya hal yang memang ia jalani sepenuhnya. Bagi Fritz, menjadi seniman bukan hanya soal menggambar atau bercerita, tetapi tentang mewujudkan ide-ide gila dan baru, menciptakan fondasi mimpi dan harapan bagi semua orang. Di waktu luangnya, ia menyukai make-up efek khusus, cosplay, bermain musik—terutama jazz dan pop—serta olahraga. Dalam karier filmnya, ia berpartisipasi di Cannes Short Film Corner 2010 dengan film pendek The Story sebagai sutradara dan penulis, terlibat dalam iklan Teh Gelas (2015), dan film pendeknya Timun Mas terpilih secara resmi di Zlin Film Festival, Girona Film Festival, Fan Boy Film Festival, dan Hellomotion Film Festival pada 2016.