Merawat Ekosistem, Menumbuhkan Jejaring: Talents Hub dan Lanskap Pembuat Film Muda Asia Tenggara

Sebagai bagian dari JFWNET — Industry Program, Talents Hub menjadi salah satu inisiatif utama Jakarta Film Week dalam memperkuat ekosistem pembuat film melalui pendekatan capacity building atau pengembangan kapasitas talenta. Selama empat hari, 21 pembuat film muda dari Indonesia, Filipina, Singapura, dan Hong Kong berkumpul di Jakarta untuk mengikuti serangkaian workshop, kunjungan industri, sesi pengembangan proyek, serta forum pertukaran ide lintas negara. Program ini hadir sebagai ruang berproses, di mana pengetahuan teknis dan kepekaan artistik dirawat secara seimbang, sekaligus membangun fondasi jaringan kreatif yang berkelanjutan.

Hari Pertama: Pembukaan dan Mengunjungi Rantai Produksi dan Distribusi

Rangkaian kegiatan dimulai di Mercure Cikini, dihadiri oleh Vivian Idris (Festival Board), serta Andhy Pulung (Festival Board), dan Gayatri Nadya (Festival Manager & Head of JFWNeT – Industry Program). Ketiganya menyampaikan sambutan yang menggarisbawahi nilai pertemuan lintas negara ini: bahwa kerja sinema selalu memerlukan percakapan yang tidak berhenti pada layar, tetapi terus berlangsung di ruang pertemuan, ruang kerja, dan ruang komunitas.

Dalam sambutannya, Andhy Pulung menyampaikan apresiasi atas inisiatif program ini: “Saya sangat mengapresiasi hadirnya Talents Hub sebagai program baru JFWNET – Industry Program tahun ini. Pertemuan lintas negara seperti ini menunjukkan bahwa pengembangan kapasitas talenta bukan hanya soal peningkatan keterampilan teknis, tetapi juga tentang membuka ruang dialog, keberanian berbagi proses, dan merawat relasi kreatif. Di sinilah masa depan ekosistem film dapat tumbuh.”

Hari Pertama: Pembukaan dan Mengunjungi Rantai Produksi dan Distribusi

Hari pertama diisi dengan industry visit ke dua titik penting dalam ekosistem film saat ini: Vidio dan Super8mm. Keduanya mewakili dua wilayah kerja yang saling berkaitan tetapi memiliki logika yang berbeda.

Di Vidio, peserta melihat langsung bagaimana platform OTT membaca perilaku penonton, menentukan strategi kurasi konten, dan membuka peluang kerja sama dengan pembuat film independen. Diskusi menyinggung dinamika pasar digital, algoritma rekomendasi, dan bagaimana film pendek dapat diposisikan kembali sebagai medium eksperimental yang punya kesempatan penonton barunya.

Sementara itu, kunjungan ke Super8mm berfokus pada pascaproduksi. Para peserta melihat bagaimana editing, grading, dan pengolahan audio merupakan bagian dari pembentukan bahasa film — bukan sekadar proses teknis yang sifatnya melengkapi.

Kunjungan ini memberi gambaran bahwa proses produksi film bukan jalur linear, tetapi jaringan yang saling memengaruhi: keputusan kreatif, strategi pendanaan, relasi dengan platform, hingga kerja teknis studio.

Hari Kedua: Mengurai Cerita, Mengatur Produksi

Hari kedua dirancang lebih intens, berupa workshop pengembangan cerita dan simulasi struktur produksi. Sesi dimulai dengan membedah kerangka naratif: bagaimana tema dapat menjadi poros cerita, bagaimana karakter dibangun melalui tindakan, dan bagaimana konflik dirangkai tanpa harus bersandar pada dramatisasi berlebihan.

Pendekatan yang digunakan banyak bertumpu pada dialog terbuka—para peserta saling mengkritik, menyusun ulang, dan mempertanyakan kembali pilihan naratif masing-masing. Proses ini bukan hanya tentang menemukan apa yang ingin diceritakan, tetapi juga menemukan kenapa cerita itu perlu dibuat.

Sesi kemudian dilanjutkan dengan production breakdown, membahas pembagian kru, pengaturan lokasi, penyusunan jadwal, hingga pengelolaan anggaran. Komponen praktis ini penting karena sering kali ide dan pelaksanaan berada dalam ketegangan. Program ini mencoba menjembatani keduanya.

Hari Ketiga: Komunitas, Jejaring, dan Politik Kemandirian

Hari ketiga mengangkat topik komunitas sebagai infrastruktur budaya. Perwakilan komunitas film dari Jakarta, Manila, dan Singapura berbagi cara masing-masing dalam menjaga keberlanjutan ruang belajar dan ruang pemutaran.

Percakapan ini menjadi refleksi penting: bahwa festival, laboratorium kolaboratif, dan forum diskusi bukan pelengkap, melainkan pondasi perkembangan pembuat film. Tanpa komunitas, karya rentan kehilangan konteks, dan pembuatnya berisiko terisolasi.

Bagian ini kemudian dilanjutkan dengan presentasi proyek oleh peserta. Alih-alih penilaian formal, sesi berlangsung sebagai forum peer feedback, mempertemukan sudut pandang yang berbeda-beda dan membuka kemungkinan kolaborasi lintas negara.

Hari Keempat: Penutupan dan Refleksi Bersama

Program ditutup dengan pemutaran film pendek pilihan dari peserta dan alumni, yang kemudian menjadi titik awal diskusi reflektif: apa yang ingin dibawa pulang dari Jakarta, dan bagaimana pembelajaran empat hari ini dapat diterapkan dalam proyek masing-masing.

“Talents Hub mengingatkan saya bahwa perjalanan membuat film tidak harus dijalani sendiri. Di sini saya merasa didengar, belajar banyak dari proses orang lain, dan pulang dengan teman-teman baru yang kemungkinan akan jadi rekan kerja di masa depan,” ucap salah satu peserta Talents Hub memberikan kesannya terhadap wadah ini.

Artikel Terkait
Mengenal Sineas Muda Indonesia Lewat MTN Showcase di Jakarta Film Week

Article

Mengenal Sineas Muda Indonesia Lewat MTN Showcase di Jakarta Film Week
Read Now
Dopamin, Kisah Tentang Cinta di Dunia yang Semakin Gila

Article

Dopamin, Kisah Tentang Cinta di Dunia yang Semakin Gila
Read Now
Merawat Ekosistem, Menumbuhkan Jejaring: Talents Hub dan Lanskap Pembuat Film Muda Asia Tenggara

Article

Merawat Ekosistem, Menumbuhkan Jejaring: Talents Hub dan Lanskap Pembuat Film Muda Asia Tenggara
Read Now