Film Dopamin menjadi penutup meriah bagi Jakarta Film Week 2025. Pemutaran film ini berlangsung di Audi 2 CGV Grand Indonesia dan dipenuhi penonton dari berbagai kalangan, mulai dari tokoh masyarakat, publik figur, sineas, hingga masyarakat umum. Antusiasme tinggi terasa sejak awal acara, menjadikan penutupan festival tahun ini penuh semangat dan energi.
Sebelum pemutaran dimulai, produser Dopamin Chand Parwez Servia bersama para pemain utama, Angga Yunanda dan Shenina Cinnamon, memberikan sambutan hangat di hadapan penonton. Dalam pesannya, Chand Parwez menyebut film ini sebagai karya yang istimewa. “Sebuah karya yang spesial bagi saya. Film ini adalah tentang bagaimana kita bahagia di dunia yang semakin gila, dan semoga dari film ini kita semakin menyadari bahwa cinta adalah satu-satunya obat untuk bahagia,” ujarnya.
Film Dopamin bercerita tentang Malik (25), seorang pria yang baru terkena PHK dan sedang menghadapi masalah rumah tangga dengan istrinya, Alya (23). Mereka terjerat pinjaman online hingga berurusan dengan debt collector. Suatu malam, setelah gagal wawancara kerja dan mobilnya mogok, Malik mendapat tumpangan dari Arief (50). Karena hujan deras, Arief menginap di rumah mereka. Namun pagi harinya, Malik dan Alya terkejut menemukan Arief tewas dengan jarum suntik di tangan dan sekoper uang miliaran rupiah yang mengubah hidup mereka.
Shenina Cinnamon yang hadir dalam acara ini mengungkapkan rasa bahagianya setelah melihat antusias dari penonton. “Happy banget, enjoy banget, dan pengen lagi. Aku ga expect reaksinya akan seperti itu, bahkan di luar ekspektasi aku. Penonton pada enjoy banget. Semoga nanti waktu tanggal 13 tayang akan seheboh dan serame ini,” katanya dengan antusias.
Salah satu penonton sekaligus komika dan aktor, Ari Kriting, juga memberikan apresiasi tinggi untuk festival dan film penutupnya. “Menurutku, ini baru lima kali diadakan tapi sudah sangat rapi sekali. Terlihat banget orang-orang yang mengerjakan ini paham alurnya. Film-filmnya juga kuat, juri-jurinya keren, dan semuanya profesional,” ujarnya. Ia menambahkan, “Dopamin ini layak banget ditunggu. Beruntung bisa nonton duluan di Jakarta Film Week. Acting-nya luar biasa, directing-nya keren, musik dan sinematografinya juga top. Respect banget, Dopamin jadi salah satu film favorit saya tahun ini.”
Film Dopamin menghadirkan refleksi tajam tentang cinta, keputusasaan, dan pilihan hidup di tengah dunia yang kian tidak menentu. Film ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga ajakan untuk merenung bahwa dalam kekacauan hidup, cinta tetap menjadi sumber kebahagiaan paling murni. Penayangan Dopamin sebagai film penutup menegaskan posisi Jakarta Film Week sebagai festival yang tidak hanya menghadirkan karya terbaik, tetapi juga mempertemukan energi baru dalam perfilman Indonesia. Karya ini menjadi simbol semangat dan optimisme bagi sinema nasional yang terus berkembang.