Salah satu program pemutaran film di Jakarta Film Week tahun ini yaitu Made in Hong Kong yang merupakan kolaborasi dengan Hong Kong Economic & Trade Office (HKETO). Program ini menayangkan film-film pilihan yang diproduksi oleh industri perfilman Hong Kong.
Made in Hong Kong dirancang untuk menyoroti kekayaan budaya perfilman Hong Kong serta pengaruhnya terhadap perfilman global. Tujuannya agar pelaku industri perfilman Indonesia dapat memperluas keragaman produksi perfilman nasional. Melalui karya-karya perfilman Hong Kong yang dikenal sebagai industri perfilman terbesar ketiga di dunia setelah Bollywood dan Hollywood. Terdapat dua film yang mencuri perhatian audiens yaitu Love Lies yang disutradarai Ho Miu Ki dan Time Still Turns the Pages yang disutradarai Nick Cheuk. Kedua film ini menonjol berkat pengembangan cerita serta karakter yang kuat, sehingga pesan yang disampaikan begitu hidup dan berhasil menarik simpatik para penonton.
Keduanya mengangkat tema sosial serta hubungan antara manusia dan cinta, yang begitu berkaitan dengan nilai kehidupan setiap orang. Dari film Love Lies, para penonton diajak menyaksikan kisah cinta tidak biasa, yang diawali dari tindakan scam yang terjadi oleh Veronica Yu seorang ginekolog terkenal yang bertemu dengan Joe melalui aplikasi kencan. Meski hubungan mereka diawali dengan penuh kepalsuan, namun seiring berjalannya waktu mereka merasa nyaman untuk menciptakan momen romantis bersama.
Melalui kesempatan screening film Love Lies di Jakarta Film Week 2024, Ho Miu Ki bercerita bahwa cerita ini terinspirasi dari kejadian nyata yang terjadi di lingkungan sekitarnya. “Cerita ini diambil dari kisah-kisa yang terjadi disekitar kita. Banyak sekali kejadian seperti ini terjadi, dan sangat sulit untuk menghindari hal tersebut.”
Film yang tidak kalah mengambil perhatian penonton ialah Time Still Turns the Pages. Film yang memenangkan penghargaan Taiwan’s Golden Horse Awards ini, mengangkat isu yang sangat sensitif dan traumatis mengenai kesehatan mental. Bercerita tentang seorang guru sekolah menengah bernama Mr. Cheng yang menemukan suicide note anonim yang ia temukan di kelasnya. Penyelidikan lebih mendalam dilakukan dan diketahui bahwa suicide note tersebut ditulis oleh muridnya yaitu Eli. Narasi film ini menggabungkan perjuangan Mr. Cheng di masa kini dengan kilas balik masa kecilnya, yang kisahnya beririsan dengan Eli yang menghadapi tekanan besar dari keluarga akibat prestasi akademiknya yang kurang baik.
Selain menceritakan mengenai kesehatan mental dan bagaimana dampak jangka panjangnya, film ini juga mengkritik mengenai kerasnya sistem pendidikan di Asia. Cerita ini sangat kuat dengan penggambaran nyata tentang trauma keluarga yang dikemas dengan sederhana, menciptakan tampilan yang kuat dan realistis tentang masalah sosial yang relevan.
Dengan pemutaran kedua film dari program Made in Hong Kong tersebut, dapat menjadi sebuah ekplorasi bagi para filmmakers dalam hal pengemasan film bertemakan sosial, yang tidak lepas dengan nilai kehidupan yang ingin disampaikan.
Selain dua judul di atas, film-film yang juga termasuk ke dalam program ini antara lain Twilight of The Warrior, The Remnant, serta kompilasi film pendek Hong Kong berjudul I Have Arrived, Mamamoo, Overman, dan Breathe Without Water, yang merupakan bagian dari kolaborasi bersama Hong Kong Economic and Trade Offices (HKETO). Kehadiran beberapa sutradara seperti Yan Yan Mak (I Have Arrived), Frankie Lee (Mamamoo), dan To Chin Him (Overman).
Untuk informasi lebih lanjut mengenai program dan acara Jakarta Film Week 2024, kunjungi www.jakartafilmweek.com dan ikuti kami di media sosial @jakartafilmweek. Jangan lewatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari perayaan sinema internasional di Jakarta tahun ini!
Asia Khairunnisa Luthan | Nanda Hadiyanti