Emergency Broadcast: Ruang Darurat di Tengah Dunia yang Tak Baik-Baik Saja

Emergency Broadcast: Ruang Darurat di Tengah Dunia yang Tak Baik-Baik Saja

Sabtu sore di Teater Asrul Sani, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, program Emergency Broadcast menayangkan enam film dari berbagai negara, yaitu Indonesia, Myanmar, Iran, Canada. Lebih dari sekedar film, enam judul ini merupakan kaca keseharian masyarakat yang mengangkat beragam tema sosial.

Setelah pemutaran, diskusi berlanjut membahas bagaimana kekerasan, represi, dan ketimpangan sosial masih mewarnai kehidupan di banyak ruang dan lapisan masyarakat.

Moderator Dea Anugrah membuka percakapan dengan pernyataan sederhana namun menggugah: “Dunia sedang tidak baik-baik saja. Pertanyaannya, bagaimana kita bisa tetap terlibat di dalamnya tanpa ikut hancur?” Kalimat itu menjadi pengantar yang tepat untuk menelusuri tema besar yang muncul dari film-film dalam program ini.

Wulan Putri, sutradara Tutaha Subang dari Project Multatuli, mengawali sesi dengan kisah tentang perempuan di kampungnya yang memperjuangkan hak atas tanah adat. Ia ingin menyorot perjuangan masyarakat tertindas di Papua yang melakukan perlawanan di luar cara-cara revolusioner, melalui sudut pandang seorang ibu yang menyampaikan pesan menyentuh kepada putrinya yang masih kecil. “Ketika tanah diambil, yang hilang bukan hanya sumber hidup, tapi juga memori kolektif,” ujarnya.
Project Multatuli sendiri, menurut Wulan, ingin memberi ruang lebih bagi kelompok yang termarjinalkan serta menghadirkan perspektif yang sering tidak dinarasikan oleh media arus utama.

Sementara itu, Indigo Gabriel lewat Geger Perikoloso mengajak penonton melihat kembali sejarah dari kacamata yang jarang diperbincangkan. Ia ingin memberi perspektif lain tentang PKI dan mematahkan mitos-mitos yang diciptakan oleh Orde Baru. “Kami tidak ingin membela PKI, tapi kami percaya diskusi politik yang produktif tidak akan lahir kalau masih ada mitos yang tidak benar,” ujarnya. Bagi Indigo, PKI bukanlah setan, melainkan bagian dari masyarakat yang memiliki budaya sendiri dan hasrat untuk bersenang-senang—sebuah upaya manusiawi yang kerap dihapus dari narasi sejarah resmi.

Eko Fitri Yulianto lewat Memories From Fire’s Chaos mengangkat isu sejarah dan represi politik. Ia memandang bahwa mengingat masa lalu adalah bentuk tanggung jawab sosial—cara untuk melawan lupa dan menjaga arah di tengah perubahan zaman. Bagi Eko, menghadirkan kembali ingatan bukan sekadar refleksi, melainkan tindakan perlawanan terhadap upaya penghapusan sejarah.

Ronna Nirmala dari Project Multatuli menghadirkan sudut pandang media dan kekuasaan. Ia menyoroti posisi kamera yang kerap berada di garis depan peristiwa, sekaligus menjadi sasaran ketika kekuasaan merasa terancam. “Kita gak bisa melindungi diri kita karena sistem sudah se-chaos ini. Aku sangat apresiasi dengan enam film yang ditayangkan tadi karena berhasil menangkap hal-hal yang jadi dampak dari sistem yang tidak terkontrol itu,” ujarnya.
Dalam pandangannya, jurnalis dan seniman memiliki peran penting sebagai penjaga ingatan publik. Ketika suara mereka dibungkam, yang hilang bukan sekadar berita atau karya, tetapi juga kesempatan bagi masyarakat untuk memahami kenyataan secara utuh.

Diskusi berlangsung terbuka. Sejumlah penonton mengajukan pertanyaan, salah satunya tentang kemungkinan melawan tanpa kekerasan. Dea menanggapi dengan mengaitkan peran warga sipil dalam memperluas solidaritas, menekankan bahwa menjaga agar percakapan tentang kekerasan dan ketimpangan tetap hidup adalah langkah penting untuk menumbuhkan kesadaran kolektif.

Usai pemutaran dan diskusi, yang tertinggal dari Emergency Broadcast bukan sekadar kesan tentang film, melainkan percakapan yang membuka cara pandang baru terhadap kekerasan dan keberanian di kehidupan sehari-hari. Forum ini mempertemukan pembuat film, jurnalis, dan penonton dalam ruang yang memungkinkan mereka saling mendengarkan dan menimbang ulang posisi masing-masing di tengah situasi sosial yang terus berubah.
Salah satu peserta menilai bahwa sesi seperti ini penting untuk menjaga hubungan antara film dan realitas sosial. “Film bisa jadi cermin, tapi diskusi seperti ini yang membuat pantulannya terasa hidup. Kita jadi tahu bagaimana cerita di layar berhubungan dengan apa yang kita alami sendiri,” ujar seorang penonton selepas acara.

Arga Arifwangsa | Iqbal Baskari

Artikel Terkait
Mengenal Sineas Muda Indonesia Lewat MTN Showcase di Jakarta Film Week

Article

Mengenal Sineas Muda Indonesia Lewat MTN Showcase di Jakarta Film Week
Read Now
Dopamin, Kisah Tentang Cinta di Dunia yang Semakin Gila

Article

Dopamin, Kisah Tentang Cinta di Dunia yang Semakin Gila
Read Now
Merawat Ekosistem, Menumbuhkan Jejaring: Talents Hub dan Lanskap Pembuat Film Muda Asia Tenggara

Article

Merawat Ekosistem, Menumbuhkan Jejaring: Talents Hub dan Lanskap Pembuat Film Muda Asia Tenggara
Read Now