140 Film dari 55 Negara: Daftar Pemenang Penghargaan di Jakarta Film Week 2024

Penutupan Jakarta Film Week 2024 berlangsung di CGV Grand Indonesia setelah lima hari acara dari 23 hingga 27 Oktober 2024, yang diadakan di tiga lokasi: CGV Grand Indonesia, Taman Ismail Marzuki, dan Mercure Hotel Cikini. Festival ini mengundang para pelaku perfilman Indonesia dan dirayakan sebagai perayaan film internasional yang diinisiasi oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta.

Jakarta Film Week 2024 telah menjadi ajang tahunan bagi sineas dan pecinta film di Indonesia. Oleh karena itu, acara penutupan ini menjadi momen spesial untuk memberikan penghargaan kepada para pemenang dalam enam kategori, yaitu Global Feature Award, Direction Award, Global Short, Global Animation, Jakarta Film Fund, dan Series of the Year.

Setelah proses seleksi dan penjurian yang ketat, Jakarta Film Week 2024 akhirnya mengumumkan para pemenang enam kategori. Dari ratusan film yang bersaing dari seluruh dunia, berikut adalah judul-judul yang berhasil meraih hati dewan juri. Tema film yang ditampilkan di Jakarta Film Week 2024 sangat beragam, dengan gaya visual dan narasi yang kaya. Dengan pertimbangan matang, berikut adalah pemenang pilihan juri yang karyanya tidak hanya menghibur tetapi juga menginspirasi.

Global Feature: Film “Memories of a Burning Body” karya Antonella Sudassasi Fruniss membawa penonton pada perjalanan emosional yang mendalam tentang kehilangan dan pencarian identitas. Film ini meraih penghargaan dalam kategori Global Feature Award.

Berikut adalah pernyataan dewan juri untuk kemenangan “Memories of a Burning Body”: “A film told through real testimonies, giving strength to all women and especially to those who never had the chance to open up before.”

Direction Award: Razka Robby Ertanto berhasil menciptakan film yang menginspirasi melalui sinematografi yang unik dan pendekatan berani terhadap isu sosial dalam film “Yohanna”. Kemenangannya dalam kategori Direction Award mengukuhkan pengakuan atas ide kreatifnya.

Dewan juri memberikan pernyataan: “This is a film that impressed the jurors with its direction. Through its beautiful and delicate visuals, we saw artistic value and international appeal with its narrative. The director balanced the main plot, which dealt with important issues, while telling sub-plots in a unique and unconventional way. We were also deeply moved by the performances of the cast, which could only be a product of good chemistry and direction.”

Global Short: Dengan durasi singkat, film “An Orphanage of Memories” karya Rayit Hashmat menyajikan kisah yang menyentuh tentang kenangan masa kecil. Film ini membuktikan bahwa cerita yang kuat dapat disampaikan dalam waktu singkat.

Berikut adalah catatan dewan juri untuk kemenangan “An Orphanage of Memories”: “A powerful tale of alterity, revealing the plight of a Muslim widow in Kashmir, featuring stunning photography, mise en scene, landscapes, environment, and symbolism.”

Global Animation: “It Shouldn’t Rain Tomorrow” karya Maria Trigo Teixeira bukan hanya sekadar animasi; film ini merupakan karya seni audio visual yang memukau. Dengan penceritaan yang penuh makna, film ini berhasil menyentuh hati dewan juri dan penonton dari segala usia.

Jakarta Film Fund: “If You’re Happy, I’m Happy” karya Mauliya Malia adalah film berdurasi singkat yang segar dan penuh harapan. Meskipun ringan, film ini tetap mampu menyentuh penonton. Hal ini juga diungkapkan oleh dewan juri dalam catatan mereka: “If You’re Happy, I’m Happy brings family drama that has universal elements with context. It’s complex, but told in simple ways – a heartfelt but unsentimental, universally appealing family drama.”

Series of the Year: Serial “Cinta Pertama Ayah” karya Harah Daeng Ratu menggambarkan relasi ayah dan anak yang indah, dan berhasil meraih penghargaan dalam kategori ini. Serial ini diterima baik oleh juri dan penonton Indonesia.

Dewan juri menyatakan: “This series delivered an edge-of-your-seat experience, complete with unexpected twists till the very end. The story was not only multi-dimensional and genre-blending but also delivered several moral values relevant across multiple age groups for a complete series.”

Selain pengumuman keenam kategori pemenang, ada kejutan spesial bagi para tamu undangan dan penonton di malam penutupan Jakarta Film Week 2024, yaitu pengumuman Special Mention. Film “Suzzanna: Queen of Black Magic” karya David Gregory dinyatakan sebagai film spesial oleh juri. Film ini tidak hanya menghidupkan kembali legenda Suzzanna, tetapi juga memberikan wawasan mendalam mengenai sejarah perfilman Indonesia.

Special Mention merupakan bentuk apresiasi juri terhadap kerja keras tim dalam menghasilkan film yang dapat mengomunikasikan pesannya dengan baik.

Dewan juri menyatakan: “This film could communicate a multitude of feelings, in which editing plays an important role in creating an exciting flow of information.”

Jakarta Film Week 2024 telah membuktikan bahwa film Indonesia yang dipilih melalui proses kurasi memiliki potensi besar untuk dikenal di kancah internasional. Dengan semakin banyak talenta muda di industri perfilman Indonesia, diharapkan industri ini akan terus menghasilkan karya-karya berkualitas yang mampu bersaing di tingkat global.

Nabila Dwiputri | Nanda Hadiyanti

Artikel Terkait
Mengenal Sineas Muda Indonesia Lewat MTN Showcase di Jakarta Film Week

Article

Mengenal Sineas Muda Indonesia Lewat MTN Showcase di Jakarta Film Week
Read Now
Dopamin, Kisah Tentang Cinta di Dunia yang Semakin Gila

Article

Dopamin, Kisah Tentang Cinta di Dunia yang Semakin Gila
Read Now
Merawat Ekosistem, Menumbuhkan Jejaring: Talents Hub dan Lanskap Pembuat Film Muda Asia Tenggara

Article

Merawat Ekosistem, Menumbuhkan Jejaring: Talents Hub dan Lanskap Pembuat Film Muda Asia Tenggara
Read Now