history, activism, social/political repression
Solo, Mei 1998. Kerusuhan terpecah, toko-toko dibakar, nyawa terancam, dan kekacauan menjalar. Di tengah kehancuran, seorang jurnalis foto, Sunaryo Haryo Bayu, tetap mengangkat kameranya; merekam sejarah sekaligus mencari kebenaran dan secercah harapan di tengah tragedi.
Eko Fitri Yulyanto, seorang pembuat film independen dari desa pertanian di Magetan, Indonesia. Film pertamanya di sekolah film yang mengangkat tentang kehidupan petani, membuka jalannya ke dunia independen dan industri film yang lebih luas. Baginya, sinema adalah ruang untuk memahami manusia dan kehidupan.