FAMILY TIME: Melihat Mimpi dan Potensi Dari Perspektif Anak

Jakarta, 25 Oktober 2026 — Berlangsung di penghujung Jakarta Film Week 2026, program Family Time mengusung dua film keluarga yang mengangkat isu terkini serta bagaimana proses mimpi itu dapat diraih berdasarkan sudut pandang anak-anak. Sejatinya, anak-anak memiliki banyak mimpi dan potensi, tetapi apabila lingkungan tidak mendukung, bagaimana anak akan berkembang? Acap kali, anak punya caranya sendiri untuk mewujudkan mimpi mereka—yang terkadang di luar ekspektasi orang dewasa.

Papaya (Brazil, 2026) mengkritisi isu penyelewengan sumber daya alam melalui kacamata sebutir biji pepaya kecil yang mencari segala cara supaya bisa terhindar dari bencana yang ada di hutan Amazon. Impiannya sederhana, ia ingin sekali bisa terbang. 

Berbeda genre tetapi turut mengusung mimpi, Forza (Indonesia, 2026) mengikuti kisah Bima, anak yang besar di suatu perkampungan di Bali. Memiliki bakat cemerlang di bidang sepak bola, salah satu klub bola ternama menyadari potensinya dan berniat untuk memberikan pelatihan layak bagi Bima. Tak hanya sang ibu, warga kampung tempat Bima tinggal juga mengerahkan dukungan terbaik untuk membantu Bima meraih mimpi. Namun, ketika gayung bersambut, ada sosok tak terduga yang nampaknya ingin menjegal mimpi tersebut.

Program Family Time menjadi salah satu program yang turut menutup perhelatan Jakarta Film Week mengingat pelaksanaannya diadakan di hari terakhir. Setelah penayangan Forza, produser Shierly Kosasih, Ghazi Alhabsyi, Atiqah Hasiholan, Tio Pakusadewo, dan Arie Kriting hadir dalam sesi Talks dan QnA untuk berinteraksi secara aktif dengan audiens. 

Sebagai film dengan skala besar (kolaborasi antara Indonesia dan Italia), proses keseluruhan produksi Forza memakan waktu hingga 4 tahun. Diwakilkan oleh produser dan para pemain, Marco Balsamo selaku sutradara Forza sangat terbuka untuk menerima umpan balik mengenai apapun, mulai dari perwatakan hingga dialog supaya cerita yang disampaikan terasa lebih dekat. Lalu dari segi teknis, ada salah satu adegan long take yang durasinya mencapai 15 menit. Ghazi masih ingat betul para pemain harus 25 kali take ulang demi mendapat adegan long take yang visualisasinya selaras dengan arahan sutradara Marco Balsamo sekaligus meraih gambaran yang tepat untuk representasi kehidupan di perkampungan. Namun, Shierly Kosasih menyampaikan berkat kerja keras dari semua pihak yang terlibat, hasil akhirnya sesuai dengan ekspektasi.

“Kru juga memakai handheld camera sehingga prosesnya juga challenging, but it paid off.”

Di akhir sesi Talks dan QnA, Shierly Kosasih secara resmi mengumumkan bahwa Forza dijadwalkan akan tayang secara luas tahun 2027!

Melihat antusiasme penonton yang konsisten dari awal hingga akhir film, tentunya Forza akan dinanti-nantikan tanggal resminya, terlebih belum begitu banyak film Indonesia yang mengangkat kisah anak-anak dengan latar belakang olahraga sehingga akan membawa angin segar dan meramaikan koleksi film yang ramah anak-anak dan inspiratif.

Writer: Khoirulia Ferdiani (Ulif)

Related Article