Directing Masterclass Neo Sora: Mengembangkan Gagasan Personal Menjadi Narasi Sinematik yang Sarat Isu Sosial-Politik

Jakarta, 23 Oktober — Neo Sora sutradara dan produser film yang berbasis di Tokyo dan New York mengisi sesi directing masterclass yang bertajuk “The Wonder of Ideas: A Masterclass with Neo Sora” salah satu program JFWNET Industry Program berkolaborasi dengan Japan Foundation di perhelatan Jakarta Film Week 2026. 

Belokasi di Teater Asrul Sani, Taman Ismail Marzuki, directing masterclass yang dimoderatori sutradara Tumpal Tampubolon dimulai dengan cerita dan pengalaman penyutradaraan Neo Sora. Bagi Neo Sora, film lahir dari pengamatan personal yang sederhana, lalu berkembang menjadi refleksi atas realitas sosial-politik, sejarah, dan budaya. Neo Sora menerjemahkan kompleksitas tersebut ke dalam penceritaan visual yang membutuhkan ketepatan teknis, kepekaan artistik serta pemahaman mendalam terhadap konteks yang melatarbelakangi cerita.

Pendekatan tersebut tercermin dalam karya-karya Neo Sora melalui film pendek maupun film panjang, ia mengolah berbagai tema, mulai dari imigrasi dan ingatan sejarah hingga perubahan antargenerasi, menjadi narasi yang tetap berpusat pada karakter. Karya-karyanya memperlihatkan bagaimana isu-isu kontemporer dapat diintegrasikan ke dalam cerita tanpa mengesampingkan kedalaman karakter dan kekuatan naratif.

Dalam masterclass ini Neo Sora turut mengulas proses kreatif di balik film Happyend (2024), termasuk bagaimana sebuah gagasan visual sederhana dapat berkembang menjadi cerita yang memuat persoalan sosial.

“Ketika membuat film saya memulai dari affect yang berasal dari pengalaman personal. Saya menggunakan berbagai teknik dalam sinema, pembuatan film, dan penceritaan untuk merekonstruksi dan menyusun kembali materi serta gagasan yang saya miliki menjadi sesuatu yang utuh dan koheren. Dengan begitu, penonton diharapkan meninggalkan bioskop dengan affect yang serupa dengan apa yang saya rasakan,” jelas Neo Sora dalam sesi wawancara.

Menurutnya, affect atau rasa dalam film adalah keseluruhan pengalaman yang dirasakan tubuh saat bersentuhan dengan sebuah film yang tidak sepenuhnya dapat diungkapkan melalui kata-kata, ini adalah tentang emosi film itu sendiri.

Salah satu peserta directing masterclass, Alexander Kusuma menceritakan alasan dirinya mengikuti kelas ini karena menyukai karya Neo Sora seperti film dokumenter Opus (2023) yang menceritakan ayahnya, Ryuichi Sakamoto dan film Happyend (2024).

“Saya cukup terkejut melihat perbedaan antara karya dokumenternya, film-film yang berkaitan dengan musik, dan film panjangnya. Hal yang paling menarik bagi saya adalah bagaimana ia mampu menuangkan begitu banyak gagasan ke dalam satu film dan merangkainya dengan sangat baik,” jelas Alexander usai sesi masterclass.

Alexander menuturkan ketika Jakarta Film Week 2025 mengadakan masterclass bersama Neo Sora, ia merasa terkejut sekaligus antusias.

“Meskipun Neo Sora bukan seorang pengajar secara profesional, ia memiliki cara tersendiri dalam membagikan pengetahuan. Ada kejujuran yang terasa dalam tulisan maupun caranya menyampaikan gagasan. Ia terkesan sungguh-sungguh ingin mendorong orang lain menjadi pembuat film, bukan menjatuhkan orang lain,” jelas Alexander.

Alexander berharap di Jakarta Film Week berikutnya sesi masterclass bisa lebih intens dan terus mendatangkan sineas profesional di bidangnya untuk membagi pengalaman film mereka.

Neo Sora dalam sesi wawancaranya berpesan kepada filmmaker yang baru akan memulai atau yang sudah memulai karir filmnya untuk mulai membuat buku catatan ide yang biasa ia sebut sebagai “Miso Notes”.

Menurut Neo Sora “Miso Notes” bisa berupa catatan yang berisi ide cerita, ide karakter, perilaku-perilaku kecil, atau bahkan sekadar daun yang tertiup angin, cahaya pada sore hari, dan hal-hal lainnya.

“Apa pun yang menurut kamu berpotensi menjadi “Miso” dari sebuah adegan atau film layak untuk dicatat dan diabadikan. Nantinya, ketika kamu memiliki gagasan untuk sebuah film, catatan-catatan miso tersebut bisa sangat berguna untuk menentukan bagaimana gagasan itu akan disampaikan,” jelasnya.

“Itulah yang saya lakukan, dan saya selalu menyarankan orang lain untuk melakukan hal yang sama,” tambah Neo Sora.

Penulis: Dwi AN

Related Article