Ada persahabatan yang berubah ketika pekerjaan mulai melibatkan uang. Ada keluarga yang harus menghadapi kenyataan ketika rahasia lama terbongkar. Ada pula perjalanan tumbuh dewasa yang mempertemukan seseorang dengan dirinya sendiri, sekaligus mengajarkannya tentang kehilangan dan hubungan yang perlahan berubah. Cerita-cerita semacam ini hadir dalam lima film yang berkompetisi di Direction Award Jakarta Film Week 2026, masing-masing dengan cara tersendiri dalam memandang kehidupan.
Direction Award merupakan penghargaan untuk kategori film panjang (feature film) dalam Jakarta Film Week yang mengapresiasi pencapaian penyutradaraan film panjang Indonesia. Penilaian program ini berfokus pada penyutradaraan, dengan tetap mempertimbangkan nilai produksi, nilai artistik, serta kemampuan film mengangkat isu penting, menarik, dan baru yang berpotensi menjangkau penonton dan pasar film internasional.
Tahun ini, lima film bersaing dalam kategori tersebut, yaitu Harga Teman karya Andrew Kose, Dua Hati Ibu (Our Son) karya Luhki Herwanayogi, Togel, Bandit, dan Nobody Loves Kay. Dari kelimanya, Nobody Loves Kay terpilih sebagai penerima Direction Award Jakarta Film Week 2026.
Film drama karya Bernardus Raka ini membawa penonton ke dunia kompetisi esports sekaligus mengikuti perjalanan tumbuh dewasa dengan segala kebahagiaan dan kepedihan yang menyertainya. Bagi dewan juri yang terdiri atas kritikus film Thailand Kong Rithdee, kritikus film Jessica Kiang, dan sutradara Indonesia Charles Gozali, kekuatan film ini terletak pada kemampuannya mengembangkan cerita yang spesifik menjadi pengalaman yang dapat dipahami secara lebih luas.
Dalam pernyataan resminya, para juri menyebut film tersebut mengesankan melalui potret coming-of-age yang tulus dan penuh energi, sekaligus menangkap kebahagiaan ketika tumbuh dewasa serta kepedihan saat hubungan mulai merenggang. Latar kompetisi esports yang spesifik berpadu dengan hubungan antarkarakter yang relevan secara universal. Para juri pun menyampaikan antusiasme untuk melihat perkembangan karya sang sutradara berikutnya.
Persahabatan yang diuji oleh keadaan juga menjadi inti Harga Teman, film panjang debut Andrew Kose. Ceritanya mengikuti Uji, seorang desainer grafis asal Dieng yang kehilangan pekerjaan impiannya di Jakarta. Bersama tiga sahabat, ia kemudian membangun agensi kreatif bernama SUBJEK. Namun, ketika persahabatan mulai bersinggungan dengan urusan bisnis, uang, dan tanggung jawab profesional, hubungan yang semula terasa sederhana perlahan menjadi lebih rumit.
Diproduseri Wregas Bhanuteja di bawah Rekata Studio, film berdurasi 117 menit ini diadaptasi dari novel Harga Teman: Design, Resign, Redesign karya Debora Danisa. Dibintangi Freya Jayawardana, Devano Danendra, Emir Mahira, Diandra Agatha, dan Vonny Anggraini, film ini memadukan komedi dan drama untuk menggambarkan kehidupan pekerja kreatif yang berusaha mempertahankan idealisme sekaligus memenuhi tuntutan hidup.
Bagi Andrew, dunia yang ia hadirkan dalam film ini bukan sesuatu yang sepenuhnya asing. Sebelum menjadi pembuat film, ia pernah bekerja sebagai fotografer dan di agensi kreatif. Pengalaman tersebut membuat cerita Harga Teman terasa dekat ketika ia membaca novel yang menjadi sumber adaptasinya.
“Gue pernah menghidupi itu sih. Sebelum jadi filmmaker, bertahun-tahun gue palu gada jadi fotografer, pernah di creative agency juga. Kebetulan pas baca bukunya, kerasa dekat banget sama pengalaman gue,” kata Andrew.
Bagi Debora, melihat ceritanya berpindah dari halaman buku ke layar menghadirkan pengalaman tersendiri. Ia mengaku hasil adaptasi tersebut melampaui ekspektasinya, terutama pada bagian akhir cerita yang menurutnya sesuai dengan visi awal saat menulis buku.
Dari dunia kerja kreatif, Dua Hati Ibu (Our Son) membawa penonton ke persoalan keluarga yang tidak selalu mudah dibicarakan. Film panjang pertama Luhki Herwanayogi ini berkisah tentang dua pasangan suami istri yang bersama-sama membesarkan seorang anak bernama Aryo. Situasi berubah ketika sebuah rahasia mengenai anak tersebut terungkap, memunculkan dilema sekaligus menggoyahkan kepercayaan di antara mereka.
Dibintangi Raihaanun, Della Dartyan, Iedil Dzuhrie Alaudin, Ariyo Wahab, dan Farrel Rafisqy, film ini menyoroti bagaimana keputusan dalam kehidupan pribadi dapat dipengaruhi oleh ekspektasi lingkungan. Di tengah konflik orang dewasa, kepolosan Aryo sesekali menghadirkan humor, memberi ruang bagi penonton untuk melihat situasi rumit tersebut dari sudut pandang berbeda.
Bagi Luhki, cerita film ini berangkat dari hal-hal yang ia amati dan temui di sekitarnya, termasuk persoalan sosial yang kerap muncul dalam percakapan publik tetapi tidak selalu dibicarakan secara terbuka.
“Ada satu masalah kultural yang memunculkan masalah lain, yaitu ikut campur urusan orang lain,” ujar Luhki.
Ia menyoroti bagaimana pertanyaan tentang kapan seseorang akan menikah dapat menjadi tekanan tersendiri. Pernikahan kerap dianggap sebagai jawaban atas rasa ingin tahu lingkungan sekitar, seolah-olah kehidupan akan berjalan lebih mudah setelahnya. Padahal, setiap keluarga memiliki persoalan yang tidak selalu terlihat dari luar.
Perjalanan Our Son menuju layar lebar juga terhubung dengan program pengembangan film Jakarta Film Week. Proyek ini dikembangkan melalui Producers Lab pada 2023, kemudian berlanjut ke Pitching Forum pada tahun berikutnya. Melalui program tersebut, tim bertemu dengan produser dan investor yang membantu mewujudkan filmnya. Setelah menjalani produksi pada 2025, Our Son akhirnya melakukan pemutaran perdana di Jakarta Film Week 2026.
Melalui Nobody Loves Kay, Harga Teman, dan Our Son, Direction Award tahun ini menghadirkan beragam pendekatan dalam bercerita. Ketiganya menjadi bagian dari lima film yang berkompetisi, dengan latar dan persoalan yang berbeda—mulai dari dunia esports, persahabatan di lingkungan kerja, hingga dinamika keluarga.
Sementara Bernardus Raka membawa pulang Direction Award melalui Nobody Loves Kay, film-film lain dalam kompetisi ini turut memperlihatkan perjalanan kreatif di balik layar, dari pengalaman personal yang menjadi sumber cerita hingga proses pengembangan proyek melalui program Jakarta Film Week.
Penulis: Iqbal Baskari & Arga Arifwangsa