Setiap pagi, ratusan ekor sapi digiring ke Tempat Pembuangan Akhir. Sapi-sapi ini menjadikan tempat tersebut seperti rumah sendiri; mereka makan, tidur siang, dan kawin di sini, sembari harus tetap menjaga diri agar aman dari alat berat yang lalu-lalang di sekitar lokasi. Jika tidak berhati-hati, seekor sapi bisa kehilangan nyawanya, tertabrak mesin berat atau tertimbun sampah. Praktik ini telah berlangsung selama bertahun-tahun karena pemiliknya tidak perlu repot mencari rumput dan justru mengandalkan limbah makanan manusia untuk memberi makan ternak mereka.
Beberapa sapi cukup beruntung memiliki kandang untuk pulang pada sore hari, sementara sebagian lainnya harus menghabiskan malam di TPA karena pemiliknya tinggal jauh dari lokasi. Bagaimanapun juga, semua sapi pemakan sampah ini akan mengalami nasib yang sama di bawah pisau jagal.
David Darmadi adalah lulusan Televisi dan Film ISI Padangpanjang (2014) dan pendiri Komunitas Sarueh. Dari 2016 hingga 2018, ia memproduksi 23 "Daily Documentary", termasuk Jembatan Sibuk yang terpilih di FFD Yogyakarta dan Arkipel.
Lidia Afrilita berlatar belakang dokumenter, linguistik, dan pendidikan. Karya pertamanya, Padang In Carnival (2010), telah diputar di kancah lokal dan internasional.
Keduanya berkolaborasi dalam film Diary of Cattle (2018) yang sukses meraih penghargaan Tribeca Film Institute, tayang perdana di Visions Du Réel 2019, dan diputar di lebih dari 60 festival film dunia.