Program-program di Bawah Payung JFW NET – Industri Program Jakarta Film Week 2024, Mendukung Keberlanjutan Industri Film Indonesia dan Global

Jakarta, 4 November 2024 – Setelah sukses diselenggarakan pada 23-27 Oktober 2024, Jakarta Film Week mempertegas komitmennya dalam mendukung keberlanjutan industri film Indonesia dan global. Melalui payung program JFW NET, festival ini merancang berbagai program berkelanjutan untuk memfasilitasi kolaborasi dan pengembangan kemampuan bagi sineas lokal, dengan harapan mampu mendorong industri film Indonesia menuju kancah internasional.

Gayatri Nadya, Festival Manager Jakarta Film Week, menekankan pentingnya JFW NET sebagai pusat kolaborasi, “program-program JFW NET bertujuan mendorong dan memperkuat sirkulasi industri film sekaligus menjadi hub bagi pelaku film, untuk memperluas potensi kolaborasi nasional dan internasional. Kami berharap keberlanjutan dari setiap program ini akan membawa sineas Indonesia ke panggung global melalui pengembangan kapasitas yang berkelanjutan,” jelasnya. Gayatri juga mengungkapkan harapannya untuk Jakarta Film Week dan JFW NET di tahun mendatang agar semakin tajam, berkelanjutan, dan memberi manfaat bagi semua pihak yang terlibat dalam ekosistem film.

Producers Lab dan Pitching Forum

Program Producers Lab menjadi salah satu inti JFW NET dengan misi memberikan pelatihan intensif kepada produser muda Indonesia. Dalam program ini, peserta mendapatkan pendampingan dari mentor internasional berpengalaman, yang membimbing mereka dalam pengembangan proyek dari segi kreatif maupun strategis. Tiga produser terpilih dari Producers Lab berkesempatan mengikuti Platform Busan di Busan International Film Festival 2025, sedangkan satu produser lainnya memperoleh Development Grant untuk mendukung proses pengembangan proyek. Producers Lab membuka jalan bagi sineas lokal untuk memperluas jejaring internasional serta mengasah keterampilan di pasar global.

tahun ini telah terpilih 3 Selected Participants Producers Lab yang mendapatkan kesempatan untuk menghadiri Platform Busan di Busan International Film Festival 2025, mereka adalah:

  • Push Rank – Produser: Andreas B. Sihombing
  • To My Dearest, My Dear – Produser: Bela Nabila
  • Resepsi Pertama Bapak – Produser: Wildan Aji Gumelar

Pemenang Development Grant diberikan kepada proyek Father Figure yang diproduseri oleh Muhammad Athhar Amputra yang akan mendapatkan bantuan pendanaan untuk pengembangan proyeknya.

Selain Producers Lab, Pitching Forum yang didukung oleh Direktorat Film, Musik, dan Media Kementerian Kebudayaan serta Manajemen Talenta Nasional turut memberikan peluang bagi sineas muda. Dalam forum ini, lima proyek mendapatkan dukungan berupa Development Grant dan Talent Development Grant, yang membantu para pembuat film dalam memajukan proyek mereka. Pitching Forum menjadi jembatan penting bagi proyek film Indonesia untuk berkembang di pasar yang lebih luas dan memperluas jangkauan distribusi film nasional.

Berikut daftar proyek penerima penghargaan:

  • Talent Development Grant:
      • Maria – Filmmaker: Manuel Alberto Maia, Damar Ardi, Perlita Desiani
      • Happy Happy Family – Filmmaker: Andrew Kose, Evi Cecilia
  • Development Grant:
    • The Heirlooms – Filmmaker: Devina Sofiyanti, Giovanni Rahmadeva
    • First Breath After Comma – Filmmaker: Jason Iskandar, Florence Giovani Chandra
    • Senior’s Spells – Filmmaker: Hilman Mutasi, Robby UI Pratama

Program Lain di Bawah JFW NET untuk Mendukung Ekosistem Film

Di samping Producers Lab dan Pitching Forum, JFW NET menghadirkan program-program yang memperkaya pengetahuan dan keterampilan peserta, seperti Masterclass, Industry Talks, Producers Network, Business Forum, hingga Festival Meeting

Program Masterclass di Jakarta Film Week merupakan salah satu acara unggulan yang menawarkan pembelajaran mendalam dalam berbagai aspek produksi film, seperti penulisan naskah (scriptwriting), penyutradaraan (directing), dan editing. Sesi Scriptwriting diisi oleh Kim Min Ha, sutradara Idiot Girls and School Ghost: School Anniversary, yang berbagi tentang teknik penulisan menggunakan analogi unik, yakni menyandingkan karakter seperti permen mentos yang bertemu soda, menghasilkan kisah yang meledak dan memikat penonton. Sesi Directing dibawakan oleh Sabrina Rochelle dari Indonesia dan Ho Miu Ki sutradara Love Lies, kolaborasi dengan Hong Kong Economic and Trade Offices (HKETO), serta sesi Editing diisi oleh Nick Cheuk yang juga berperan sebagai sutradara film Time Still Turns The Pages dan Kelvin Nugroho dari Asosiasi Film Editor Indonesia (INAFEd). Kolaborasi ini memperkaya wawasan para peserta dengan praktik dan teori sinematik dari perspektif global dan lokal​.

Industry Talks tahun ini menghadirkan ASEAN Regional Workshop on Creative Economy, sebuah diskusi komprehensif mengenai peran komisi film dan festival dalam mendukung industri kreatif di Asia Tenggara. Sesi pertama, bertema Film Commission: Strengthening the Ties Between the City and the Film Industry, menghadirkan perwakilan dari komisi film Busan, Tokyo, Quezon City, dan Yogyakarta. Sesi kedua, bertajuk Film Festivals as Gateways: Maximizing Opportunities in Southeast Asia, mengeksplorasi inisiatif penting dari berbagai festival film Asia yang mendukung pertumbuhan industri film lokal. Para panelis menyoroti pentingnya kebijakan yang melindungi pekerja film, serta membangun ekosistem film Asia yang lebih mandiri dari pasar Barat. Diskusi ini menguatkan komitmen untuk memperkuat posisi perfilman Asia di panggung global.

Sementara itu, Producers Network merupakan platform penting di JFW yang bertujuan mempertemukan produser film, investor, dan pemangku kepentingan lainnya. Dalam kolaborasi dengan Adhya Pictures dan Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI), acara ini menyediakan ruang eksklusif bagi para undangan untuk memperluas jaringan profesional mereka. Melalui diskusi dan presentasi proyek, sineas muda Indonesia berkesempatan memperkenalkan proyek mereka ke pasar internasional. Adhya Pictures dalam acara ini juga mempresentasikan beberapa proyek mendatang, seperti Forza dan Yakin Nikah, yang dijadwalkan tayang pada 2025​.

Kegiatan lainnya, Business Forum juga hadir di Jakarta Film Week. Diselenggarakan bersama Dirjen Perfilman, Musik, dan Media (PMM) Kemendikbud Ristek, Business Forum membuka ruang kolaborasi antara produser film dan pelaku bisnis dengan tujuan mengeksplorasi peluang co-produksi dalam industri film nasional. Forum ini membahas berbagai skema co-produksi dan dinamika pasar film di Indonesia, serta membahas cara-cara meningkatkan kualitas produksi melalui kolaborasi strategis. Peluang-peluang ini bertujuan memperluas jangkauan distribusi film Indonesia di pasar global, yang semakin diminati oleh sineas dan mitra bisnis internasional sebagai langkah memperluas penetrasi film Indonesia 

Terakhir, Festival Meeting diselenggarakan sebagai salah satu program di bawah payung JFW NET yang mengedepankan kolaborasi internasional dan pembelajaran antar-festival film di kawasan Asia Tenggara dan sekitarnya. Dalam program ini, perwakilan dari berbagai festival film, seperti Indonesia, Filipina, Singapura, Vietnam, Korea Selatan, dan Thailand, berkumpul untuk bertukar ide, strategi, dan pengalaman dalam mengembangkan serta mempertahankan keberlanjutan festival.

Selama berlangsungnya Festival Meeting, beragam topik krusial dibahas, dimulai dengan pemaparan Festival Director Rina Damayanti mengenai perkembangan dan pencapaian Jakarta Film Week sejak 2021, termasuk peningkatan jumlah penonton, kolaborasi internasional, serta dukungan terhadap sineas muda yang membantu memperkuat posisi festival di tingkat regional. Diskusi juga mencakup peran dan tantangan yang dihadapi pemerintah, seperti di Indonesia dan Thailand, dalam mendukung industri film di tengah perubahan kebijakan yang dapat memengaruhi dukungan festival. Pentingnya kolaborasi lintas festival menjadi fokus, dengan pembelajaran dari Singapura dan Korea Selatan yang memiliki infrastruktur festival kuat sebagai referensi berharga untuk keberlanjutan acara.

Pembinaan bakat melalui program seperti Talent Hub dan rencana peluncuran Film Market juga menjadi topik utama untuk memberikan peluang lebih besar bagi sineas muda berkiprah di kancah internasional. Gagasan pengembangan Film Market dan Talent Hub ini diharapkan dapat mempertemukan talenta lokal dengan produser, distributor, dan investor internasional, menarik lebih banyak kolaborasi untuk masa depan industri film.

Melalui Festival Meeting, Jakarta Film Week berharap dapat memperkuat ekosistem film di Asia Tenggara dengan memperluas kolaborasi antar-festival dan mendukung pembinaan sineas muda yang siap bersaing di kancah internasional. Program ini mencerminkan komitmen Jakarta Film Week untuk terus menjadi penghubung yang mendukung pertumbuhan industri film secara berkelanjutan

Harapan untuk Jakarta Film Week 2025: Inovasi dan Perluasan Program

Dengan keberlanjutan JFW NET, Jakarta Film Week optimis bahwa program-programnya akan semakin mendukung para sineas Indonesia untuk tampil di tingkat internasional. Harapannya, penyelenggaraan tahun depan akan menghadirkan inovasi-inovasi baru yang semakin relevan bagi perkembangan industri film di Indonesia, baik melalui peningkatan kualitas program, kolaborasi baru, maupun peningkatan jumlah peserta internasional.

Festival ini telah membuktikan komitmennya sebagai hub kreatif yang mempertemukan berbagai elemen industri film, baik nasional maupun global, serta memberikan ruang kolaborasi yang luas bagi sineas muda Indonesia. Jakarta Film Week akan terus mendukung pengembangan industri film yang berkelanjutan dan membawa perfilman Indonesia ke panggung internasional.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai Jakarta Film Week, kunjungi www.jakartafilmweek.com dan ikuti kami di media sosial @jakartafilmweek. Sampai jumpa tahun depan!

***

Artikel Terkait
Hong Kong Film Gala Presentation: Menyapa Penonton Indonesia di Jakarta Film Week 2025

Press Release

Hong Kong Film Gala Presentation: Menyapa Penonton Indonesia di Jakarta Film Week 2025
Read Now
Jakarta Film Week 2025: Dopamin Jadi Film Penutup, The Devil Smokes dan Crocodile Tears Sabet Penghargaan

Press Release

Jakarta Film Week 2025: Dopamin Jadi Film Penutup, The Devil Smokes dan Crocodile Tears Sabet Penghargaan
Read Now
Hari Keempat Jakarta Film Week 2025: Dari Masterclass, Herstory, hingga Isu Sosial di Emergency Broadcast

Press Release

Hari Keempat Jakarta Film Week 2025: Dari Masterclass, Herstory, hingga Isu Sosial di Emergency Broadcast
Read Now