Emergency Broadcast Jakarta Film Week 2026, Saat Cerita Menjadi Bentuk Perlawanan

Ketika suara dibatasi, cerita bisa menemukan jalan lain untuk sampai kepada publik. Sebuah film dapat merekam ketakutan yang sulit diungkapkan, sementara sebuah laporan jurnalistik dapat menjaga pengalaman korban agar tidak hilang dari ingatan. Gagasan tentang bagaimana suara tetap bertahan di tengah represi menjadi salah satu benang merah program Emergency Broadcast di Jakarta Film Week 2026.

Memasuki penyelenggaraan tahun keduanya, Emergency Broadcast menghadirkan lima film dari Indonesia, Filipina, Iran, dan Prancis di Teater Asrul Sani, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Program ini kemudian berlanjut ke diskusi yang mempertemukan pembuat film, jurnalis, dan penonton untuk membicarakan kekuasaan, akuntabilitas, serta pentingnya menyampaikan kebenaran di tengah situasi sosial dan politik yang penuh tekanan.

Lima film yang diputar menghadirkan kisah dan pendekatan berbeda. Ada dokumenter pendek Perfected Grammar (2024) karya Andrea Suwito dari Indonesia, The Question (2026) karya Alberto Segre dari Prancis, City’s Laundry and Taxes (2025) karya Diana Galang dari Filipina, Raha (2025) karya Mohammad Mozafari dari Iran, serta The Silence Lives Here (2026) karya Yasmin S. Kinasih dari Indonesia. Setelah pemutaran, diskusi yang dimoderatori jurnalis Project Multatuli, Permata Adinda, membuka ruang untuk membicarakan bagaimana film dan jurnalisme dapat merespons persoalan hak-hak sipil dan pengalaman mereka yang terdampak ketidakadilan.

Bagi Yasmin S. Kinasih, yang menulis sekaligus menyutradarai The Silence Lives Here, film menjadi salah satu cara untuk merespons keresahannya terhadap kondisi Indonesia yang menurutnya terus diwarnai persoalan. Ketika menyampaikan sesuatu secara langsung tidak selalu mudah, karya seni dapat menjadi medium alternatif untuk mengungkapkan hal-hal yang sulit diucapkan.

“Setiap seniman punya bahasanya sendiri untuk menyampaikan pesan melalui karya. Ketika kita berada dalam ruang yang sama dan melihat karya tersebut, kita bisa saling memahami apa yang ingin disampaikan. Menurutku, di situlah letak kekuatan seni, kita tetap bisa berbicara bahkan ketika tidak bisa mengungkapkannya secara langsung,” jelas Yasmin.

Pengalaman membuat Raha juga memperlihatkan bagaimana sebuah film dapat berangkat dari percakapan personal, lalu berkembang menjadi upaya merekam situasi yang lebih luas. David Baskara, penulis bersama sekaligus produser film tersebut, bercerita bahwa proyek ini bermula ketika ia bertemu dengan sutradara Mohammad Mozafari, yang akrab disapa Moyes, di Praha. Dalam pertemuan itu, Moyes banyak bercerita tentang situasi di Iran.

Dari percakapan tersebut, mereka berupaya mengumpulkan sumber daya untuk mendukung produksi film. David menjelaskan bahwa Raha didedikasikan bagi para korban rezim Iran, termasuk perempuan, anak-anak, dan laki-laki yang terdampak sistem kontrol represif di negara tersebut.

“Sejak awal, Moyes memang banyak bercerita tentang Iran dan situasi yang sedang terjadi. Kami kemudian berusaha mengumpulkan sumber daya yang dibutuhkan untuk mendukung produksi film tersebut. Film ini juga didedikasikan bagi para korban rezim Iran, bukan hanya perempuan, tetapi juga anak-anak dan laki-laki yang turut terdampak oleh sistem kontrol represif di negara tersebut,” ungkap David.

Persoalan tentang siapa yang mendapat ruang untuk bersuara juga menjadi bagian penting dari pembicaraan mengenai jurnalisme. Dalam diskusi tersebut, Luviana Ariyanti, jurnalis senior sekaligus pendiri dan pemimpin redaksi Konde.co, membagikan pengalamannya selama 35 tahun berkecimpung di dunia jurnalistik. Perjalanan itu membawanya melewati berbagai periode politik Indonesia, dari masa pemerintahan Soeharto hingga pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Bagi Luviana, jurnalisme bukan hanya tentang mencatat peristiwa atau mewawancarai orang-orang yang memiliki kekuasaan. Pengalaman mereka yang berhadapan langsung dengan ketidakadilan juga perlu didengar dan didokumentasikan. Ketakutan, pengalaman, serta perjuangan korban perlu mendapat tempat agar cerita mereka tidak tercecer atau terlupakan.

“Saya belajar bahwa ketakutan perlu dibagikan agar cerita tidak tercecer dan hilang. Narasumber penting bukan hanya orang terkenal atau pemegang kebijakan, tetapi juga mereka yang mengalami langsung ketidakadilan. Karena itu, kita perlu mendengarkan dan mencatat perjuangan mereka, meski tidak memiliki kekuasaan,” ujar Luviana.

Bagi penonton, persoalan yang muncul dalam film dan diskusi tersebut bukan sesuatu yang sepenuhnya jauh dari kehidupan mereka. Yolanni, mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS), melihat Emergency Broadcast sebagai ruang untuk memahami persoalan hak asasi manusia dan represi politik yang masih relevan hingga kini.

Ia merasa ada ironi ketika persoalan yang dibicarakan dalam film-film tersebut masih terasa dekat dengan keadaan sekarang, meskipun sebagian berakar pada pengalaman dari masa lalu. Pengalaman mengikuti program ini juga mendorongnya untuk membagikan perspektif yang diperoleh kepada orang-orang di sekitarnya.

“Menurutku, ini sesuatu yang menarik, tetapi juga ironis. Kenapa pada tahun 2026 kita masih merasa relate dengan kondisi yang terjadi berpuluh-puluh tahun lalu? Tekanan dan represi seolah masih terus berulang. Kadang aku jadi bertanya-tanya, sebenarnya kita sudah benar-benar mengalami reformasi belum sih, kalau ternyata kita masih menghadapi ketakutan yang sama?” kata Yolanni.

Pertanyaan Yolanni memperlihatkan salah satu hal yang membuat cerita tentang represi tetap relevan untuk dibicarakan: pengalaman dari masa lalu dapat kembali terasa dekat ketika persoalan serupa masih ditemukan pada masa kini. Dalam Emergency Broadcast, film, pengalaman pembuat karya, dan perspektif jurnalis bertemu dalam satu ruang diskusi, membuka kesempatan bagi penonton untuk menyimak berbagai cara dalam merekam ketidakadilan, menjaga ingatan, dan menyampaikan suara yang kerap terabaikan.

Penulis: Dwi AN & Arga Arifwangsa

 

Related Article
FAMILY TIME: Melihat Mimpi dan Potensi Dari Perspektif Anak

article

FAMILY TIME: Melihat Mimpi dan Potensi Dari Perspektif Anak
Read Now
Emergency Broadcast Jakarta Film Week 2026, Saat Cerita Menjadi Bentuk Perlawanan

article

Emergency Broadcast Jakarta Film Week 2026, Saat Cerita Menjadi Bentuk Perlawanan
Read Now
LAYAR INDONESIANA: Tanah Air dan Serangkaian Tantangan dan Rasa yang Dihadapi

article

LAYAR INDONESIANA: Tanah Air dan Serangkaian Tantangan dan Rasa yang Dihadapi
Read Now