Delapan Film, Delapan Cerita Tentang Kota Jakarta Lewat Jakarta Film Fund 2026 dan JFF For Student

Jakarta, 23 Oktober 2026 — Jakarta bukan hanya gedung-gedung tinggi, jalanan padat, atau hiruk-pikuk kehidupan perkotaan. Di balik itu, ada cerita tentang ruang bermain yang semakin sempit, sungai yang tercemar, kehilangan, hingga pergulatan manusia menghadapi perubahan lingkungan. Lima film pendek dari Jakarta Film Fund (JFF) 2026 membawa kisah-kisah tersebut ke layar lebar, mengajak penonton melihat Jakarta dari sudut pandang yang lebih dekat dengan kehidupan warganya.

Sebanyak 194 penonton menyaksikan pemutaran perdana kelima film tersebut di CGV Grand Indonesia pada Kamis (22/10). Pemutaran kedua berlangsung di Teater Sjuman Djaya pada Jumat (23/10) dan dihadiri 46 penonton. Kelima film ini berkompetisi untuk memperebutkan Jakarta Film Fund Award.

Melalui The Year Without Summer karya Rayhan Dharmawan, panas ekstrem dan kebakaran di Tambora, Jakarta Barat, menjadi latar kisah Uus, seorang sarjana yang masih menganggur dan mendesak kakaknya, Surya, untuk pindah ke Jepang. Ketika Surya memilih bertahan membantu warga, Uus mulai mempertanyakan kemarahan dan keterasingannya terhadap kampung halaman.

“Kami berusaha menangkap cerita tentang apa yang sekarang terjadi di Tambora, Jakarta Barat, serta isu kebakaran hutan dan lahan. Film ini merupakan bentuk kolaborasi bersama anak-anak kreatif Tambora,” ujar Rayhan.

Persoalan lingkungan juga hadir dalam Seethe karya David Darmadi. Melalui Aci, murid silat berusia 14 tahun yang berusaha melindungi ayahnya, film ini menghadirkan Roh Penjaga Sungai Ciliwung sebagai respons terhadap kebiasaan membakar dan membuang sampah ke sungai.

Sementara itu, Tendangan Bebas karya Adam Nur Firman membawa penonton pada pengalaman masa kecil: bermain sepak bola. Muhammad Ronaldo, tujuh tahun, bermimpi menjadi pesepak bola hebat, tetapi keterbatasan ruang membuatnya dan teman-temannya harus mencari lapangan untuk bermain.

“Waktu kecil kita nggak pernah mikirin soal pembangunan yang semakin padat dan tidak ada ruang, ya kita main saja di jalan. Namun, semakin dewasa kita jadi mikirin hal-hal seperti itu,” kata Adam, yang mengangkat persoalan minimnya ruang bermain anak berdasarkan pengalamannya sendiri.

Jakarta juga menyimpan cerita di wilayah kepulauannya. Dalam On a Bright Blessed Day, sutradara Hadafi Raihan Karim mengikuti Gita, perempuan dari Kepulauan Seribu yang harus menghadapi ketakutannya terhadap laut. Produser Devi Fahmi Indriyani, yang tumbuh di pulau, ingin menghadirkan perspektif perempuan yang kerap luput dari perhatian.

“Saya melihat karakter Gita sebagai perempuan yang perlu dilihat dan didengar meski punya rasa takut dan traumanya,” ujar Devi.

Adapun First Step karya Jessica Rai mengisahkan Tan Man Moy, perempuan berusia 68 tahun yang belajar menghadapi kehilangan adiknya melalui komunitas line dance lansia di Petak Enam. Terinspirasi dari kisah neneknya sendiri, Jessica ingin mengangkat pertanyaan tentang bagaimana manusia melanjutkan hidup setelah kematian orang terdekat.

JFF for Student: Melihat Jakarta dari Kacamata Pelajar

Pada Sabtu (24/10), Teater Sjuman Djaya menjadi ruang bagi generasi muda untuk menyampaikan cerita tentang Jakarta melalui program Jakarta Film Fund for Student. Tiga film yang diputar, Satu Bungkus, Tabungan yang Dimakan Waktu, dan Sirkularitas, mengangkat persoalan pertemanan, perjuangan ekonomi keluarga, serta harapan melanjutkan pendidikan.

Dalam Satu Bungkus karya Geraldine Ghifania, Bella, seorang siswi pindahan, belajar menemukan kebersamaan di tengah perbedaan setelah insiden penjambretan di Glodok. Sementara itu, Tabungan yang Dimakan Waktu karya Angel Crasida mengikuti perjuangan seorang siswa SMA menghadapi tabungan kuliahnya yang rusak. Melalui Sirkularitas karya Darrel Islami Pasha, penonton diajak melihat kehidupan Putri di kawasan pesisir Jakarta yang dipenuhi cangkang kerang, ketika ia mengambil alih pekerjaan ibunya yang sakit dan perlahan menghadapi siklus kehidupan yang sama.

Kehadiran program ini memperluas ruang bagi generasi muda untuk merekam kehidupan kota melalui pengalaman mereka sendiri.

Joule, salah satu penonton pemutaran kedua JFF reguler, mengapresiasi keberanian para sineas mengangkat persoalan nyata Jakarta.

“Pembahasannya juga selalu soal ruang, padahal ruang di Jakarta itu luas tapi kenyataannya terbatas dan kesenjangannya sangat terlihat jelas,” ujarnya.

Melalui Jakarta Film Fund dan JFF for Student, Jakarta Film Week membuka kesempatan bagi sineas dari berbagai tahap perkembangan untuk menyuarakan gagasan mereka. Dari Tambora hingga Kepulauan Seribu, cerita-cerita ini mengingatkan bahwa memahami Jakarta berarti mendengarkan pengalaman orang-orang yang hidup di dalamnya.

Penulis: Arga Arifwangsa & Dwi NA

 

Related Article
Emergency Broadcast Jakarta Film Week 2026, Saat Cerita Menjadi Bentuk Perlawanan

article

Emergency Broadcast Jakarta Film Week 2026, Saat Cerita Menjadi Bentuk Perlawanan
Read Now
LAYAR INDONESIANA: Tanah Air dan Serangkaian Tantangan dan Rasa yang Dihadapi

article

LAYAR INDONESIANA: Tanah Air dan Serangkaian Tantangan dan Rasa yang Dihadapi
Read Now
Delapan Film, Delapan Cerita Tentang Kota Jakarta Lewat Jakarta Film Fund 2026 dan JFF For Student

article

Delapan Film, Delapan Cerita Tentang Kota Jakarta Lewat Jakarta Film Fund 2026 dan JFF For Student
Read Now