Next Step Studio Indonesia, Dari Cannes ke Indonesia, Empat Sutradara Muda Indonesia Suarakan Gagasan Lewat Film Omnibus

Empat cerita tentang agama, trauma keluarga, disabilitas, dan kekerasan dalam rumah tangga hadir dalam satu layar melalui film omnibus Next Step Studio Indonesia. Diputar di CGV Grand Indonesia dalam rangka Jakarta Film Week 2026, Kamis (22/10), film ini membawa penonton menyelami realitas kehidupan masyarakat Asia Tenggara melalui pendekatan sinematik yang memadukan keseharian dan surealisme.

Pemutaran ini menjadi kesempatan pertama bagi penonton Indonesia untuk menyaksikan film-film tersebut setelah penayangan perdananya di La Semaine de la Critique (Cannes Critics’ Week), Festival Film Cannes, Prancis, pada 14 Mei 2026. Diproduksi KawanKawan Media, proyek kolaborasi Indonesia dan Prancis ini mempertemukan delapan sutradara dari Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya.

Empat film pendek dalam omnibus ini menawarkan perspektif berbeda terhadap persoalan sosial. Holy Crowd (2026), garapan Reza Fahriyansyah dan Ananth Subramaniam, mengikuti kehebohan sebuah desa setelah Ratna bangkit dari kematian saat pemakamannya. Peristiwa tersebut mengundang perhatian warga, pencari keuntungan, hingga pemuka agama.

Sementara itu, Original Wound (2026) karya Shelby Kho dan Sein Lyan Tun menyoroti dua saudara yang berusaha berdamai dengan ingatan berbeda tentang ibu mereka. Dalam Annisa (2026), Reza Rahadian dan Sam Manacsa mengisahkan seorang remaja tunanetra yang berusaha menemukan tempatnya di tengah komunitas yang kerap mengabaikan keberadaannya. Adapun Mothers Are Mothering (2026), karya Khozy Rizal dan Lam Li Shuen, mengeksplorasi pengalaman seorang perempuan yang terjebak dalam pernikahan penuh kekerasan, ketika ingatan, hasrat, dan halusinasi mulai bercampur.

Di balik keberagaman cerita tersebut, kolaborasi menjadi benang merah yang menyatukan proyek ini. Dalam sesi tanya jawab seusai pemutaran, produser Yulia Evina Bhara menjelaskan bahwa pemilihan sutradara mempertimbangkan pengalaman festival dan rekam jejak penyutradaraan film panjang mereka.

Pasangan kolaborasi juga dibentuk berdasarkan kesamaan minat dan pendekatan kreatif. Reza Rahadian, yang juga dikenal sebagai aktor, dipasangkan dengan Sam Manacsa, yang memiliki pengalaman sebagai penata artistik. Sementara Shelby Kho dan Sein Lyan Tun dipertemukan melalui kekuatan mereka dalam menggarap drama.

Bagi Reza Fahriyansyah, ide Holy Crowd berangkat dari kisah seorang tukang kayu yang tanpa sengaja melukis wajahnya sendiri menyerupai Yesus. Kisah tersebut mengingatkannya pada fenomena Ponari dan mendorongnya bersama Ananth untuk mengeksplorasi hubungan masyarakat, agama, dan pihak-pihak yang mengambil keuntungan dari kepercayaan publik.

“Kami memiliki kesamaan minat untuk mengulik persoalan itu dengan cara yang menyenangkan dan lucu,” ujar Reza.

Eksplorasi bentuk sinematik menjadi perhatian Khozy Rizal dalam Mothers Are Mothering. Berangkat dari sinopsis satu halaman tentang ibunya, cerita yang semula dirancang sebagai komedi hitam berkembang menjadi perpaduan komedi hitam dan fiksi ilmiah.

“Rekan sutradara saya banyak memberikan umpan balik dan mengusulkan adegan-adegan yang perlu dieksplorasi secara eksperimental,” kata Khozy. Salah satunya adalah adegan dialog yang sengaja dibuat menyerupai sinetron.

Di sisi lain, Annisa berakar dari pertemuan nyata Reza Rahadian dengan seorang remaja tunanetra bernama Annisa saat proses produksi film Laut Bercerita. Produser Nazira C. Noer mengungkapkan bahwa keinginan Annisa untuk menjadi penyanyi membekas dalam ingatan Reza dan kemudian berkembang menjadi gagasan film. Proses produksinya pun menjadi pengalaman tersendiri, termasuk saat mengarahkan Annisa dalam adegan yang membutuhkan pengulangan fisik.

Bagi Yulia, proyek ini merupakan ruang untuk membuka kemungkinan baru melalui pertemuan lintas negara dan lintas disiplin. Ia berharap film-film tersebut tidak berhenti pada pemutaran festival, tetapi dapat menjangkau lebih banyak penonton Indonesia.

“Film-film ini merupakan upaya kecil kami untuk terus bebas berkarya, memulai hal baru, dan berkontribusi bersama,” tuturnya.

Melalui Jakarta Film Week 2026, perjalanan Next Step Studio Indonesia berlanjut dari panggung internasional menuju penonton di rumah sendiri—membuka ruang bagi cerita-cerita Asia Tenggara untuk saling bertemu, berdialog, dan menemukan audiens yang lebih luas.

Penulis: Dwi AN

 

Artikel Terkait
GLOBAL SHORT OFFICIAL SELECTIONS: Manusia dan Perjalanan Tanpa Henti dalam Pencarian Makna Hidup

Article

GLOBAL SHORT OFFICIAL SELECTIONS: Manusia dan Perjalanan Tanpa Henti dalam Pencarian Makna Hidup
Read Now
Directing Masterclass Neo Sora: Mengembangkan Gagasan Personal Menjadi Narasi Sinematik yang Sarat Isu Sosial-Politik

Article

Directing Masterclass Neo Sora: Mengembangkan Gagasan Personal Menjadi Narasi Sinematik yang Sarat Isu Sosial-Politik
Read Now
GJLS: Berapi-Api, Ketika Tawa dan Persahabatan Menyala Bersamaan

Article

GJLS: Berapi-Api, Ketika Tawa dan Persahabatan Menyala Bersamaan
Read Now