Sorak dan tepuk tangan menyambut Sammo Hung ketika legenda sinema aksi Hong Kong itu hadir di hadapan ratusan penggemarnya. Bagi mereka yang tumbuh dengan film-film aksinya, pertemuan ini bukan sekadar kesempatan melihat sang childhood hero secara langsung, tetapi juga mendengar cerita di balik adegan-adegan pertarungan yang selama ini memikat mereka di layar.
Momen tersebut berlangsung dalam Encounters of the Martial Mind: A Masterclass with Sammo Hung, program Jakarta Film Week 2026 pada Kamis (22/10) di Starium CGV Grand Indonesia. Dihadiri lebih dari 300 peserta, sesi yang dimoderatori sutradara Charles Gozali ini mempertemukan Sammo dengan para penggemar dan penonton yang ingin mengenal lebih dekat perjalanan serta proses kreatifnya di dunia perfilman.
Suasana semakin istimewa ketika sejumlah cuplikan film Sammo Hung diputar, membawa penonton menelusuri perjalanan karyanya dari Warriors Two (1978) hingga Ip Man 2 (2010). Potongan adegan tersebut mengingatkan kembali pada kiprahnya dalam membentuk karakter sinema aksi Hong Kong, melalui koreografi pertarungan yang dinamis serta kemampuannya memadukan seni bela diri dengan komedi dan horror.
Momen menarik terjadi ketika salah satu anggota Federasi Wingchun Indonesia, yang hadir sebagai penggemar peserta, memperagakan seni bela diri di hadapan Sammo Hung. Aksi tersebut menarik perhatian peserta sekaligus menunjukkan antusiasme penggemar dalam menyambut kehadiran sang legenda.
Dalam momen tersebut, Sammo Hung juga berbagi pandangannya tentang pentingnya kreativitas dalam merancang koreografi pertarungan. “Good choreography takes more than skill. You have to use your brain to make every action interesting,” ujar Sammo.
Menurutnya, koreografi yang baik membutuhkan lebih dari sekadar keterampilan fisik. Setiap gerakan perlu dipikirkan agar menarik sekaligus mendukung cerita. Pergerakan kamera, penggunaan properti, akting, dan ritme pertarungan menjadi elemen yang saling melengkapi untuk membangun adegan yang berkesan.
Pandangan tersebut mencerminkan perjalanan panjang Sammo Hung sebagai aktor, sutradara, koreografer seni bela diri, dan produser. Ia belajar seni bela diri sejak usia muda di bawah bimbingan Yu Jim-yuen dan menjadi bagian dari Seven Little Fortunes, kelompok yang melahirkan sejumlah figur penting dalam perfilman Hong Kong. Sepanjang kariernya, ia telah terlibat dalam lebih dari 230 film.
“Menakjubkan banget! Saya sudah menjadi penggemar Sammo Hung sejak lama, jadi bisa melihat beliau secara langsung adalah pengalaman sekali seumur hidup. Mendengar cerita-cerita dari perjalanan hidup dan karier beliau juga sangat menginspirasi, dan membuat pengalaman Masterclass ini terasa semakin istimewa bagi saya,” ungkap Jonathan Tobi, salah satu peserta yang hadir pada saat itu.
Antusiasme para peserta menunjukkan bahwa daya tarik film tidak berhenti ketika layar menjadi gelap. Ada cerita, proses kreatif, dan perjalanan panjang di balik setiap adegan yang mereka ingat. Melalui Encounters of the Martial Mind, Jakarta Film Week 2026 membuka ruang bagi penggemar dan penonton untuk bertemu langsung dengan sosok di balik karya-karya tersebut.
Selaras dengan tema ENCOUNTERS, sesi ini mempertemukan pengalaman seorang legenda dengan generasi penonton masa kini. Dari cuplikan film hingga demonstrasi seni bela diri, pertemuan tersebut mengingatkan bahwa kekuatan sinema aksi bukan hanya terletak pada gerakan yang spektakuler, tetapi juga pada kreativitas yang membuat setiap gerakan memiliki arti.
Penulis: Arga Arifwangsa