Hari Keempat Jakarta Film Week 2026 Menghadirkan Perspektif Perempuan, Cerita Personal, dan Eksplorasi Sinema

Jakarta, 24 Oktober 2026 — Hari keempat Jakarta Film Week 2026 menghadirkan sejumlah program pemutaran film, diskusi, dan kegiatan industri. Program hari ini mencakup diskusi Herstory bersama tiga sutradara perempuan, pemutaran film Layar Indonesiana 2026, Emergency Broadcast, serta rangkaian program industri yang ditutup dengan JFWNET Industry Program Awarding Night.

Herstory Bahas Perspektif Perempuan dalam Sinema

Program Herstory menghadirkan diskusi Cinema, Otherwise. On Her Own Terms. bersama tiga sutradara perempuan, Kamila Andini (Yuni, Nana, Empat Musim Pertiwi), Ang Geck Geck Priscilla (Ah Girl), dan Yoko Yamanaka (Amiko, Desert of Namibia). Diskusi berlangsung setelah pemutaran Empat Musim Pertiwi dan membahas pengalaman menggarap film yang berpusat pada perempuan serta tantangan yang dihadapi di industri film.

Kamila Andini berbagi tentang proses kreatifnya yang menjadikan film sebagai cara memahami masyarakat dan berbagai fase kehidupan. Dalam menggarap Empat Musim Pertiwi, ia menekankan pentingnya mendengarkan dan memahami pengalaman penyintas sebelum menceritakan kisah mereka. “Sometimes we feel that we want to bring justice to the survivors, but we have to understand them first,” ujarnya.

Sementara itu, Ang Geck Geck Priscilla menjelaskan bahwa Ah Girl mengeksplorasi berbagai sisi cinta dalam hubungan keluarga dan bagaimana seseorang dapat memutus siklus antargenerasi untuk membangun masa depan yang berbeda. Yoko Yamanaka turut membahas tantangan menggambarkan isu kesehatan mental, khususnya melalui karakter perempuan dalam masyarakat Jepang.

Ketiganya juga berbagi pendekatan dalam menjaga ruang kreatif masing-masing. Kamila terbiasa bekerja dengan anggaran kecil, Ang memilih meninggalkan pekerjaan dengan penghasilan lebih besar agar dapat berfokus membuat film, sementara Yoko berupaya menembus ekspektasi sosial melalui cerita tentang perempuan. Pengalaman mereka menunjukkan beragam cara sutradara perempuan mempertahankan perspektif dan pilihan kreatif dalam berkarya.

Selain diskusi, program Herstory juga menghadirkan sesi pembuatan zine yang difasilitasi oleh Alia Ruray. Awalnya, penyelenggara memperkirakan tidak banyak penonton yang akan tinggal setelah pemutaran karena ada film lain yang bisa ditonton. Namun, hampir seluruh peserta memilih untuk tetap tinggal dan membuat zine bersama sebagai cara mengolah pemikiran dan refleksi mereka terhadap enam film yang ditampilkan dalam program Herstory. Bagi Alia, pengalaman ini terasa istimewa karena banyak peserta baru pertama kali membuat zine. Ia pun merasa senang dapat memperkenalkan zine sebagai medium ekspresi yang memberdayakan sekaligus memiliki dimensi politis.

Layar Indonesiana 2026 Hadirkan Empat Film

Layar Indonesiana 2026 menampilkan empat film, yaitu αLPα, Amazing Fantastic Extraordinary People, The Blue Screen Between Us, dan Bulan at the Edge of Paradise.

Dhiwangkara Seta menjelaskan bahwa αLPα terinspirasi dari kisah sekelompok anak punk di Aceh yang dipaksa masuk akademi kepolisian. Di balik latar tersebut, film ini juga mengangkat hubungan ayah dan anak. Seta mengungkapkan bahwa proyek ini awalnya dirancang sebagai film panjang, tetapi kemudian dikembangkan menjadi film pendek sebagai proof of concept. Ia juga mengeksplorasi punk bukan sekadar sebagai penampilan, melainkan energi yang dapat dimiliki siapa saja.

Sementara itu, Sarah Rizkina membagikan cerita personal di balik The Blue Screen Between Us. Film ini berangkat dari pengalamannya mengenang mendiang ayahnya, termasuk melalui foto dan rekaman masa kecil yang disimpan sang ayah. Dalam sesi diskusi, Rizkina bercerita bahwa meski awalnya ingin mengangkat kisah yang dekat dengan dirinya, ia menemukan bahwa pengalaman tersebut juga dapat terhubung dengan penonton lain.

Adapun Rai Pendet menggunakan tari dan musik dalam Bulan at the Edge of Paradise untuk menyampaikan emosi melalui pendekatan visual yang surealis. Berangkat dari pengalamannya sebagai penari dan pemain gamelan tradisional sejak kecil, Pendet mengeksplorasi hubungan antara gerak, musik, dan perasaan. Ia juga mengungkapkan bahwa film pendek tersebut sedang dikembangkan menjadi film panjang yang akan menjadi debut penyutradaraannya.

Diskusi bersama ketiga sutradara membuka gambaran tentang proses kreatif di balik film-film tersebut, mulai dari pengalaman personal dan riset hingga pengembangan cerita ke format yang lebih panjang. Dalam sesi tanya jawab, Pendet turut menyampaikan pandangannya tentang perjalanan sebuah karya untuk bertemu dengan penontonnya: “Film akan menemukan penontonnya sendiri.”

Nuclear Boy Mengangkat Kesepian dan Pengalaman Anak Muda

Program Bioscoop Belanda menghadirkan Nuclear Boy, film karya sutradara Joren Molter yang terinspirasi dari kisah eksperimen nuklir di Michigan. Film ini juga mengangkat kesepian, yang berkaitan dengan pengalaman pribadi Molter menjalani kemoterapi dan perawatan di rumah sakit.

Molter menjelaskan alasannya mengangkat persoalan anak muda melalui film. “Youth is the future, but they deal with a lot of problems. So I wanna give them a voice,” ujarnya.

Film ini melibatkan aktor non-profesional yang menjalani enam bulan latihan sebelum proses pengambilan gambar.

Emergency Broadcast Angkat Persoalan Sosial

Program Emergency Broadcast kembali hadir untuk kedua kalinya di Jakarta Film Week 2026. Bertempat di Teater Asrul Sani, Taman Ismail Marzuki, program ini menayangkan lima film pendek dari Indonesia, Prancis, Filipina, dan Iran: Perfected Grammar (2024) karya Andrea Suwito, The Question (2026) karya Alberto Segre, City’s Laundry and Taxes (2025) karya Diana Galang, Raha (2025) karya Mohammad Mozafari, dan The Silence Lives Here (2026) karya Yasmin S. Kinasih. Melalui beragam perspektif, rangkaian film ini membuka ruang untuk membicarakan persoalan sosial dan politik, termasuk represi, kekuasaan, serta kebebasan menyuarakan pengalaman.

Setelah pemutaran, diskusi yang dimoderatori jurnalis Project Multatuli, Permata Adinda, menghadirkan Yasmin S. Kinasih, penulis sekaligus sutradara The Silence Lives Here, dan David Baskara, penulis bersama sekaligus produser Raha. Yasmin menjelaskan bahwa filmnya berangkat dari keresahan terhadap situasi Indonesia dan keinginan untuk tetap bersuara ketika seseorang dibungkam. “Ketika kita dibungkam atau dipaksa untuk diam, that’s the beauty of art. Kita tetap bisa menyampaikan sesuatu melalui karya,” ujarnya.

Sementara itu, David Baskara menceritakan proses di balik Raha, yang berawal dari pertemuannya dengan sutradara Mohammad Mozafari di Praha. Film tersebut didedikasikan bagi para korban rezim Iran, termasuk perempuan, anak-anak, dan laki-laki yang terdampak sistem kontrol represif. Kisah di balik produksinya turut memperluas diskusi tentang bagaimana film dapat merekam pengalaman orang-orang yang menghadapi tekanan politik dan pembatasan kebebasan.

Diskusi juga menghadirkan Luviana Ariyanti, jurnalis senior sekaligus pendiri dan pemimpin redaksi Konde.co. Berbekal pengalaman selama 35 tahun sebagai jurnalis, ia menekankan pentingnya mendengarkan dan mendokumentasikan pengalaman korban ketidakadilan, bukan hanya mengandalkan suara tokoh atau pemegang kekuasaan. Melalui pertemuan film dan jurnalisme, Emergency Broadcast mengajak penonton merefleksikan bagaimana cerita dapat menjaga pengalaman ketidakadilan tetap terdengar dan menjadi bagian dari percakapan publik mengenai hak sipil, kebebasan berekspresi, dan solidaritas.

Film Pilihan dan Pertemuan Industri

Dalam ranah industri, Pitching Forum x MTN Presentation memberikan kesempatan bagi para pembuat film untuk mempresentasikan proyek mereka dan membuka peluang pengembangan serta kolaborasi. Pada malam harinya, JFWNET Industry Program Awarding Night digelar dengan memberikan penghargaan dan dukungan kepada 16 penerima melalui berbagai program pengembangan proyek, dukungan produksi dan pascaproduksi, serta kesempatan berjejaring dengan industri film internasional.

Di sesi lain, Industry Talk bertajuk Focus on Animation: Gate to Escalate berlangsung di Mercure Jakarta Cikini. Sesi ini menghadirkan Andrey Pratama, Director & Founder Studio Imagimata; Nicole West, Co-Founder and Head of Operations West Studio; serta Deddy Syamsudin, Deputy Education AINAKI, CGI Artist, dan dosen Binus University. Diskusi dimoderatori oleh Sagita Ajeng Daniari dari AINAKI, membahas perkembangan industri animasi, pendidikan, kesiapan talenta, teknologi, dan infrastruktur pendukung, serta keterkaitan animasi dengan industri film, gim, dan sektor hiburan lainnya.

Artikel Terkait