LAYAR INDONESIANA: Tanah Air dan Serangkaian Tantangan dan Rasa yang Dihadapi

Jakarta, 24 Oktober 2026 — Layar Indonesiana 2025 menghadirkan empat film pendek yang sudah dikurasi melalui program dukungan Kementerian Kebudayaan dengan beragam kisah yang penuh kompleksitas, lika-liku kehidupan, kehangatan—yang mana terlepas dari genre berbeda, keempat film ini sangatlah terasa ‘Indonesia’. Dalam program ini, terdapat film ‘Amazing Fantastic Extraordinary People’ (dir. Nadina Habsjah & Yusgunawan Marto), ‘Bulan At The Edge Of Paradise’ (dir. Rai Pendet), ‘The Blue Screen Between Us’ (dir. Sarah Rizkina), dan ‘αLPα’ (dir. Dhiwangkara Seta) yang ditayangkan.

Ketiga sutradara diundang dalam sesi Talks & QnA, yaitu Dhiwangkara Seta, Sarah Rizkina, dan Rai Pendet, untuk membagikan pengalaman sekaligus proses dibalik layar yang tentunya sangat beragam—merepresentasikan ragam kisah dan genre yang ada di film mereka.

Dengan minimnya dialog dan fokus pada tarian tradisional Bali sebagai medium bercerita, Rai Pendet menyampaikan bahwa latar belakangnya sebagai penari dan pemain gamelan sangat mempengaruhinya dalam menggarap visualisasi film ‘Bulan At The Edge Of Paradise’ yang amat surealis. Berdasarkan pengalaman pribadinya, Rai Pendet cenderung lebih leluasa mengekspresikan diri lewat tarian dan musik sehingga buah pemikiran itu akhirnya bisa dihidupkan melalui film yang dibintangi penari Sekar Sari ini. Menariknya, Sekar Sari adalah penari tradisional Jawa sehingga perbedaan budaya menjadi tantangan tersendiri yang harus dihadapi baik Rai Pendet dan juga Sekar.

“Karena latar belakang Sekar adalah penari Jawa, tiap minggu Sekar workshop supaya bisa menerjemahkannya dalam tarian tradisional Bali”, menggambarkan bahwa ragam budaya Indonesia juga terasa di sekitar kita.

Bagi Sarah Rizkina, film ‘The Blue Screen Between Us’ menjadi karya yang sangat personal untuknya. Film bergenre drama tersebut merupakan debut Sarah Rizkina sebagai sutradara setelah malang melintang di industri perfilman dan kreatif. Menggambarkan dinamika kompleks antara anak dengan ayahnya yang baru saja tiada, kisah yang disampaikan nampaknya juga menggetarkan hati banyak penonton meskipun ceritanya diadaptasi dari refleksi dinamika Sarah Rizkina dengan mendiang ayahnya. Bagaimana membuat suatu kisah yang personal tetapi tetap relatable bagi penonton?

“Awalnya tetap dari karakternya dulu yang (diperkuat). Namun, karena ini adalah film pendek pertama yang saya direct, saya ingin ceritanya dekat dengan saya, tapi ternyata ceritanya juga resonate dengan orang lain.”

Punk, kebebasan, dan belenggu masa lalu—kiranya tiga kata ini yang menggambarkan hentakan dan peluh yang dirasakan Banyu (Elang El Gibran), tokoh utama film ‘αLPα’. Dhiwangkara Seta bersama produser Giovanni Rahmadeva yang juga musisi punk memperlihatkan sisi punk yang bisa dibilang sedikit berbeda. Biasa dikaitkan sebagai musik yang rancid, film ‘αLPα’ berlatar musisi electropunk yang memang agak berbeda dibandingkan punk yang dikenal mayoritas masyarakat Indonesia. Berdasarkan pengalaman pribadi mereka, punk itu tidak hanya sebatas ‘mohawk’ dan musik ‘keras’. Punk itu adalah sebuah energi—kita semua punya energi itu, ungkap Dhiwangkara Seta saat sesi tanya jawab bersama audiens. Karena film ini penuh rasa, sebetulnya tidak banyak dialog yang disampaikan. Namun, melalui program mentoring bersama Neo Sora, Dhiwangkara Seta banyak belajar mengenai proses menggarap perwatakan tokoh supaya suatu karakter bisa terasa hidup meski kelihatannya pasif. 

Mengingat Jakarta Film Week 2026 adalah perhelatan yang dihadiri baik penonton setia maupun sineas, Rai Pendet menitipkan pesan bahwa film akan menemukan penontonnya sendiri. Alih-alih terkekang oleh rasa takut, eksekusi yang detail serta dikerjakan dengan hati akan membawa suatu karya menjadi karya yang berkualitas sekaligus bermakna.

Writer: Khoirulia Ferdiani (Ulif)

Artikel Terkait