Dari Layar ke Zine, Merayakan Suara Perempuan di Jakarta Film Week 2026

Jakarta, 24 Oktober 2026 — Tidak semua cerita perempuan berangkat dari pengalaman yang sama. Ada yang berkutat dengan pencarian identitas, ada yang berhadapan dengan ekspektasi keluarga, dan ada pula yang memilih meninggalkan kehidupan konvensional demi kebebasan. Beragam pengalaman ini menemukan ruangnya dalam Herstory di Jakarta Film Week 2026, ketika sinema bukan hanya menjadi medium untuk menyaksikan cerita, tetapi juga pintu masuk untuk membicarakan siapa yang bercerita dan bagaimana pengalaman perempuan dimaknai.

Enam film pendek dalam program Herstory Shorts membawa penonton pada dunia perempuan dengan latar dan persoalan yang berbeda. Dalam Gravity (2026) karya Dalya Keles, Deniz, gadis berusia 12 tahun, mulai merasakan sulitnya menemukan tempat di antara teman-teman sebayanya. Tempat persembunyian rahasia yang selama ini menjadi ruang bermain bersama sahabatnya terasa berbeda ketika ia menghadapi penolakan di sekolah. Masa pertumbuhan yang semula dipenuhi imajinasi perlahan mempertemukannya dengan persoalan penerimaan diri.

Pergulatan yang berbeda hadir dalam The Itch (2025) karya Vaidaangi Sharma. Sebuah penemuan pada hari ulang tahun seorang remaja membuka rahasia tentang hasrat terpendam di tengah keluarganya yang tampak konservatif di India. Sementara itu, Faux Bijoux (2026) karya Jessy Moussallem mengikuti Mireille yang menghadapi situasi tak terduga setelah menjanjikan Johnny kesempatan tampil di layar lebar. Apa yang semula tampak seperti urusan audisi justru membawanya pada pertemuan dengan pasangan yang membutuhkan jasanya.

Di tengah rutinitas yang terasa menyesakkan, Maria dalam Bain Marie (2026) karya Gabriel Faccini memilih bolos kerja dan pergi ke taman bermain air pada suatu pagi musim panas. Perempuan yang tengah mengalami krisis seperempat abad kehidupan itu menemukan pengalaman tak terduga ketika bertemu seorang anak laki-laki. Adapun Grandma’s Four Color Cards (2025) karya Sally Tran memperlihatkan ketangguhan Ngoai, perempuan berusia 101 tahun yang menjalankan permainan kartu tradisional Vietnam secara ilegal untuk bertahan hidup. Di tengah keterbatasan, ia menemukan dukungan dari tetangga dan kebersamaan dengan kucing kesayangannya.

Pilihan untuk menjalani hidup dengan cara sendiri menjadi inti Two Travelling Aunties karya Christine Seow. Film ini mengikuti dua perempuan Singapura yang meninggalkan kehidupan konvensional dan memilih berpindah-pindah menggunakan van. Bagi keduanya, petualangan dan kebebasan menjadi bagian dari cara mendefinisikan kebahagiaan.

Meski berangkat dari persoalan yang berbeda, keenam film tersebut memperlihatkan bahwa pengalaman perempuan tidak bisa disederhanakan menjadi satu narasi. Kehidupan mereka dibentuk oleh lingkungan, relasi, usia, dan pilihan personal. Justru dari perbedaan itulah muncul pertanyaan tentang bagaimana perempuan dapat menceritakan dunianya tanpa harus menyesuaikan diri dengan satu gambaran yang dianggap paling benar.

Pertanyaan serupa mengemuka dalam diskusi Herstory Cinema, Otherwise. On Her Own Terms. pada hari keempat Jakarta Film Week. Kamila Andini, Ang Geck Geck Priscilla, dan Yamanaka Yoko berbagi perspektif mengenai feminisme, pengalaman mereka sebagai perempuan di industri film, serta motivasi dan aspirasi dalam berkarya.

Bagi Ang Geck Geck Priscilla, film tidak harus selalu tampil rapi atau mengikuti pakem teknis agar dapat menyentuh penonton. Ia ingin menghadirkan kehidupan manusia secara mentah dan rentan, dengan memberi ruang bagi kesalahan, eksperimen, dan emosi yang tidak selalu tersusun sempurna. Perspektif ini menempatkan sinema sebagai ruang untuk menangkap manusia apa adanya, bukan sekadar memenuhi standar estetika tertentu.

Di luar layar dan ruang diskusi, gagasan tentang kebebasan bercerita menemukan bentuk lain melalui zine. Dalam aktivasi yang dipandu peneliti sekaligus seniman Alia Ruray, peserta diajak mengenal medium publikasi independen yang dapat dibuat sendiri maupun bersama-sama, kemudian dibagikan melalui jaringan pertemanan, komunitas, atau toko buku.

Alia menjelaskan bahwa zine telah lama digunakan sebagai sarana menyampaikan gagasan oleh mereka yang tidak memiliki akses terhadap platform arus utama. Pada 1990-an, zine banyak dimanfaatkan subkultur punk untuk menyebarkan ideologi dan ulasan musik. Kelompok feminis juga menggunakannya untuk membicarakan isu perempuan, termasuk kontrasepsi dan relasi yang sehat, ketika topik-topik tersebut belum banyak dibicarakan secara terbuka.

Bagi peserta, membuat zine bukan sekadar mempelajari teknik menyusun dan menerbitkan karya. Prosesnya dimulai dengan menggali pengalaman yang terasa dekat, mempertanyakan hal-hal yang selama ini jarang dibicarakan, dan menentukan cerita yang ingin dibagikan kepada orang lain.

“Dari keenam film tadi, isu atau peristiwa apa yang menonjol dan menyentuhmu selama menonton? Adakah hal yang terasa begitu dekat atau sama persis dengan pengalaman hidupmu, atau mungkin justru terasa begitu jauh atau berbeda drastis dengan pengalaman hidupmu? Jika kamu punya kuasa yang sama untuk bercerita dalam zinemu, cerita seperti apa yang ingin kamu suarakan?” tanya Alia.

Dari film hingga zine, Herstory mempertemukan berbagai cara untuk memahami dan menyampaikan pengalaman perempuan. Sinema menghadirkan cerita untuk disaksikan, diskusi membuka ruang bagi perbedaan perspektif, sementara zine memberi kesempatan kepada setiap orang untuk menyusun narasinya sendiri. Pada akhirnya, ruang bercerita bukan hanya soal siapa yang mendapat perhatian, melainkan juga tentang kebebasan menentukan bagaimana kehidupan dan pengalaman seseorang ingin disampaikan.

Penulis: Iqbal Baskari & Dwi AN

Artikel Terkait