Industry Talk Jakarta Film Week 2026 Bahas Peluang Film Indonesia Menembus Pasar Global Lewat Hong Kong

Jakarta, 22 Oktober 2026 — Bagaimana sebuah cerita lokal bisa menjangkau penonton di belahan dunia lain? Pertanyaan ini menjadi salah satu pembahasan dalam Industry Talk di JFWNET—Industry Program, Jakarta Film Week 2026. Para pelaku industri film dari Indonesia dan Hong Kong berbagi perspektif tentang pentingnya membangun koneksi, menemukan mitra yang tepat, dan membuka peluang kolaborasi agar film dapat menjangkau pasar yang lebih luas tanpa kehilangan identitas ceritanya.

Melalui JFWNET—Industry Program, Jakarta Film Week 2026 menghadirkan ruang bagi para profesional film untuk memperluas wawasan, membangun jejaring, dan menjajaki peluang kolaborasi lintas negara. Salah satu sesi yang membahas peluang tersebut adalah Industry Talk: Hong Kong as Asia’s Getaway for Film and Entertainment Business: Connecting Southeast Asia to Global Opportunities, yang dipersembahkan oleh Hong Kong Trade Development Council (HKTDC). Berlangsung di Mercure Jakarta Cikini pada Kamis (22/10), diskusi ini mengulas potensi Hong Kong sebagai gerbang bagi pelaku industri Asia Tenggara untuk menjangkau pasar film dan hiburan internasional.

Dipandu oleh produser sekaligus sutradara Robert Ronny, diskusi ini menghadirkan Linda Gozali, produser MAGMA Entertainment sekaligus Sekretaris Jenderal APROFI periode 2025–2028; Gita Fara, produser film Pangku yang menerima dukungan HAF Goes to Cannes 2025; Nick Cheung dari TVBI Company Limited; serta Mark Francis, Chief Content and Strategy Officer Vidio.

Salah satu platform yang dibahas adalah Hong Kong International Film and TV Market (FILMART), yang telah diselenggarakan setiap tahun sejak 1997. Pasar ini mempertemukan produser, distributor, penyiar, pemilik konten, dan pelaku industri lainnya untuk memperkenalkan karya, menjajaki peluang bisnis, serta mengembangkan kemitraan.

Bagi produser Indonesia, FILMART dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan proyek kepada calon mitra internasional. Namun, memasuki pasar global membutuhkan lebih dari sekadar mencari pendanaan. Produser perlu memahami kebutuhan proyek, menentukan tujuan yang ingin dicapai, dan mengidentifikasi mitra yang sesuai dengan visi kreatif maupun strategi bisnis mereka.

Linda Gozali menekankan bahwa kerja sama internasional seharusnya memperluas jangkauan cerita Indonesia tanpa menghilangkan identitasnya.

“Kolaborasi internasional tidak seharusnya mengorbankan identitas cerita Indonesia. Peluangnya terletak pada bagaimana kita membawa cerita lokal kepada audiens yang lebih luas, sekaligus membangun kemitraan yang dapat membantu film Indonesia berkembang melampaui pasar domestik.” ujarnya.

Perspektif tersebut menegaskan bahwa kekuatan cerita lokal dapat menjadi modal untuk menjangkau audiens internasional. Kemitraan yang tepat memungkinkan sebuah film berkembang lebih jauh sekaligus mempertahankan sudut pandang yang membuatnya khas.

Pengalaman Gita Fara bersama Pangku memberikan gambaran tentang manfaat platform pengembangan proyek. Melalui Hong Kong–Asia Film Financing Forum (HAF), para pembuat film dapat memperkenalkan proyek kepada calon produser, investor, dan mitra industri. Selain membuka akses terhadap peluang pendanaan, platform ini membantu proyek memperoleh perspektif baru dan mempersiapkan langkah menuju tahap produksi maupun distribusi.

Diskusi juga menyoroti industri televisi Hong Kong melalui perspektif Nick Cheung dari TVBI Company Limited, termasuk peluang menjangkau penonton lokal dan internasional. Perbedaan karakteristik audiens menjadi pertimbangan penting dalam menentukan strategi konten dan distribusi di berbagai pasar.

Sementara itu, Mark Francis membahas perkembangan industri konten digital dan layanan over-the-top (OTT) di Indonesia. Platform streaming membuka kesempatan bagi konten lokal untuk menjangkau penonton lintas wilayah, tetapi perluasan pasar harus diikuti strategi untuk mempertahankan keterlibatan audiens.

“Building a sustainable content business means creating content that keeps audiences coming back,” kata Mark.

Pernyataan tersebut menyoroti pentingnya menghadirkan konten yang mampu membangun hubungan jangka panjang dengan penonton. Bagi platform digital, pertumbuhan yang berkelanjutan tidak hanya bergantung pada kemampuan menarik audiens baru, tetapi juga pada konsistensi dalam menyajikan cerita yang relevan dan menarik.

Melalui JFWNET—Industry Program, Jakarta Film Week 2026 tidak hanya menjadi ruang apresiasi film, tetapi juga wadah bagi para profesional untuk memahami dinamika industri, memperluas jejaring, dan menjajaki peluang kerja sama. Diskusi mengenai Hong Kong memperlihatkan bagaimana akses terhadap pasar, platform pengembangan proyek, dan pemahaman audiens dapat mendukung perjalanan film Indonesia menuju jangkauan yang lebih luas.

Pada akhirnya, membawa cerita lokal ke panggung internasional membutuhkan keseimbangan antara visi kreatif, kesiapan bisnis, dan pemahaman terhadap pasar. Dengan strategi yang tepat, kolaborasi lintas negara dapat membantu film Indonesia menjangkau audiens yang lebih luas tanpa kehilangan identitas yang menjadi kekuatannya.

Penulis: Arga Arifwangsa

Artikel Terkait