Rachel Leung Mengungkap Proses Menghidupkan Karakter Zelda dalam The Dating Menu

Melalui romansa dan makanan, film Hong Kong ini mengeksplorasi kesepian serta pencarian koneksi emosional.

Pencarian cinta terkadang bukan sekadar tentang menemukan seseorang, tetapi juga memahami perasaan yang tertinggal dari masa lalu. Gagasan tersebut hadir dalam The Dating Menu, film Hong Kong yang memadukan romansa dan makanan untuk membicarakan kesepian serta keinginan manusia untuk terhubung dengan orang lain.

Film ini diputar pada Kamis (22/10) pukul 16.15 WIB di Audi 2, CGV fX Sudirman, sebagai bagian dari program Hong Kong Gala Presentation: Made in Hong Kong, Jakarta Film Week 2026. Seusai pemutaran, aktris Rachel Leung berbagi pengalaman mengenai prosesnya menghidupkan karakter Zelda dalam sesi tanya jawab.

“Seeing Indonesian audiences embrace The Dating Menu is truly heartwarming. It’s wonderful to see the growing appreciation for Hong Kong cinema and the stories we have to share.”

Dalam diskusi tersebut, Leung menjelaskan pendekatannya dalam membangun Zelda sebagai karakter dengan identitas tersendiri. Menurutnya, sutradara memberikan warna berbeda kepada setiap tokoh, sehingga masing-masing memiliki kepribadian yang membentuk dinamika cerita.

Bagi Leung, mendalami karakter tidak berhenti pada pemahaman mengenai perannya dalam hubungan romantis. Ia berusaha menemukan sisi personal Zelda, termasuk pengalaman dan perasaan yang membentuk cara tokoh tersebut memandang kehidupan. Upaya menemukan “the true Zelda in life” menjadi bagian dari proses tersebut.

Pendekatan ini memperlihatkan bahwa karakter yang terasa nyata tidak hanya dibentuk melalui dialog dan tindakan, tetapi juga melalui pemahaman terhadap manusia di balik peran yang dimainkan.

The Dating Menu mengikuti Hark Lam, seorang koki yang berusaha menemukan kembali Zelda dari masa lalunya melalui aplikasi kencan. Perjalanan tersebut mempertemukannya dengan berbagai kemungkinan baru sekaligus membawanya berhadapan dengan kenangan yang masih memengaruhi kehidupannya.

Makanan menjadi medium yang mempertemukan orang-orang dengan latar belakang berbeda. Melalui pengalaman bersantap dan pertemuan romantis, film ini memperlihatkan bagaimana kedekatan dapat tumbuh dari percakapan sederhana dan kesempatan untuk mengenal seseorang lebih jauh.

Namun, bertemu orang baru tidak selalu berarti menemukan koneksi emosional. Pencarian Hark juga menghadirkan pertanyaan tentang perbedaan antara sosok yang diingat dan manusia yang sebenarnya hadir di hadapannya. Dengan demikian, film ini tidak hanya berbicara tentang menemukan pasangan, tetapi juga tentang memahami orang lain di luar kenangan dan harapan pribadi.

Sambutan penonton Indonesia terhadap The Dating Menu menjadi bagian dari pertemuan lintas budaya yang dihadirkan Jakarta Film Week 2026. Meski berangkat dari konteks yang berbeda, cerita tentang cinta, kesepian, dan kebutuhan untuk dipahami dapat menemukan relevansinya di antara penonton dengan pengalaman hidup yang beragam.

Melalui karakter Zelda dan perjalanan Hark, The Dating Menu mengajak penonton melihat hubungan antarmanusia secara lebih personal. Sebab, mengenal seseorang bukan hanya tentang menemukan sosok yang sesuai dengan harapan, melainkan juga memahami manusia dengan pengalaman, perasaan, dan ceritanya sendiri.

Written by Auva Rafi

Artikel Terkait