children, family, friendship, self-discovery
Agus berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja di pabrik tahu, sementara ibunya adalah ibu rumah tangga yang jago membuat tahu bacem. Suatu hari, Agus dibuat gelisah oleh tugas gurunya: menulis karangan tentang cita-cita. Teman-temannya punya cita-cita yang “besar”. Sri ingin menjadi artis terkenal dan bersikeras dipanggil Mey karena menurutnya nama Sri tidak menjual. Jono ingin menjadi tentara dan selalu bertingkah seperti pemimpin, lengkap dengan ambisinya menjadi ketua kelas. Puji mengaku ingin membahagiakan orang lain, meski sebenarnya ia cuma haus pujian dan ucapan terima kasih. Sementara teman-temannya ingin jadi orang hebat, Agus hanya punya satu cita-cita: makan di restoran Padang. Karena setiap hari makan tahu bacem, cita-cita sederhana itu justru membuatnya jadi bahan tertawaan.
Setelah lulus dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ) pada 1998, ia telah menyutradarai lebih dari 200 video musik, banyak di antaranya meraih penghargaan. Pada 2012, ia memulai debut film melalui Cita-Citaku Setinggi Tanah, yang seluruh hasil penayangannya disumbangkan untuk anak-anak penderita kanker di Indonesia. Selain menyutradarai program televisi dan iklan, ia tetap membuat video musik untuk band independen dan musisi muda tanpa menerima bayaran.