Perkembangan dan Pemanfaatan Etis Artificial Inteligence di Industri Perfilman

Artificial Intelligence (AI) kini menjadi sorotan di berbagai sektor karena kemampuannya dalam mengembangkan ide secara cepat, mudah, dan hemat biaya. Teknologi ini juga merambah industri perfilman, membuat para sineas di seluruh dunia menganggap AI sebagai potensi “ancaman” terhadap pembuatan karya orisinal.

Menanggapi perhatian publik tentang peran AI dalam industri kreatif, Jakarta Film Week 2024 menggelar diskusi kerja sama dengan Buncheon International Fantastic Film Festival bertema “Screening and Talks: Cinema in AI.” Acara ini menghadirkan pembicara berpengalaman seperti Motulz Anto (sutradara film Perjalanan Waktu TVRI), Hansl Von Kwon (sutradara film One More Pumpkin), Hafez Gumay (Advocacy Manager), dan Ikhaputri Widiantini (dosen filsafat FIB Universitas Indonesia). Diskusi berlangsung pada 26 Oktober 2024 di Teater Sjuman Djaya, Taman Ismail Marzuki.

Dalam acara tersebut, audiens menyaksikan pemutaran 10 film dari Indonesia hingga Prancis yang menggunakan teknologi AI dalam proses kreatifnya, diikuti dengan diskusi bersama para panelis. Acara ini memberi ruang bagi audiens untuk memahami peran AI dalam industri kreatif dan membuka perspektif baru tentang teknologi ini.

Dari sudut pandang sutradara, seperti Motulz dan Hansl, AI dapat menjadi teknologi pendamping dalam produksi film analog. Tentunya, hasilnya akan berbeda karena perbedaan proses produksi antara manusia dan mesin. “Relasi manusia dan AI takkan pernah menjadi satu kesatuan; AI hanyalah mesin tanpa emosi, sehingga peran aktif manusia tetap diperlukan agar karya yang dihasilkan memiliki makna,” ujar Motulz.

Isu lain yang disoroti adalah hak cipta dan tanggung jawab penciptaan. Menurut Hafez, pemahaman tentang hak cipta sangat penting, terutama karena hasil karya yang diciptakan AI mudah diakses secara bebas. “Setiap kreator harus memahami aturan dasar hak cipta, mulai dari siapa pencipta awal hingga pembagian royalti kepada pihak yang terlibat,” jelasnya.

Sementara itu, dari perspektif akademis, Ikha menekankan bahwa AI bisa menjadi alat pendukung proses belajar yang inklusif, bukan untuk menggantikan peran manusia atau aspek lainnya dalam pendidikan.

Acara ini menunjukkan bahwa pemanfaatan AI dalam industri kreatif adalah topik yang kompleks dan penuh tantangan. Melalui diskusi terbuka ini, sineas, akademisi, dan publik diajak untuk melihat AI bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai alat yang mendukung kreativitas dengan pendekatan yang inklusif. Diharapkan, AI dapat dimanfaatkan secara etis dan efektif, sehingga industri film dan seni dapat berkembang lebih kaya dan beragam.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai program dan acara Jakarta Film Week 2024, kunjungi www.jakartafilmweek.com atau ikuti media sosial @jakartafilmweek. Jangan lewatkan kesempatan menjadi bagian dari perayaan sinema internasional di Jakarta tahun ini.

Asia Khairunnisa Luthan | Nanda Hadiyanti

Artikel Terkait