Dari Lucu Hingga Pilu dalam Pemutaran Layar Indonesiana 2023

Memasuki hari ketiga festival, Jakarta Film Week 2024 menayangkan film-film terpilih dalam Layar Indonesiana 2023. Layar Indonesiana merupakan salah satu program dari Kementerian Kebudayaan melalui Direktorat Perfilman, Musik, dan Media untuk memberikan wadah bagi para sineas muda tanah air dalam membuat karya film pendek. Layar Indonesiana 2023 adalah sebuah kompetisi proposal ide cerita film yang mengangkat tema Dinamika Kebudayaan.

Program ini telah dimulai sejak tahun 2021 dan pendaftar program ini selalu meningkat setiap tahunnya. Pada edisi tahun 2023, tercatat sebanyak 675 peserta mengikuti program ini dari seluruh Indonesia. Hingga saat ini, terdapat 30 judul karya film pendek yang telah mendapatkan pendanaan sejak program ini pertama kali diselenggarakan atau 10 judul film per tahunnya. Beberapa film bahkan telah menorehkan berbagai prestasi pada festival film di dalam negeri dan luar negeri.

Empat dari sepuluh film yang berhasil mendapatkan pendanaan oleh Layar Indonesiana 2023 berkesempatan untuk ditayangkan pada Jakarta Film Week 2024 yang bertempat di CGV Grand Indonesia pada Jumat 25 Oktober 2024. Keempat film itu adalah Kelompok Penerbang Roh, Kudapan Rindu Rasa, Malam Terasa Main-Main, dan Pau Lipu.

Tidak hanya dapat menyaksikan pemutaran keempat film tersebut, para penonton Jakarta Film Week 2024 juga bisa langsung berinteraksi dengan penyelenggara program Layar Indonesiana dan filmmakers dari film yang ditayangkan. Filmmakers tersebut adalah Bilbo Luansa (Kudapan Rindu Rasa) dan Fanni Mardhotilah (Malam Terasa Main-Main).

Film Malam Terasa Main-Main menceritakan tentang dua orang anak yatim, Aldi dan Eka, yang saling berbalas kejahilan hingga memperebutkan uang santunan dari berbagai pihak bahkan santunan dari partai yang sedang berkampanye. Menurut Fanni, cerita yang diangkat dalam film ini cukup dekat dengan mereka dan disaksikan sendiri oleh para orang di balik layarnya.

Film tersebut memperlihatkan candaan kedua anak yatim yang mungkin baru didengar oleh para penonton sehingga membuat penonton beberapa kali bereaksi dengan tertawa pada setiap candaan Aldi dan Eka. Terdapat pula detail-detail kecil lainnya yang menghibur penonton seperti salah satunya ketika ada anak dan ibu mendapatkan santunan, mereka harus menunjukkan nomor urut peserta pemilu dengan tangannya saat pihak pemberi santunan mendokumentasikan kegiatan.

Beda dengan film Malam Terasa Main-Main yang membawakan cerita dengan fun, film Kudapan Rindu Rasa membawakan cerita dengan lebih haru. Film Kudapan Rindu Rasa menceritakan tentang hubungan ayah dan anaknya yang merantau.

Gian, sang anak, terpaksa pulang ke kampung halamannya di Singkawang atas permintaan Han, ayahnya, yang dikabarkan sedang sakit. Setelah sampai di Singkawang, Gian menemukan bahwa ayahnya telah berbohong agar sang anak menyempatkan diri untuk pulang setelah empat tahun merantau. Konflik pun memuncak ketika Han meminta Gian untuk meneruskan kedai Choipan. Namun, ketika Gian memutuskan kembali melanjutkan perantauannya, ia menyadari makna pulang yang sebenarnya.

Bilbo mengaku mendapatkan ide untuk membuat film ini ketika tengah malam ia sedang duduk di kursi besi di depan minimarket yang ada di Yogyakarta. Saat itu, timbul perasaan rindu pada kampung halaman, bukan dalam bentuk orang, tetapi perasaan kehilangan identitas, mulai dari cara bersosial hingga kulinernya. Pada saat itu juga, ia langsung menuliskan premis untuk film ini.

Ada alasan khusus mengapa Choipan yang diangkat sebagai kudapan dalam film ini. Choipan adalah jenis makanan yang tidak bisa dimakan sendirian karena pemesanan minimalnya adalah sepuluh. Choipan memiliki makna sebagai makanan pemersatu untuk orang-orang yang sudah lama tidak bertemu.

Satu pertanyaan besar yang diangkat dari film ini adalah “Apasih yang kita cari di dunia ini?” Bilbo pun menganggap dalam pengejaran sebuah hal, kita selalu menjauhkan hal-hal yang seharusnya dekat dengan kita.

Di akhir, Bilbo memberi pesan bagi orang-orang yang sedang merantau, “Ingat! Pulang itu bukan ke mana, tetapi ke siapa. Pada akhirnya, kita pulang pada orang-orang yang sebenarnya mendukung segala hal yang kita lakukan. Jangan menjauhkan mereka karena merekalah yang (sebenarnya) dekat dan mendukung kita.”

Selain film-film dari Layar Indonesiana 2023, ada sederet film-film lainnya yang tayang di Jakarta Film Week 2024. Informasi lebih lanjut dapat ditemui pada laman www.jakartafilmweek.com dan media sosial @jakartafilmweek. Jangan lewatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari perayaan sinema internasional di Jakarta tahun ini!

Muhamad Iqbal Ramadhan | Nanda Hadiyanti

Artikel Terkait