 {"id":26564,"date":"2026-11-05T23:34:23","date_gmt":"2026-11-05T16:34:23","guid":{"rendered":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/?p=26564"},"modified":"2026-11-05T23:41:34","modified_gmt":"2026-11-05T16:41:34","slug":"jakarta-film-week-2026-ditutup-dengan-laut-bercerita-filipinana-dan-nobody-loves-kay-raih-penghargaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/press-release\/jakarta-film-week-2026-ditutup-dengan-laut-bercerita-filipinana-dan-nobody-loves-kay-raih-penghargaan\/%20","title":{"rendered":"Jakarta Film Week 2026 Ditutup dengan Laut Bercerita, Filipi\u00f1ana dan Nobody Loves Kay Raih Penghargaan"},"content":{"rendered":"<p><b>Jakarta, 25 Oktober 2026<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> \u2014 Jakarta Film Week 2026 menutup rangkaian festival pada Minggu malam, 25 Oktober 2026, di CGV Grand Indonesia dengan mengumumkan para pemenang kompetisi film, termasuk <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Filipi\u00f1ana<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> karya Rafael Manuel yang meraih Global Feature Award. Malam penutupan dilanjutkan dengan pemutaran <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Laut Bercerita<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sebagai film penutup, setelah pengumuman penerima JFWNET\u2014Industry Program Awards yang memberikan dukungan bagi pengembangan proyek film Indonesia dan membuka peluang kolaborasi dengan jaringan industri internasional.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berlangsung selama lima hari, sejak 21 Oktober 2026, Jakarta Film Week 2026 menghadirkan tamu industri dari Asia Tenggara, Eropa, dan Amerika Latin, serta 5000+ penonton. Selain menjadi ruang pertemuan bagi sineas dan penonton, festival ini juga mempertemukan para pelaku industri melalui program pengembangan proyek, forum presentasi, serta kesempatan kolaborasi lintas negara.<\/span><\/p>\n<h2><b>Penutupan Jakarta Film Week 2026<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Malam penutupan festival berlangsung di ScreenX 1 CGV Grand Indonesia. Turut hadir dalam momen tersebut para sineas, pelaku industri perfilman, tamu mancanegara, mitra festival, serta perwakilan dari berbagai komunitas film yang telah menjadi bagian dari rangkaian festival tahun ini. Pertemuan tersebut menjadi penanda berakhirnya Jakarta Film Week 2026, sekaligus ruang bagi para tamu untuk merayakan karya dan koneksi yang terbangun selama festival.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cJakarta Film Week bukan hanya tentang film yang ditayangkan selama festival, tetapi juga tentang orang-orang yang bertemu, gagasan yang dibagikan, dan kolaborasi yang mulai terbangun. Terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung penyelenggaraan tahun ini. Semoga pertemuan selama festival menjadi awal dari perjalanan dan karya-karya baru yang akan terus berkembang setelah Jakarta Film Week berakhir,\u201d ujar Rina Damayanti.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, Ahmad Mahendra menyampaikan apresiasi kepada para sineas, pelaku industri, mitra, komunitas, dan penonton yang telah menjadi bagian dari Jakarta Film Week 2026. Ia berharap pengalaman dan hubungan yang terbangun selama festival dapat terus berlanjut dan memberikan kontribusi bagi perkembangan perfilman Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKami mengucapkan terima kasih kepada seluruh sineas, pelaku industri, mitra, komunitas, dan penonton yang telah menjadi bagian dari Jakarta Film Week 2026. Selama lima hari, festival ini menjadi ruang pertemuan bagi berbagai cerita, gagasan, dan perspektif melalui film. Kami berharap pengalaman dan koneksi yang terbangun selama festival dapat terus berlanjut, serta membawa semangat baru bagi perkembangan perfilman Indonesia,\u201d ujar Ahmad Mahendra.<\/span><\/p>\n<h2><b><i>Filipi\u00f1ana<\/i><\/b><b> Raih Global Feature Award serta Pengumuman JFWNET\u2014Industry Program Awards<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu sorotan penghargaan kompetisi Jakarta Film Week 2026 adalah kemenangan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Filipi\u00f1ana<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> karya Rafael Manuel, produksi Filipina, Inggris, Singapura, Prancis, dan Belanda, yang meraih Global Feature Award. Dalam pernyataan resminya, juri mengapresiasi film ini atas penggambaran persinggungan gender dan kelas dalam dunia yang dibentuk oleh privilese dan dibayangi warisan kolonial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cFilm ini dengan tajam menelusuri persinggungan gender dan kelas dalam dunia yang dibentuk oleh privilese dan dibayangi warisan kolonial. Hierarki yang diwariskan terus mengatur tubuh dan tenaga kerja. Ketika tatanan tersebut runtuh, film ini mengubah kehancuran menjadi puisi melalui gambar-gambar yang menghadirkan keindahan liris di tengah keruntuhan,\u201d demikian pernyataan juri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nobody Loves Kay karya Bernardus Raka meraih Direction Award, sebuah penghargaan tertinggi untuk kategori film Indonesia di Jakarta Film Week, berkat penggambaran hubungan dan proses tumbuh dewasa dalam dunia esports. Selain itu, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Bleat!<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> karya Ananth Subramaniam memenangkan Global Short Award atas premis unik, humor yang tidak biasa, dan penulisan naskah yang cerdas; serta <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">What We Leave Behind<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> karya Jean-S\u00e9bastien Hamel dan Alexandra Myotte yang meraih Global Animation Award atas pendekatan animasi yang segar dalam mengangkat isu yang relevan. Penghargaan lainnya, Jakarta Film Fund Award diberikan kepada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Year Without Summer<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> karya Rayhan Dharmawan, yang diapresiasi karena memotret kehidupan Jakarta masa kini dengan kepekaan dan kejujuran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain penghargaan kompetisi film, malam penutupan juga mengumumkan penerima JFWNET\u2014Industry Program Awards. Program ini memberikan dukungan bagi pengembangan proyek film Indonesia, kebutuhan produksi dan pascaproduksi, serta kesempatan untuk terhubung dengan jaringan industri internasional.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam kategori Producers Lab Development Grant, dukungan diberikan kepada Utari Hanif Assyuri melalui proyek <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">SALTSTORM!<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Sementara itu, tiga proyek terpilih untuk mengikuti Platform Busan 2027, yaitu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">A Burnt Engine Who Can\u2019t See the Light<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> karya Jonathan Gradiyan, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Rollinghead<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> karya Panji Respati, dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Irama Rama<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> karya Dendy Ariza Putra.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pitching Forum Development Grant diberikan kepada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Gokill<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, yang disutradarai Amanda Iswan dan diproduseri James Erlangga. Proyek <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">My Tears, A Sea for Jakarta to Sink<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, karya sutradara Andrea Nirmala Widjajanto dan produser Nirartha Bas Diwangkara, memperoleh Jakarta Film Commission Development Grant sekaligus QCinema Special Prize. Adapun program Producers Lab, Talents Hub, dan Pitching Forum didukung oleh Manajemen Talenta Nasional (MTN), Kementerian Kebudayaan RI.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dukungan internasional lainnya diberikan melalui HKIFF Industry Award kepada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Holy Mother<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, yang disutradarai Sinung Winahyoko dan diproduseri Fadhila Ristianty. Sementara itu, Bunga Ineza terpilih mengikuti EFM Toolbox Berlinale 2027.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk mendukung kebutuhan pascaproduksi, Super 8mm Studio Post Production Support diberikan kepada Gabriela Serrano melalui proyek <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Music Memory<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dukungan produksi juga diberikan kepada tujuh proyek melalui BSM Premiere Gear Fund, yaitu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Badass Boi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Push Rank<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">My Tears, A Sea for Jakarta to Sink<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Script: Maria<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Holy Mother<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Gokill<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Oh&#8230; Marijuana!<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beragam dukungan tersebut mencakup berbagai tahap perjalanan sebuah film, mulai dari pengembangan cerita dan presentasi proyek hingga kebutuhan produksi, pascaproduksi, serta kesempatan membangun koneksi dengan jaringan industri internasional. Daftar lengkap penerima penghargaan dan dukungan dicantumkan dalam lampiran siaran pers ini.<\/span><\/p>\n<h2><b><i>Laut Bercerita<\/i><\/b><b> Menjadi Film Penutup<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemutaran <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Laut Bercerita<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> menjadi salah satu momen utama dalam penutupan Jakarta Film Week 2026 di CGV Grand Indonesia, Minggu malam, 25 Oktober 2026. Setelah lima hari diisi pemutaran film, diskusi, dan pertemuan para pelaku industri, malam penutupan menjadi momen berkumpulnya kembali sineas, tamu festival, dan penonton sebelum rangkaian acara tahun ini berakhir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Diadaptasi dari novel karya Leila S. Chudori, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Laut Bercerita<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> mengisahkan Biru Laut dan kawan-kawannya yang terlibat dalam gerakan aktivisme mahasiswa pada masa Orde Baru. Di tengah perjuangan menyuarakan perubahan, mereka menghadapi penangkapan, penghilangan paksa, dan ketidakpastian. Kisah ini juga mengikuti keluarga yang terus mencari jawaban atas hilangnya orang-orang yang mereka cintai, menghadirkan perspektif tentang perjuangan, kehilangan, dan ingatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejumlah pemeran <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Laut Bercerita<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> turut hadir dalam pemutaran tersebut, di antaranya Reza Rahadian, Dian Sastrowardoyo, Yunita Siregar, Eva Celia, Christine Hakim, Arswendy Bening Swara, Kevin Julio, Ben Nugroho, Dewa Dayana, Yoga Pratama, Nagra Kautsar, Natalius Chendana, dan Afrian Arisandy.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kehadiran para pemeran menambah makna pada pemutaran penutup, mempertemukan para pemain dengan penonton yang menyaksikan kisah tersebut di layar lebar. Lewat cerita tentang aktivisme, kehilangan, dan keluarga yang terus mencari jawaban, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Laut Bercerita<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> menutup festival dengan membawa isu ingatan dan sejarah ke ruang perjumpaan antara film dan penontonnya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Ragam Sorotan Program Hari Kelima<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hari terakhir Jakarta Film Week 2026 menghadirkan sejumlah program pemutaran film, diskusi, dan kegiatan industri di berbagai lokasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam program Family Time, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Forza<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> diputar di CGV Grand Indonesia, disertai sesi tanya jawab bersama produser Shierly Kosasih dan para pemeran Ghazi Alhabsyi, Atiqah Hasiholan, serta Tio Pakusadewo. Film ini mengikuti perjalanan Bima dalam mengejar mimpinya menjadi pesepak bola, dengan hubungan keluarga dan kehidupan desa sebagai bagian penting dari cerita.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hari terakhir juga menghadirkan world premiere <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, film drama-komedi garapan Kuntz Agus yang diadaptasi dari novel karya Brian Khrisna. Setelah pemutaran, sesi diskusi menghadirkan sejumlah pemeran, yakni Nia Daniaty, Bene, Zulfa Maharani, Jourdy Pranata, dan Chicco Kurniawan. Perbincangan membahas proses mengadaptasi cerita dari novel ke layar lebar serta pesan tentang harapan di tengah situasi hidup yang sulit. Proses pengembangan film juga melibatkan konsultasi dengan psikiater untuk membantu penggarapan cerita, sementara tim turut membuka kemungkinan pengembangan semesta cerita ini lebih lanjut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada program Global Feature Official Selection, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Too Many Beasts<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">L\u2019Esp\u00e8ce explosive<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), film panjang debut sutradara Sarah Arnold, menghadirkan satire politik dalam balutan komedi gelap. Berlatar di sebuah desa Prancis yang dilanda masalah populasi babi hutan, film ini mengangkat ketidakadilan dan kepentingan elite melalui cerita yang absurd. Sarah Arnold dan penulis naskah J\u00e9r\u00e9mie Dubois hadir dalam sesi diskusi bersama penonton, didampingi Cultural Attach\u00e9 Kedutaan Besar Prancis untuk Indonesia, Carol Meyer. Sarah menjelaskan bahwa humor gelap menjadi cara untuk merespons situasi ketika harapan terasa menipis. \u201cHumor is dark because we have to continue to laugh amidst all that\u2019s happening,\u201d ujarnya. Sementara itu, Dubois berbagi tentang keberanian mengambil risiko dalam penulisan naskah dan berharap penonton dapat terhubung dengan film tersebut. \u201cI hope you guys can connect to the film. Feel free to laugh!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Program lainnya mencakup <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Girl With The Leica<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dalam Herstory, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">A Bowl of Chicken Noodles Before I Die<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dalam Global Feature Official Selection, serta <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Couture<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dalam Currents.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, program Classique menghadirkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Stepping on the Flying Grass<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> karya Eugene Panji di Teater Sjuman Djaya, Taman Ismail Marzuki. Film yang juga dikenal dengan judul <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Cita-Citaku Setinggi Tanah<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini mengikuti kisah Agus dan tiga sahabatnya dalam memaknai cita-cita dan kebahagiaan melalui pengalaman sederhana. Sepanjang pemutaran, tawa penonton beberapa kali terdengar, menghadirkan suasana hangat sekaligus memperlihatkan kedekatan cerita dengan pengalaman masa kecil. Melalui kepolosan tokoh-tokohnya, film ini mengajak penonton melihat bahwa sebuah keinginan tidak harus besar untuk memiliki arti.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Program Family Time di CGV FX Sudirman turut menghadirkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Papaya, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">sebuah film animasi asal Brazil karya Priscilla Kellen. Untuk penonton anak-anak dan keluarga, Layar Anak Indonesiana TV yang dipersembahkan oleh Balai Media Kebudayaan (BMK) di bawah naungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, menampilkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Katumbiri Nutug Leuwi (Pelangi yang Jatuh ke Sungai)<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Samasta Allegra<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Meong, Bikul, dan Kisah si Pemburu<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, serta <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pasukan Singa Kardus<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, dengan kehadiran Arfi SN dan Ayu Pamungkas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melalui beragam pemutaran, diskusi, dan pertemuan industri, hari terakhir Jakarta Film Week 2026 mempertemukan cerita dari berbagai genre dan perspektif dengan penontonnya. Rangkaian program tersebut sekaligus menegaskan peran festival sebagai ruang bagi sineas, pelaku industri, mitra, komunitas, dan penonton untuk bertukar gagasan serta membuka peluang kolaborasi baru.<\/span><\/p>\n<h2><b>LAMPIRAN: Daftar Penerima JFWNET\u2014Industry Program Awards 2026<\/b><\/h2>\n<p><b>Producers Lab MTN Development Grant<\/b><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Utari Hanif Assyuri \u2014 <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">SALTSTORM!<\/span><\/i><\/li>\n<\/ul>\n<p><b>Platform Busan ACFM 2027\u00a0<\/b><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Jonathan Gradiyan \u2014 <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">A Burnt Engine Who Can\u2019t See the Light<\/span><\/i><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Panji Respati \u2014 <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Rollinghead<\/span><\/i><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Dendy Ariza Putra \u2014 <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Irama Rama<\/span><\/i><\/li>\n<\/ul>\n<p><b>Pitching Forum MTN Development Grant<\/b><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Gokill<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> \u2014 Amanda Iswan (sutradara), James Erlangga (produser)<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><b>Jakarta Film Commission Development Grant<\/b><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">My Tears, A Sea for Jakarta to Sink<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> \u2014 Andrea Nirmala Widjajanto (sutradara), Nirartha Bas Diwangkara (produser)<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><b>QCinema Special Prize<\/b><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">My Tears, A Sea for Jakarta to Sink<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> \u2014 Andrea Nirmala Widjajanto (sutradara), Nirartha Bas Diwangkara (produser)<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><b>Hongkong Asian Financing Forum HKIFF Industry Award<\/b><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Holy Mother<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> \u2014 Sinung Winahyoko (sutradara), Fadhila Ristianty (produser)<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><b>BSM Premiere Gear Fund<\/b><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Badass Boi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> \u2014 Andara Fembriarto (sutradara), Robby UL Pratama (produser)<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Push Rank<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> \u2014 Deo Mahameru (sutradara), Andreas Sihombing (produser)<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">My Tears, A Sea for Jakarta to Sink<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> \u2014 Andrea Nirmala Widjajanto (sutradara), Nirartha Bas Diwangkara (produser)<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Script: Maria<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> \u2014 Devina Sofiyanti (sutradara), Tomomi Furuyama dan Jason Christian (produser)<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Holy Mother<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> \u2014 Sinung Winahyoko (sutradara), Fadhila Ristianty (produser)<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Gokill<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> \u2014 Amanda Iswan (sutradara), James Erlangga (produser)<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Oh&#8230; Marijuana!<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> \u2014 Arli Yandhi Achbar (sutradara), Teresa Katarina (produser)<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><b>Super 8mm Studio Post Production Support<\/b><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Gabriela Serrano (Peserta Talents Hub Filipina) \u2014 <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Music Memory<\/span><\/i><\/li>\n<\/ul>\n<p><b>Selected Participant Jakarta Film Week to EFM Toolbox Berlinale 2027<\/b><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bunga Ineza<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<h3><b>Daftar Pemenang Jakarta Film Week Awards 2026<\/b><\/h3>\n<p><b>Global Feature Award<\/b><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Filipi\u00f1ana<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> \u2014 Rafael Manuel<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><b>Direction Award<\/b><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Nobody Loves Kay<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> \u2014 Bernardus Raka<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><b>Global Short Award<\/b><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Bleat!<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> \u2014 Ananth Subramaniam<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><b>Global Animation Award<\/b><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">What We Leave Behind<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> \u2014 Jean-S\u00e9bastien Hamel dan Alexandra Myotte<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><b>Jakarta Film Fund Award<\/b><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Year Without Summer<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> \u2014 Rayhan Dharmawan<\/span><\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta, 25 Oktober 2026 \u2014 Jakarta Film Week 2026 menutup rangkaian festival pada Minggu malam, 25 Oktober 2026, di CGV Grand Indonesia dengan mengumumkan para pemenang kompetisi film, termasuk Filipi\u00f1ana karya Rafael Manuel yang meraih Global Feature Award. Malam penutupan dilanjutkan dengan pemutaran Laut Bercerita sebagai film penutup, setelah pengumuman penerima JFWNET\u2014Industry Program Awards yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":26432,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[12],"tags":[],"class_list":["post-26564","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-press-release"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26564","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26564"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26564\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":26565,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26564\/revisions\/26565"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/26432"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26564"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26564"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26564"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}