 {"id":26540,"date":"2026-11-05T19:20:07","date_gmt":"2026-11-05T12:20:07","guid":{"rendered":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/?p=26540"},"modified":"2026-11-05T19:20:32","modified_gmt":"2026-11-05T12:20:32","slug":"dari-layar-ke-zine-merayakan-suara-perempuan-di-jakarta-film-week-2026","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/article\/dari-layar-ke-zine-merayakan-suara-perempuan-di-jakarta-film-week-2026\/%20","title":{"rendered":"Delapan Film, Delapan Cerita Tentang Kota Jakarta Lewat Jakarta Film Fund 2026 dan JFF For Student"},"content":{"rendered":"<p><b>Jakarta, 23 Oktober 2026 \u2014 <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Jakarta bukan hanya gedung-gedung tinggi, jalanan padat, atau hiruk-pikuk kehidupan perkotaan. Di balik itu, ada cerita tentang ruang bermain yang semakin sempit, sungai yang tercemar, kehilangan, hingga pergulatan manusia menghadapi perubahan lingkungan. Lima film pendek dari Jakarta Film Fund (JFF) 2026 membawa kisah-kisah tersebut ke layar lebar, mengajak penonton melihat Jakarta dari sudut pandang yang lebih dekat dengan kehidupan warganya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebanyak 194 penonton menyaksikan pemutaran perdana kelima film tersebut di CGV Grand Indonesia pada Kamis (22\/10). Pemutaran kedua berlangsung di Teater Sjuman Djaya pada Jumat (23\/10) dan dihadiri 46 penonton. Kelima film ini berkompetisi untuk memperebutkan Jakarta Film Fund Award.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melalui <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Year Without Summer<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> karya Rayhan Dharmawan, panas ekstrem dan kebakaran di Tambora, Jakarta Barat, menjadi latar kisah Uus, seorang sarjana yang masih menganggur dan mendesak kakaknya, Surya, untuk pindah ke Jepang. Ketika Surya memilih bertahan membantu warga, Uus mulai mempertanyakan kemarahan dan keterasingannya terhadap kampung halaman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKami berusaha menangkap cerita tentang apa yang sekarang terjadi di Tambora, Jakarta Barat, serta isu kebakaran hutan dan lahan. Film ini merupakan bentuk kolaborasi bersama anak-anak kreatif Tambora,\u201d ujar Rayhan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Persoalan lingkungan juga hadir dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Seethe<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> karya David Darmadi. Melalui Aci, murid silat berusia 14 tahun yang berusaha melindungi ayahnya, film ini menghadirkan Roh Penjaga Sungai Ciliwung sebagai respons terhadap kebiasaan membakar dan membuang sampah ke sungai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Tendangan Bebas<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> karya Adam Nur Firman membawa penonton pada pengalaman masa kecil: bermain sepak bola. Muhammad Ronaldo, tujuh tahun, bermimpi menjadi pesepak bola hebat, tetapi keterbatasan ruang membuatnya dan teman-temannya harus mencari lapangan untuk bermain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cWaktu kecil kita nggak pernah mikirin soal pembangunan yang semakin padat dan tidak ada ruang, ya kita main saja di jalan. Namun, semakin dewasa kita jadi mikirin hal-hal seperti itu,\u201d kata Adam, yang mengangkat persoalan minimnya ruang bermain anak berdasarkan pengalamannya sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jakarta juga menyimpan cerita di wilayah kepulauannya. Dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">On a Bright Blessed Day<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, sutradara Hadafi Raihan Karim mengikuti Gita, perempuan dari Kepulauan Seribu yang harus menghadapi ketakutannya terhadap laut. Produser Devi Fahmi Indriyani, yang tumbuh di pulau, ingin menghadirkan perspektif perempuan yang kerap luput dari perhatian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSaya melihat karakter Gita sebagai perempuan yang perlu dilihat dan didengar meski punya rasa takut dan traumanya,\u201d ujar Devi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Adapun <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">First Step<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> karya Jessica Rai mengisahkan Tan Man Moy, perempuan berusia 68 tahun yang belajar menghadapi kehilangan adiknya melalui komunitas line dance lansia di Petak Enam. Terinspirasi dari kisah neneknya sendiri, Jessica ingin mengangkat pertanyaan tentang bagaimana manusia melanjutkan hidup setelah kematian orang terdekat.<\/span><\/p>\n<h3><b>JFF for Student: Melihat Jakarta dari Kacamata Pelajar<\/b><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada Sabtu (24\/10), Teater Sjuman Djaya menjadi ruang bagi generasi muda untuk menyampaikan cerita tentang Jakarta melalui program Jakarta Film Fund for Student. Tiga film yang diputar, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Satu Bungkus<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Tabungan yang Dimakan Waktu<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Sirkularitas<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, mengangkat persoalan pertemanan, perjuangan ekonomi keluarga, serta harapan melanjutkan pendidikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Satu Bungkus<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> karya Geraldine Ghifania, Bella, seorang siswi pindahan, belajar menemukan kebersamaan di tengah perbedaan setelah insiden penjambretan di Glodok. Sementara itu, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Tabungan yang Dimakan Waktu<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> karya Angel Crasida mengikuti perjuangan seorang siswa SMA menghadapi tabungan kuliahnya yang rusak. Melalui <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Sirkularitas<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> karya Darrel Islami Pasha, penonton diajak melihat kehidupan Putri di kawasan pesisir Jakarta yang dipenuhi cangkang kerang, ketika ia mengambil alih pekerjaan ibunya yang sakit dan perlahan menghadapi siklus kehidupan yang sama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kehadiran program ini memperluas ruang bagi generasi muda untuk merekam kehidupan kota melalui pengalaman mereka sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Joule, salah satu penonton pemutaran kedua JFF reguler, mengapresiasi keberanian para sineas mengangkat persoalan nyata Jakarta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPembahasannya juga selalu soal ruang, padahal ruang di Jakarta itu luas tapi kenyataannya terbatas dan kesenjangannya sangat terlihat jelas,\u201d ujarnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melalui Jakarta Film Fund dan JFF for Student, Jakarta Film Week membuka kesempatan bagi sineas dari berbagai tahap perkembangan untuk menyuarakan gagasan mereka. Dari Tambora hingga Kepulauan Seribu, cerita-cerita ini mengingatkan bahwa memahami Jakarta berarti mendengarkan pengalaman orang-orang yang hidup di dalamnya.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Arga Arifwangsa &#038; Dwi NA<\/span><\/i><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta, 23 Oktober 2026 \u2014 Jakarta bukan hanya gedung-gedung tinggi, jalanan padat, atau hiruk-pikuk kehidupan perkotaan. Di balik itu, ada cerita tentang ruang bermain yang semakin sempit, sungai yang tercemar, kehilangan, hingga pergulatan manusia menghadapi perubahan lingkungan. Lima film pendek dari Jakarta Film Fund (JFF) 2026 membawa kisah-kisah tersebut ke layar lebar, mengajak penonton melihat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":26405,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[],"class_list":["post-26540","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-article"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26540","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26540"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26540\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":26542,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26540\/revisions\/26542"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/26405"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26540"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26540"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26540"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}