 {"id":26535,"date":"2026-11-05T19:16:30","date_gmt":"2026-11-05T12:16:30","guid":{"rendered":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/?p=26535"},"modified":"2026-11-05T19:16:30","modified_gmt":"2026-11-05T12:16:30","slug":"global-short-official-selections-manusia-dan-perjalanan-tanpa-henti-dalam-pencarian-makna-hidup","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/article\/global-short-official-selections-manusia-dan-perjalanan-tanpa-henti-dalam-pencarian-makna-hidup\/%20","title":{"rendered":"GLOBAL SHORT OFFICIAL SELECTIONS: Manusia dan Perjalanan Tanpa Henti dalam Pencarian Makna Hidup"},"content":{"rendered":"<p><b>Jakarta, 23 Oktober 2026<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> \u2014 Sebanyak 19 film dari berbagai negara, mulai dari Indonesia, Belanda, Hong Kong, Jepang, hingga Jerman mengantarkan penonton menuju pengalaman menonton yang merepresentasikan dunia penuh gejolak. Ketakutan, kebahagiaan, pencarian jati diri rasanya tak pernah lepas dari kehidupan manusia terlepas dari negara mana mereka berasal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di hari pertama (22\/10), Global Short Official Selections 1 menayangkan Anna\u2019s Freezer (Belanda, 2025), As It Should Be (Hong Kong, 2026), Linda, Linda! (Luxembourg, 2025), Mother and Ulysses (Inggris, 2025), My Plastic Mother (Indonesia, 2025), That\u2019s My Sister (Kanada, 2026), dan Upon Sunrise (Serbia; Spanyol; Slovenia; Kroasia, 2025). Selain penayangan film pendek, Jakarta Film Week 2026 juga mengundang sutradara \u2018My Plastic Mother\u2019 Amar Haikal untuk berbagi pengalamannya seputar lika-liku mencari distributor serta perjalanan dibalik keikutsertaannya dalam berbagai festival film yang masuk kualifikasi shortlist Academy Awards. Dengan topik yang erat kaitannya dengan kapitalisme, Amar Haikal merasa bahwa film yang digarapnya ini patut untuk disaksikan khalayak umum. Untuk mencapai hal itu, tentu Amar Haikal berupaya mencari distributor agar \u2018My Plastic Mother\u2019 bisa menjangkau lebih banyak audiens.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKami cari cara supaya film ini bisa tayang secara umum meskipun sumber daya manusianya cukup terbatas. Film ini banyak berbicara tentang konsumerisme sehingga ceritanya juga bisa disampaikan untuk masyarakat luas. Setelah keliling sana-sini, akhirnya kami menemukan distributor film yang tepat (Mailuki Films).\u201d<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Program Global Short Official Selections 2 dan 3 lanjut pada keesokan harinya (23\/10) dengan penayangan 12 film pendek yang bergumul dengan kekhawatiran sebagai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">outsider <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dan berhadapan dengan realita yang tak dapat diprediksi, diantaranya Baby Fat (Filipina; Amerika Serikat, 2025), Cold Calling (Myanmar, 2025), Daughter (Malaysia, 2025), Pile On (Tiongkok, 2025), Sudah (Belanda, 2025), Typhoon Mambo (Swiss; Perancis; Tailan, 2026), Baby Majeur (Belanda, 2026), The 4PLY Clandestine System (Singapura, 2025), These Voices Are Real (Iran, 2026), Thirteen Cats (Spanyol, 2025), Unknown (Jepang, 2026), dan \u201cVaterland\u201d Or A Bule Named Yanto (Jerman; Indonesia, 2026). Di hari itu, Teater Asrul Sani Taman Ismail Marzuki disambut kehadiran sutradara Margarita Mina (Baby Fat), Hui Yin (Daughter), Natalie Sin (The 4PLY Clandestine System), dan koproduser Annisa Adjam (\u201cVaterland\u201d Or A Bule Named Yanto).\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengisahkan ibu asal Indonesia yang mencari peruntungan sebagai Asisten Rumah Tangga di Malaysia, sutradara Hui Yin ingin menunjukkan adanya hubungan paralel antara kedua ibu yang hadir di film itu\u2014ibu yang secara lokasi berjauhan tetapi rutin berkomunikasi dengan ibu &#038; anak yang tinggal bersama tetapi tak dekat secara emosional. Menghubungkan dua budaya berbeda, tentu ada tantangan tersendiri bagi Hui Yin, tetapi dalam menghadapinya, ada satu tips sederhana yang ia sampaikan, yaitu \u201cDo it scared!\u201d \u2014 dalam arti lain, hadapilah rasa takut itu dan tetap lanjutkan apa yang ingin kamu raih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagaimana jika sebenarnya tidak ada dunia yang benar-benar menjadi \u2018rumah\u2019 untukmu? Pertanyaan ini rasanya sangat merangkum apa yang dirasakan Yanto, pria keturunan Indonesia &#8211; Jerman dalam \u201cVaterland\u201d Or A Bule Named Yanto dan Maryanne, penjual tisu keliling di film \u2018The 4PLY Clandestine System\u2019. Sepintas, kedua film jelas berbeda, tetapi rasa \u2018terisolasi\u2019 itu nampak terasa, baik sosok Yanto yang kerap dilihat berbeda baik di Jerman\u2014negara tempat ia dibesarkan\u2014maupun di Indonesia, serta Maryanne, representasi penjual tisu keliling yang kerap dianggap setara dengan pengemis bagi sebagian orang Singapura.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBaik hubungan antarmanusia serta benda-benda yang mengelilinginya tidak serta merta bisa menyimpulkan identitas seseorang. Manusia itu sejatinya merupakan makhluk yang sangat kompleks,\u201d <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">ungkap Natalie Sin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari serangkaian perasaan dan ekspresi yang ada pada manusia, film-film pendek di Global Short Official Selections menyatukan pesan mengenai pencarian makna hidup yang merupakan proses seumur hidup serta bagaimana manusia bergumul dengan segala dinamika yang terkadang tak pernah kita duga.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Writer: Khoirulia Ferdiani (Ulif)<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta, 23 Oktober 2026 \u2014 Sebanyak 19 film dari berbagai negara, mulai dari Indonesia, Belanda, Hong Kong, Jepang, hingga Jerman mengantarkan penonton menuju pengalaman menonton yang merepresentasikan dunia penuh gejolak. Ketakutan, kebahagiaan, pencarian jati diri rasanya tak pernah lepas dari kehidupan manusia terlepas dari negara mana mereka berasal. Di hari pertama (22\/10), Global Short Official [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":26342,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[],"class_list":["post-26535","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-article"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26535","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26535"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26535\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":26536,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26535\/revisions\/26536"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/26342"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26535"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26535"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26535"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}