 {"id":26533,"date":"2026-11-05T19:14:57","date_gmt":"2026-11-05T12:14:57","guid":{"rendered":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/?p=26533"},"modified":"2026-11-05T19:14:57","modified_gmt":"2026-11-05T12:14:57","slug":"directing-masterclass-neo-sora-mengembangkan-gagasan-personal-menjadi-narasi-sinematik-yang-sarat-isu-sosial-politik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/article\/directing-masterclass-neo-sora-mengembangkan-gagasan-personal-menjadi-narasi-sinematik-yang-sarat-isu-sosial-politik\/%20","title":{"rendered":"Directing Masterclass Neo Sora: Mengembangkan Gagasan Personal Menjadi Narasi Sinematik yang Sarat Isu Sosial-Politik"},"content":{"rendered":"<p><b>Jakarta, 23 Oktober <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">\u2014 Neo Sora sutradara dan produser film yang berbasis di Tokyo dan New York mengisi sesi directing masterclass yang bertajuk \u201cThe Wonder of Ideas: A Masterclass with Neo Sora\u201d salah satu program JFWNET Industry Program berkolaborasi dengan Japan Foundation di perhelatan Jakarta Film Week 2026.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belokasi di Teater Asrul Sani, Taman Ismail Marzuki, directing masterclass yang dimoderatori sutradara Tumpal Tampubolon dimulai dengan cerita dan pengalaman penyutradaraan Neo Sora. Bagi Neo Sora, film lahir dari pengamatan personal yang sederhana, lalu berkembang menjadi refleksi atas realitas sosial-politik, sejarah, dan budaya. Neo Sora menerjemahkan kompleksitas tersebut ke dalam penceritaan visual yang membutuhkan ketepatan teknis, kepekaan artistik serta pemahaman mendalam terhadap konteks yang melatarbelakangi cerita.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pendekatan tersebut tercermin dalam karya-karya Neo Sora melalui film pendek maupun film panjang, ia mengolah berbagai tema, mulai dari imigrasi dan ingatan sejarah hingga perubahan antargenerasi, menjadi narasi yang tetap berpusat pada karakter. Karya-karyanya memperlihatkan bagaimana isu-isu kontemporer dapat diintegrasikan ke dalam cerita tanpa mengesampingkan kedalaman karakter dan kekuatan naratif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam masterclass ini Neo Sora turut mengulas proses kreatif di balik film Happyend (2024), termasuk bagaimana sebuah gagasan visual sederhana dapat berkembang menjadi cerita yang memuat persoalan sosial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKetika membuat film saya memulai dari affect yang berasal dari pengalaman personal. Saya menggunakan berbagai teknik dalam sinema, pembuatan film, dan penceritaan untuk merekonstruksi dan menyusun kembali materi serta gagasan yang saya miliki menjadi sesuatu yang utuh dan koheren. Dengan begitu, penonton diharapkan meninggalkan bioskop dengan affect yang serupa dengan apa yang saya rasakan,\u201d jelas Neo Sora dalam sesi wawancara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurutnya, affect atau rasa dalam film adalah keseluruhan pengalaman yang dirasakan tubuh saat bersentuhan dengan sebuah film yang tidak sepenuhnya dapat diungkapkan melalui kata-kata, ini adalah tentang emosi film itu sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu peserta directing masterclass, Alexander Kusuma menceritakan alasan dirinya mengikuti kelas ini karena menyukai karya Neo Sora seperti film dokumenter Opus (2023) yang menceritakan ayahnya, Ryuichi Sakamoto dan film Happyend (2024).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSaya cukup terkejut melihat perbedaan antara karya dokumenternya, film-film yang berkaitan dengan musik, dan film panjangnya. Hal yang paling menarik bagi saya adalah bagaimana ia mampu menuangkan begitu banyak gagasan ke dalam satu film dan merangkainya dengan sangat baik,\u201d jelas Alexander usai sesi masterclass.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alexander menuturkan ketika Jakarta Film Week 2025 mengadakan masterclass bersama Neo Sora, ia merasa terkejut sekaligus antusias.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMeskipun Neo Sora bukan seorang pengajar secara profesional, ia memiliki cara tersendiri dalam membagikan pengetahuan. Ada kejujuran yang terasa dalam tulisan maupun caranya menyampaikan gagasan. Ia terkesan sungguh-sungguh ingin mendorong orang lain menjadi pembuat film, bukan menjatuhkan orang lain,\u201d jelas Alexander.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alexander berharap di Jakarta Film Week berikutnya sesi masterclass bisa lebih intens dan terus mendatangkan sineas profesional di bidangnya untuk membagi pengalaman film mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Neo Sora dalam sesi wawancaranya berpesan kepada filmmaker yang baru akan memulai atau yang sudah memulai karir filmnya untuk mulai membuat buku catatan ide yang biasa ia sebut sebagai \u201c<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Miso Notes\u201d<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut Neo Sora \u201c<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Miso Notes<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201d bisa berupa catatan yang berisi ide cerita, ide karakter, perilaku-perilaku kecil, atau bahkan sekadar daun yang tertiup angin, cahaya pada sore hari, dan hal-hal lainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cApa pun yang menurut kamu berpotensi menjadi \u201c<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Miso<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201d dari sebuah adegan atau film layak untuk dicatat dan diabadikan. Nantinya, ketika kamu memiliki gagasan untuk sebuah film, catatan-catatan miso tersebut bisa sangat berguna untuk menentukan bagaimana gagasan itu akan disampaikan,\u201d jelasnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cItulah yang saya lakukan, dan saya selalu menyarankan orang lain untuk melakukan hal yang sama,\u201d tambah Neo Sora.<\/span><\/p>\n<p><b>Penulis: Dwi AN<\/b><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta, 23 Oktober \u2014 Neo Sora sutradara dan produser film yang berbasis di Tokyo dan New York mengisi sesi directing masterclass yang bertajuk \u201cThe Wonder of Ideas: A Masterclass with Neo Sora\u201d salah satu program JFWNET Industry Program berkolaborasi dengan Japan Foundation di perhelatan Jakarta Film Week 2026.\u00a0 Belokasi di Teater Asrul Sani, Taman Ismail [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":26391,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[],"class_list":["post-26533","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-article"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26533","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26533"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26533\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":26534,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26533\/revisions\/26534"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/26391"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26533"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26533"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26533"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}