 {"id":26528,"date":"2026-11-05T19:09:18","date_gmt":"2026-11-05T12:09:18","guid":{"rendered":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/?p=26528"},"modified":"2026-11-05T19:09:18","modified_gmt":"2026-11-05T12:09:18","slug":"what-goes-unspoken-ravi-bharwani-mengungkap-lapisan-cerita-di-balik-secrets","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/article\/what-goes-unspoken-ravi-bharwani-mengungkap-lapisan-cerita-di-balik-secrets\/%20","title":{"rendered":"What Goes Unspoken? Ravi Bharwani Mengungkap Lapisan Cerita di Balik \u201cSecrets\u201d"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak semua luka mudah diceritakan, dan tidak semua rahasia dapat terus disembunyikan. Terkadang, pengalaman masa lalu tetap membayangi kehidupan seseorang, bahkan ketika ia berusaha memulai kembali. Gagasan tentang hal-hal yang tak terucapkan ini menjadi titik pembahasan dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">What Goes Unspoken?<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, program Talk Jakarta Film Week 2026 yang menghadirkan diskusi mengenai film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Secrets<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan proses kreatif di baliknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berlangsung pada Jumat (23\/10) di CGV Grand Indonesia, sesi ini menghadirkan sutradara Ravi Bharwani, produser Wilza Lubis, serta Agam Karim selaku Content Manager Netflix Indonesia. Dipandu oleh Nadine Alexandra, diskusi tersebut turut memperkenalkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">exclusive first look<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Secrets<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, film drama thriller yang menjadi bagian dari jajaran film Indonesia Netflix pada 2026.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berangkat dari gagasan bahwa setiap film memiliki cerita untuk disampaikan, diskusi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">What Goes Unspoken?<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> mengajak penonton melihat bagaimana sebuah narasi tidak hanya dibangun melalui dialog dan peristiwa yang terlihat di layar. Keheningan, ekspresi, serta hal-hal yang disimpan oleh karakter juga dapat menyampaikan pengalaman yang sulit diungkapkan secara langsung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gagasan ini menemukan relevansinya dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Secrets<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, yang mengikuti Parni, seorang ibu tunggal yang berusaha membangun masa depan lebih baik bersama putrinya, Riska. Upayanya untuk memulai kembali kehidupan menghadapi ancaman ketika masa lalu yang kelam dan penuh kekerasan kembali muncul, termasuk melalui kehadiran suaminya, Jamal, yang diperankan Abimana Aryasatya. Sementara itu, Sha Ine Febriyanti memerankan Parni dalam kisah yang memadukan drama personal dengan ketegangan thriller.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Konflik tersebut menempatkan perjuangan Parni bukan sekadar sebagai upaya bertahan menghadapi keadaan, tetapi juga sebagai perjalanan menghadapi pengalaman yang belum selesai. Keinginannya untuk melindungi sang anak berhadapan dengan masa lalu yang kembali mengusik kehidupan mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kehadiran Ravi Bharwani sebagai sutradara membuka ruang untuk membahas bagaimana cerita diterjemahkan menjadi pengalaman sinematik. Dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Secrets<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, perpaduan drama dan thriller menghadirkan kemungkinan untuk mengeksplorasi konflik bukan hanya melalui kejadian yang berlangsung, tetapi juga melalui beban emosional yang menyertai karakter.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sisi lain, keterlibatan Wilza Lubis sebagai produser dan Agam Karim dari Netflix Indonesia memperluas pembahasan mengenai perjalanan sebuah film dari proses kreatif hingga distribusi. Sebuah cerita membutuhkan lebih dari sekadar gagasan yang kuat. Proses produksi dan strategi distribusi turut menentukan bagaimana karya dapat menjangkau penonton dengan latar belakang dan pengalaman yang beragam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melalui sesi ini, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">exclusive first look<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400;\">Secrets<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> menjadi kesempatan bagi penonton untuk mengenal lebih jauh film yang menempatkan rahasia, kekerasan masa lalu, dan perjuangan membangun kehidupan baru sebagai bagian dari konfliknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai bagian dari program Talk Jakarta Film Week 2026, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">What Goes Unspoken?<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> mempertemukan perspektif kreatif dan industri untuk melihat bagaimana sebuah cerita dikembangkan sebelum akhirnya bertemu dengan penontonnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Secrets<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> mengingatkan bahwa pengalaman manusia tidak selalu dapat dipahami hanya dari apa yang terlihat atau terdengar. Ada luka yang membutuhkan waktu untuk dihadapi dan ada masa lalu yang tetap meninggalkan jejak, bahkan ketika seseorang berusaha melangkah maju. Sebab, terkadang, justru dari hal-hal yang tidak terucapkan itulah sebuah cerita menemukan maknanya yang paling dalam.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Written by Auva Rafi<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tidak semua luka mudah diceritakan, dan tidak semua rahasia dapat terus disembunyikan. Terkadang, pengalaman masa lalu tetap membayangi kehidupan seseorang, bahkan ketika ia berusaha memulai kembali. Gagasan tentang hal-hal yang tak terucapkan ini menjadi titik pembahasan dalam What Goes Unspoken?, program Talk Jakarta Film Week 2026 yang menghadirkan diskusi mengenai film Secrets dan proses kreatif [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":26394,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[],"class_list":["post-26528","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-article"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26528","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26528"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26528\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":26529,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26528\/revisions\/26529"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/26394"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26528"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26528"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26528"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}