 {"id":26522,"date":"2026-11-05T19:04:29","date_gmt":"2026-11-05T12:04:29","guid":{"rendered":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/?p=26522"},"modified":"2026-11-05T19:04:29","modified_gmt":"2026-11-05T12:04:29","slug":"industry-talk-jakarta-film-week-2026-bahas-peluang-film-indonesia-menembus-pasar-global-lewat-hong-kong","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/article\/industry-talk-jakarta-film-week-2026-bahas-peluang-film-indonesia-menembus-pasar-global-lewat-hong-kong\/%20","title":{"rendered":"Industry Talk Jakarta Film Week 2026 Bahas Peluang Film Indonesia Menembus Pasar Global Lewat Hong Kong"},"content":{"rendered":"<p><b>Jakarta, 22 Oktober 2026<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> \u2014 Bagaimana sebuah cerita lokal bisa menjangkau penonton di belahan dunia lain? Pertanyaan ini menjadi salah satu pembahasan dalam Industry Talk di JFWNET\u2014Industry Program, Jakarta Film Week 2026. Para pelaku industri film dari Indonesia dan Hong Kong berbagi perspektif tentang pentingnya membangun koneksi, menemukan mitra yang tepat, dan membuka peluang kolaborasi agar film dapat menjangkau pasar yang lebih luas tanpa kehilangan identitas ceritanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melalui JFWNET\u2014Industry Program, Jakarta Film Week 2026 menghadirkan ruang bagi para profesional film untuk memperluas wawasan, membangun jejaring, dan menjajaki peluang kolaborasi lintas negara. Salah satu sesi yang membahas peluang tersebut adalah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Industry Talk: Hong Kong as Asia\u2019s Getaway for Film and Entertainment Business: Connecting Southeast Asia to Global Opportunities<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, yang dipersembahkan oleh Hong Kong Trade Development Council (HKTDC). Berlangsung di Mercure Jakarta Cikini pada Kamis (22\/10), diskusi ini mengulas potensi Hong Kong sebagai gerbang bagi pelaku industri Asia Tenggara untuk menjangkau pasar film dan hiburan internasional.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dipandu oleh produser sekaligus sutradara Robert Ronny, diskusi ini menghadirkan Linda Gozali, produser MAGMA Entertainment sekaligus Sekretaris Jenderal APROFI periode 2025\u20132028; Gita Fara, produser film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pangku<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang menerima dukungan HAF Goes to Cannes 2025; Nick Cheung dari TVBI Company Limited; serta Mark Francis, Chief Content and Strategy Officer Vidio.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu platform yang dibahas adalah Hong Kong International Film and TV Market (FILMART), yang telah diselenggarakan setiap tahun sejak 1997. Pasar ini mempertemukan produser, distributor, penyiar, pemilik konten, dan pelaku industri lainnya untuk memperkenalkan karya, menjajaki peluang bisnis, serta mengembangkan kemitraan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi produser Indonesia, FILMART dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan proyek kepada calon mitra internasional. Namun, memasuki pasar global membutuhkan lebih dari sekadar mencari pendanaan. Produser perlu memahami kebutuhan proyek, menentukan tujuan yang ingin dicapai, dan mengidentifikasi mitra yang sesuai dengan visi kreatif maupun strategi bisnis mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Linda Gozali menekankan bahwa kerja sama internasional seharusnya memperluas jangkauan cerita Indonesia tanpa menghilangkan identitasnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKolaborasi internasional tidak seharusnya mengorbankan identitas cerita Indonesia. Peluangnya terletak pada bagaimana kita membawa cerita lokal kepada audiens yang lebih luas, sekaligus membangun kemitraan yang dapat membantu film Indonesia berkembang melampaui pasar domestik.\u201d ujarnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perspektif tersebut menegaskan bahwa kekuatan cerita lokal dapat menjadi modal untuk menjangkau audiens internasional. Kemitraan yang tepat memungkinkan sebuah film berkembang lebih jauh sekaligus mempertahankan sudut pandang yang membuatnya khas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pengalaman Gita Fara bersama <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pangku<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> memberikan gambaran tentang manfaat platform pengembangan proyek. Melalui Hong Kong\u2013Asia Film Financing Forum (HAF), para pembuat film dapat memperkenalkan proyek kepada calon produser, investor, dan mitra industri. Selain membuka akses terhadap peluang pendanaan, platform ini membantu proyek memperoleh perspektif baru dan mempersiapkan langkah menuju tahap produksi maupun distribusi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Diskusi juga menyoroti industri televisi Hong Kong melalui perspektif Nick Cheung dari TVBI Company Limited, termasuk peluang menjangkau penonton lokal dan internasional. Perbedaan karakteristik audiens menjadi pertimbangan penting dalam menentukan strategi konten dan distribusi di berbagai pasar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, Mark Francis membahas perkembangan industri konten digital dan layanan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">over-the-top<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (OTT) di Indonesia. Platform streaming membuka kesempatan bagi konten lokal untuk menjangkau penonton lintas wilayah, tetapi perluasan pasar harus diikuti strategi untuk mempertahankan keterlibatan audiens.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBuilding a sustainable content business means creating content that keeps audiences coming back,\u201d kata Mark.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pernyataan tersebut menyoroti pentingnya menghadirkan konten yang mampu membangun hubungan jangka panjang dengan penonton. Bagi platform digital, pertumbuhan yang berkelanjutan tidak hanya bergantung pada kemampuan menarik audiens baru, tetapi juga pada konsistensi dalam menyajikan cerita yang relevan dan menarik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melalui JFWNET\u2014Industry Program, Jakarta Film Week 2026 tidak hanya menjadi ruang apresiasi film, tetapi juga wadah bagi para profesional untuk memahami dinamika industri, memperluas jejaring, dan menjajaki peluang kerja sama. Diskusi mengenai Hong Kong memperlihatkan bagaimana akses terhadap pasar, platform pengembangan proyek, dan pemahaman audiens dapat mendukung perjalanan film Indonesia menuju jangkauan yang lebih luas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya, membawa cerita lokal ke panggung internasional membutuhkan keseimbangan antara visi kreatif, kesiapan bisnis, dan pemahaman terhadap pasar. Dengan strategi yang tepat, kolaborasi lintas negara dapat membantu film Indonesia menjangkau audiens yang lebih luas tanpa kehilangan identitas yang menjadi kekuatannya.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Arga Arifwangsa<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta, 22 Oktober 2026 \u2014 Bagaimana sebuah cerita lokal bisa menjangkau penonton di belahan dunia lain? Pertanyaan ini menjadi salah satu pembahasan dalam Industry Talk di JFWNET\u2014Industry Program, Jakarta Film Week 2026. Para pelaku industri film dari Indonesia dan Hong Kong berbagi perspektif tentang pentingnya membangun koneksi, menemukan mitra yang tepat, dan membuka peluang kolaborasi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":26380,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[],"class_list":["post-26522","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-article"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26522","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26522"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26522\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":26523,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26522\/revisions\/26523"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/26380"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26522"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26522"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26522"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}