{"id":20968,"date":"2025-10-29T07:13:34","date_gmt":"2025-10-29T00:13:34","guid":{"rendered":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/?p=20968"},"modified":"2025-10-29T07:13:34","modified_gmt":"2025-10-29T00:13:34","slug":"jakarta-film-week-2025-dopamin-jadi-film-penutup-the-devil-smokes-dan-crocodile-tears-sabet-penghargaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/press-release\/jakarta-film-week-2025-dopamin-jadi-film-penutup-the-devil-smokes-dan-crocodile-tears-sabet-penghargaan\/%20","title":{"rendered":"Jakarta Film Week 2025: Dopamin Jadi Film Penutup, The Devil Smokes dan Crocodile Tears Sabet Penghargaan"},"content":{"rendered":"<h3><b>Jakarta, 26 Oktober 2025<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> \u2013 <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Jakarta Film Week 2025<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> resmi ditutup pada Minggu malam, 26 Oktober 2025, di CGV Grand Indonesia, dengan pemutaran film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dopamin<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> karya Teddy Soeria Atmadja sebagai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Closing Film<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Malam puncak bertajuk <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Closing Ceremony &#038; Closing Film<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini menjadi perayaan bagi para sineas dan penonton yang telah mengikuti lima hari festival, sekaligus momentum penghargaan bagi karya-karya terbaik dari berbagai kategori kompetisi internasional dan nasional.<\/span><\/h3>\n<h3><span style=\"font-weight: 400;\">Festival Director Rina Damayanti membuka acara dengan laporan kegiatan dan refleksi atas perjalanan festival tahun ini. \u201cMelalui setiap pemutaran dan momen berbagi, kita diingatkan bahwa sinema menyatukan kita, menjembatani jarak, menyalakan empati, dan membuka hati. Kami bangga melihat bagaimana industri film Indonesia terus berkembang dan berevolusi,\u201d ucap Rina Damayanti.<\/span><\/h3>\n<h3><span style=\"font-weight: 400;\">Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, yang menegaskan komitmen pemerintah daerah terhadap penguatan ekosistem film dan ekonomi kreatif di ibu kota. Dalam sambutannya, Rano Karno memberikan apresiasinya, \u201cSelama lima hari, kita menikmati beragam karya luar biasa dari sineas berbagai negara. Saya sangat bersyukur masyarakat Jakarta mendapat kesempatan untuk menyaksikan begitu banyak cerita dan perspektif yang ditampilkan melalui Jakarta Film Week tahun ini. Terima kasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dan mendukung terselenggaranya festival ini. Sampai bertemu lagi di Jakarta Film Week 2026!\u201d<\/span><\/h3>\n<h3><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menyampaikan apresiasi atas keberlanjutan Jakarta Film Week yang menjadi salah satu jendela penting sinema Indonesia ke dunia. \u201cJakarta Film Week adalah wadah diplomasi budaya, penggerak ekonomi, sekaligus jembatan yang menghubungkan berbagai masyarakat,\u201d ujarnya.<\/span><\/h3>\n<h3><b>Malam Penghargaan Jakarta Film Week 2025<\/b><\/h3>\n<h3><span style=\"font-weight: 400;\">Rangkaian penghargaan dimulai dengan pengumuman dari kategori kompetisi utama, Global Feature Award diberikan kepada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Devil Smokes<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> karya Ernesto Martinez Bucio, yang menurut juri \u201cmembangun dunia yang autentik dan resonan dengan keseimbangan antara realisme sosial dan fabel.\u201d<\/span><\/h3>\n<h3><span style=\"font-weight: 400;\">Direction Award untuk film Indonesia jatuh kepada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Crocodile Tears<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> karya Tumpal Tampubolon, sebuah \u201cdongeng gelap dengan penguasaan penuh terhadap bahasa sinema, dari penulisan, visual, hingga performa.\u201d<\/span><\/h3>\n<h3><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk kategori film pendek internasional, Global Short Award diraih oleh <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">A Very Straight Neck<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> karya Neo Sora, film berdurasi 11 menit yang \u201cmemadukan absurditas, kesedihan, dan komentar sosial-politik dengan cara yang mengejutkan dan efektif.\u201d<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Global Short Special Mention diberikan kepada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Workers\u2019 Wings<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> karya Ilir Hasanaj atas \u201cpenggunaan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">mise-en-sc\u00e8ne<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang inovatif yang menciptakan potret emosional penuh kepedihan.\u201d<\/span><\/h3>\n<h3><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam kategori animasi, Global Animation Award dianugerahkan kepada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">And Granny Would Dance<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> karya Maryam Mohajer, yang \u201cberani secara visual dan menyampaikan pesan pemberdayaan perempuan dengan kekuatan emosi yang sederhana namun kuat.\u201d<\/span><\/h3>\n<h3><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk kategori nasional, penghargaan Jakarta Film Fund Award diberikan kepada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Salon Gue Aje<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> karya Tahlia Motik, karena \u201cberhasil menyampaikan potret gentrifikasi Jakarta dengan pendekatan yang jujur dan autentik.\u201d<\/span><\/h3>\n<h3><span style=\"font-weight: 400;\">Nongshim Award, sebuah penghargaan baru tahun juga turut memberikan apresiasinya untuk film Indonesia. Kategori Nongshim Award Feature untuk film panjang diberikan kepada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Crocodile Tears<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> karya Tumpal Tampubolon, sebagai pengakuan atas keberanian dan konsistensi produser dalam mengembangkan karya yang orisinal dan menantang. Untuk kategori Nongshim Award Short untuk film pendek, penghargaan ini jatuh kepada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">A Tale for My Daughter (Tutaha Subang)<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> karya Wulan Putri, yang dinilai \u201cberani dan jujur dalam mengeksplorasi isu sensitif dengan empati dan kedewasaan berpikir.\u201d<\/span><\/h3>\n<h3><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu untuk Producers Lab, di mana tiga produser muda terpilih \u2014 Hanna Humaira (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Nesting Hour<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), Abby Latip (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Jonah, Who Crawled Back Into His Mother&#8217;s Womb<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), dan Haediqal Pawennei (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">What to Wear for My Own Funeral?<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) \u2014 akan berangkat ke Platform Busan 2026. Sementara Development Grant dari Manajemen Talenta Nasional (MTN) diberikan kepada Mozad Irvany untuk proyek <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Boy with His Mother\u2019s Statue<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/h3>\n<h3><span style=\"font-weight: 400;\">Selanjutnya, Pitching Forum menghadirkan berbagai penghargaan industri yang mendukung proyek-proyek potensial sineas Indonesia. MTN Award\u2013Development Grant diberikan kepada proyek <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Light of Fire\/Tinju Api <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(sutradara: Sesarini, produser: Lyza Anggraheni). BSM Awards diberikan kepada dua proyek, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dancing Gale <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(sutradara: Sammaria Sari Simanjuntak, produser Lies Nanci Supangkat &#038; Jeanne Elizabeth Fam) dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">All Things Real and Unreal <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(sutradara: Paul Agusta, produser: Bunga Ineza), karena kekuatan ide dan kedewasaan pengembangan cerita lintas budaya. BSM Award memberikan dukungan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Camera Equipment Support<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, sementara QPM Award\u2013Project Market Participation diberikan kepada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dancing Gale<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/h3>\n<h3><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, proyek <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pingpong<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (sutradara: Najam Yardo, produser: Hannan Cinthya) berhasil menyabet tiga penghargaan sekaligus; HKIFF Industry Award: Jakarta Film Week Goes to Hong Kong yang diserahkan oleh Matthew Poon, Visinema Award\u2013Development Grant yang diserahkan Ajeng Parameswari, serta Jagakarya Award\u2013Post Production Support yang diberikan oleh Yehuda Ariwibowo..<\/span><\/h3>\n<h3><b>Closing Film: <\/b><b><i>Dopamin<\/i><\/b><\/h3>\n<h3><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai film penutup festival, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dopamin<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang disutradarai oleh Teddy Soeria Atmadja menghadirkan refleksi tentang pencarian kebahagiaan di tengah dunia yang kian kompleks. Film ini menutup festival dengan nuansa hangat dan reflektif, diiringi tepuk tangan panjang dari para penonton.<\/span><\/h3>\n<h3><span style=\"font-weight: 400;\">Produser film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dopamin<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, Gobind Vashdev turut menyatakan, \u201cSebuah karya yang spesial bagi saya, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dopamin<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah tentang bagaimana kita bisa menemukan kebahagiaan di dunia yang semakin gila. Saya berharap film ini bisa mengingatkan kita semua bahwa cinta adalah satu-satunya obat untuk tetap bahagia.\u201d<\/span><\/h3>\n<h3><b>Kolaborasi Internasional: Indonesia Jadi Fokus Negara <\/b><b><i>Next Step Studio <\/i><\/b><b>2026<\/b><\/h3>\n<h3><span style=\"font-weight: 400;\">Malam penutupan juga menjadi momen penting dengan pengumuman kolaborasi baru antara La Semaine de la Critique\u2013Cannes, KawanKawan Media, dan DW. Pada tahun 2026, Indonesia akan menjadi fokus negara untuk program <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Next Step Studio<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, yang merupakan pengembangan dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Next Step Workshop<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Semaine de la Critique Cannes.<\/span><\/h3>\n<h3><span style=\"font-weight: 400;\">Melanjutkan konsep yang diinisiasi oleh <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Cannes La Factory<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Directors\u2019 Fortnight<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sejak 2013, program ini bertujuan mendukung kemunculan suara-suara baru dalam dunia sinema di berbagai belahan dunia. Kolaborasi ini diharapkan dapat membuka peluang baru bagi sineas Indonesia untuk mengembangkan proyek film panjang serta membangun koneksi dengan jaringan perfilman internasional. Produser Yulia Evina Bhara menekankan pentingnya inisiatif ini \u201cuntuk membuka jalur internasional bagi sineas muda Indonesia, serta memperkuat kolaborasi lintas budaya yang tetap berakar pada identitas lokal.\u201d<\/span><\/h3>\n<h3><\/h3>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta, 26 Oktober 2025 \u2013 Jakarta Film Week 2025 resmi ditutup pada Minggu malam, 26 Oktober 2025, di CGV Grand Indonesia, dengan pemutaran film Dopamin karya Teddy Soeria Atmadja sebagai Closing Film. Malam puncak bertajuk Closing Ceremony &#038; Closing Film ini menjadi perayaan bagi para sineas dan penonton yang telah mengikuti lima hari festival, sekaligus [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":20972,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[12],"tags":[],"class_list":["post-20968","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-press-release"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20968","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=20968"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20968\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":20974,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20968\/revisions\/20974"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/20972"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=20968"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=20968"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=20968"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}