{"id":20965,"date":"2025-10-29T07:09:52","date_gmt":"2025-10-29T00:09:52","guid":{"rendered":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/?p=20965"},"modified":"2025-10-29T07:09:52","modified_gmt":"2025-10-29T00:09:52","slug":"hari-keempat-jakarta-film-week-2025-dari-masterclass-herstory-hingga-isu-sosial-di-emergency-broadcast","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/press-release\/hari-keempat-jakarta-film-week-2025-dari-masterclass-herstory-hingga-isu-sosial-di-emergency-broadcast\/%20","title":{"rendered":"Hari Keempat Jakarta Film Week 2025: Dari Masterclass, Herstory, hingga Isu Sosial di Emergency Broadcast"},"content":{"rendered":"<p><b><br \/>\n<\/b><b>Jakarta, 26 Oktober 2025<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> \u2014 Hari keempat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Jakarta Film Week 2025<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> menghadirkan rangkaian program yang memperkaya wawasan, menginspirasi kreativitas, dan mempertemukan perspektif lintas budaya dan generasi. Dari ruang diskusi di Taman Ismail Marzuki hingga layar bioskop di CGV Grand Indonesia dan CGV FX Sudirman, setiap program hari ini memperlihatkan bagaimana sinema menjadi medium untuk belajar, tertawa, dan berefleksi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Taman Ismail Marzuki, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Masterclass Directing<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> menjadi salah satu sesi yang paling dinantikan. Dua sesi berlangsung padat penonton di Ruang Museum Koleksi IKJ, menghadirkan sutradara-sutradara lokal dan internasional seperti Duong Dieu Linh (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Don\u2019t Cry, Butterfly<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), Woo Ming Jin (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Fox King<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), Chong Keat Aun (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pavane for an Infant<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), dan Mouly Surya (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Perang Kota<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), dengan moderator Makbul Mubarak dan Janice Angelica. Para pembicara berbagi pengalaman tentang proses membuat film panjang pertama, dari berkelana ke berbagai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">script lab<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> hingga mencari produser yang tepat. \u201cFilmmaking dan kegagalan pada dasarnya \u2018dinikahi\u2019 satu sama lain,\u201d ujar Duong, menyemangati para sutradara muda. Diskusi juga menggali persoalan yang dihadapi ketika film bertemu dengan pasar dan sensor, seperti yang diceritakan Chong Keat Aun mengenai tantangannya di Malaysia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, di CGV Grand Indonesia, deretan film panjang internasional dari program <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Official Selection Global Feature<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> kembali tayang, di antaranya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Life That Remains<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kika<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Diamonds in the Sand<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang dibuka dengan sapaan hangat dari produser Lorna Tee. Salah satu momen paling menghibur datang dari sesi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Direction Award, Si Paling Aktor (eng: The Ultimate Actor)<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, film komedi garapan Ody Harahap yang diadaptasi dari novel karya Adhitya Mulya. Film yang akan tayang pada 30 Oktober 2025 ini sukses mengundang gelak tawa satu studio. Dalam sesi tanya jawab, aktor Jourdy Pranata membagikan pengalaman menariknya selama persiapan peran: \u201cSebelum syuting, saya ikut berbagai workshop, belajar menjadi bidan, membangun <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">chemistry<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dengan ular kobra, bahkan belajar bahasa Mandarin. Keistimewaan menjadi aktor di sini karena bisa belajar banyak hal baru.\u201d Hadir pula penulis Adhitya Mulya dan aktris Beby Tsabina yang menyoroti kolaborasi erat di balik proses kreatif film ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di CGV FX Sudirman, program <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">In Conversation with Agak Laen: Menyala Pantiku!<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> menciptakan suasana hangat dan penuh tawa. Sekitar lima puluh penonton memenuhi ruangan untuk mendengar cerita dari Muhadkly Acho, Bene Dion, dan Wendy Aga. Film terbaru mereka, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Agak Laen: Menyala Pantiku<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, lahir dari ide-ide yang berawal dari podcast mereka. \u201cKami ingin menghadirkan warna baru tanpa kehilangan identitas khas Agak Laen,\u201d ujar Acho. Bene Dion yang terlibat dalam pengembangan cerita menambahkan pentingnya menjaga dinamika humor khas mereka, sementara DoP Wendy Aga berbagi tentang pendekatan visual yang lebih cerah dan hangat, terinspirasi dari karya Botticelli.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masih di CGV FX Sudirman, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Layar Indonesiana 2024<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> menampilkan lima film pendek pilihan yang menangkap kehidupan sehari-hari dan isu sosial di Indonesia: <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Night is Long and It&#8217;s Yours Alone<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Most Handsome Fish on Earth<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Makwan City of Dreams \u2013 The Silvermen<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Hear the Ping Pong Sing<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Under the Whether<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Ruangan hampir penuh oleh penonton lintas usia dan latar belakang. Dalam sesi diskusi, para pembuat film berbagi pengalaman mereka mengolah tema-tema yang jarang diangkat, seperti menopause, kesenjangan sosial, hingga bullying. \u201cTema menopause jarang diangkat, sementara film lain banyak bicara soal pubertas. Justru dari ruang yang jarang dibicarakan inilah lahir cerita yang segar,\u201d ujar produser Eliza Cheisa. Para filmmaker juga menekankan pentingnya orisinalitas dan kejujuran dalam bercerita agar karya mereka menonjol di antara ratusan proposal pendanaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Teater Sjuman Djaya, Taman Ismail Marzuki, program <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Herstory<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> menjadi ruang refleksi yang hangat dan interaktif. Dengan kursi yang terisi penuh, sesi ini menghadirkan Hannah Al Rashid, Julita Pratiwi dari Kelas Liarsip, dan M. Kanz Daffa (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Will Today Be a Happy Day?<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) untuk membicarakan peran perempuan dalam film, baik sebagai subjek maupun pembuat cerita. \u201cKalau yang membuat regulasi masih laki-laki, kita bisa apa? Suara-suara dari kita yang bisa menggerakkan semua, melalui ruang seperti Herstory ini,\u201d kata Hannah. Julita menambahkan bahwa <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Herstory<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> bukan sekadar selebrasi, tetapi ruang untuk menjaga dan menyebarkan narasi penting yang mudah hilang di tengah arus industri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Teater Asrul Sani, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Emergency Broadcast<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> menampilkan enam film pendek bertema sosial dan politik yang relevan dengan kondisi terkini, di antaranya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Geger Perikoloso<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Tutaha Subang<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Memories From Fire\u2019s Chaos<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Suasana ruangan penuh oleh penonton yang antusias. Para pembuat film seperti Wulan Putri (Sutradara <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Tutaha Subang<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), Indigo Gabriel (Sutradara <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Geger Perikoloso<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), dan jurnalis Ronna Nirmala (Editor Pelaksana Project Multatuli) membagikan pandangan mereka tentang pentingnya memberi ruang bagi perspektif kelompok termarjinalkan. \u201cKita gak bisa melindungi diri kita karena sistem sudah se-<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">chaos<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini. Tapi keenam film ini berhasil menangkap realitas itu dengan cara yang jujur,\u201d ujar Ronna.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain pemutaran film dan diskusi, hari keempat juga diwarnai dengan sesi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Industry Talks<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> kolaborasi Kemenparekraf dan AINAKI, serta <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Jakarta Film Fund<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang mempertemukan para pembuat film muda dengan mentor dan pelaku industri untuk memperdalam wawasan profesional mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan ragam perspektif mulai dari ruang belajar, refleksi sosial, hingga tawa dan kolaborasi, hari keempat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Jakarta Film Week 2025<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> mempertegas semangat festival sebagai ruang pertemuan ide dan energi kreatif lintas disiplin, tempat di mana film bukan hanya tontonan, tapi juga percakapan yang terus menyala.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta, 26 Oktober 2025 \u2014 Hari keempat Jakarta Film Week 2025 menghadirkan rangkaian program yang memperkaya wawasan, menginspirasi kreativitas, dan mempertemukan perspektif lintas budaya dan generasi. Dari ruang diskusi di Taman Ismail Marzuki hingga layar bioskop di CGV Grand Indonesia dan CGV FX Sudirman, setiap program hari ini memperlihatkan bagaimana sinema menjadi medium untuk belajar, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":20966,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[12],"tags":[],"class_list":["post-20965","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-press-release"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20965","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=20965"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20965\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":20967,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20965\/revisions\/20967"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/20966"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=20965"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=20965"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=20965"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}