{"id":20958,"date":"2025-10-29T07:00:12","date_gmt":"2025-10-29T00:00:12","guid":{"rendered":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/?p=20958"},"modified":"2025-10-29T07:00:12","modified_gmt":"2025-10-29T00:00:12","slug":"global-short-talents-hub-dan-penghormatan-untuk-john-badalu-memeriahkan-hari-ketiga-jakarta-film-week-2025","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/press-release\/global-short-talents-hub-dan-penghormatan-untuk-john-badalu-memeriahkan-hari-ketiga-jakarta-film-week-2025\/%20","title":{"rendered":"Global Short, Talents Hub, dan Penghormatan untuk John Badalu Memeriahkan Hari Ketiga Jakarta Film Week 2025"},"content":{"rendered":"<p><b>Jakarta, 25 Oktober 2025<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> \u2014 Hari ketiga <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Jakarta Film Week 2025<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> menjadi hari yang sarat dengan energi dunia film pendek, menampilkan beragam karya lintas budaya, hingga perbincangan mendalam tentang genre dan penghormatan untuk penggerak film Indonesia. Dari Galeri Indonesia Kaya hingga Taman Ismail Marzuki, festival hari ini menjadi ruang pertemuan bagi pembuat film, penonton, dan komunitas kreatif yang terus menjaga nyala sinema, khususnya dalam wujud film pendek yang penuh eksperimen dan cerita yang kuat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Global Short Competition 1 &#038; 2 digelar di CGV FX Sudirman, menampilkan film-film pendek dari berbagai belahan dunia termasuk Indonesia, Inggris, Polandia, Lebanon, Meksiko, Spanyol, Hong Kong, dan Jepang. Global Short Competition 1 menayangkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dancing in the Corner<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">A Very Straight Neck<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Cura Sana<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Workers\u2019 Wings<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">There Will Come Soft Rains<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">What If They Bomb Here Tonight<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Global Short Competition 2 menayangkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">La Cascada<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Anatomy of A Call<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ini Ibu Budi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Coyotes<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Somewhere in Between<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Suasana cukup padat pada Jumat malam dan berhasil mengundang reaksi lebih hangat dari penonton, termasuk tepuk tangan meriah setelah pemutaran <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ini Ibu Budi <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang disutradarai oleh Abimana. Film ini juga menghadirkan sesi Talks dan Q&#038;A singkat dengan tim pembuat film, seperti Gunnar Nimpuno, Nidya Ayu, Pinkan Veronique, dan William Chandra, dimoderatori oleh sutradara Reza Fahri. Gunnar Nimpuno, sinematografer <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ini Ibu Budi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, mengungkapkan kegembiraannya: \u201cYang pasti gue excited banget. Gue kangen banget bikin film-film pendek kayak gini karena spiritnya lebih jujur. Makanya waktu Abimana nawarin ngajak bikin film pendek, langsung gue sambut dan kerjain. Gue senang banget disuguhkan dengan banyak banget film shorts. Kalau ditanya favoritnya yang mana, ada beberapa yang gue suka. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Coyotes <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">gue suka banget, sama <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Somewhere in Between<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Sering-seringlah bikin kayak begini, bikin<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> film week!\u201d <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, Global Short Official Selection 3 diselenggarakan di Teater Asrul Sani, Taman Ismail Marzuki, dilengkapi sesi Q&#038;A singkat yang memperkaya pengalaman penonton dan memberikan wawasan tambahan mengenai proses kreatif para pembuat film pendek.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di CGV Grand Indonesia, penonton juga disuguhkan beberapa sesi Q&#038;A yang memadukan penayangan film dan diskusi kreatif. Program Made in HK memutar film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Band Four<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, dilanjutkan sesi diskusi dengan pembicara Day Tai, komposer musik film asal Hong Kong, dan dimoderatori oleh NatapLayar, membahas proses penciptaan skor musik yang memperkuat cerita film. Film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Stuntman<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> karya Albert Leung juga dibahas secara mendalam, menghadirkan pandangan sutradara mengenai aksi dan narasi khas sinema Hong Kong. Dari Indonesia, film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Tale of the Land<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dibedah bersama sutradara Loeloe Hendra, production designer Sigit D. Pratama, dan produser Yulia Evina Bhara &#038; Amerta Kusuma, membahas proses kreatif, desain produksi, dan kolaborasi dalam menghasilkan narasi lokal yang kuat. Film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pesugihan Sate Gagak<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> karya Etienne Caesar juga menjadi sorotan, mengajak penonton memahami perspektif sutradara dalam mengeksplorasi kisah horor Indonesia yang kaya akan mitos lokal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sore harinya, Galeri Indonesia Kaya menjadi tuan rumah sesi Industry Talks \u2013 <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Thrill &#038; Jumpscare of Genre Films,<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> bagian dari JFWNET\u2013Industry Program, sebagai forum untuk jejaring dan pertukaran industri bagi para profesional film. Sesi menghadirkan Jack Lai (sutradara, Hong Kong) dan Martin Lee (programmer BIFAN, Korea Selatan), dimoderatori Devina Sofiyanti. Martin Lee menekankan bahwa genre adalah bahasa universal yang bisa menjadi hiburan sekaligus refleksi sosial. Jack Lai menceritakan secara naratif bagaimana tradisi aksi Hong Kong membentuk pendekatan naratifnya, menjadikan genre sebagai jembatan antar budaya dan generasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Program Made in HK di CGV FX Sudirman menampilkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Short Compilation<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang menyoroti wajah baru sinema Hong Kong, penuh eksperimen, berani, dan emosional. Sutradara Siu Koom Ho Jason Delon berbagi tentang upayanya mengekspresikan identitas kota dan energi generasi muda secara autentik melalui film pendek. Film Herstory: <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pavane for an Infant<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> karya Chong Keat Aun menghadirkan refleksi mendalam tentang ingatan, kehilangan, dan perspektif perempuan Asia, membuka ruang diskusi yang kuat di tengah festival.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Program baru Talents Hub, yang berlangsung di Mercure Hotel Central Jakarta, juga menjadi bagian dari JFWNET\u2013Industry Program. Talents Hub menekankan capacity building, menghadirkan 22 peserta dari berbagai wilayah di Indonesia serta negara Asia lain seperti Singapura, Hong Kong, dan Filipina. Peserta memperoleh kesempatan untuk berbagi pengetahuan, memperdalam pemahaman industri, dan membangun jaringan lintas negara melalui workshop, diskusi, serta kunjungan industri ke rumah produksi seperti Super 8mm dan Vidio.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hari ketiga ditutup dengan manis melalui agenda <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">A Special Evening for John<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> di Teater Sjumandjaja, Taman Ismail Marzuki, sebuah penghormatan untuk John Badalu, sahabat dan penggerak sinema Indonesia selama lebih dari dua dekade. Dalam suasana hangat dan penuh kenangan, Ika Wulandari, Mandy Marahimin, Monica Tedja, dan Meninaputri Wismurti berbagi cerita tentang perjalanan John dari layar ke layar, dari festival ke festival, hingga dedikasi yang menginspirasi banyak generasi. \u201cJohn selalu mengingatkan aku bahwa apa yang aku mulai sekarang, fokus diteruskan saja. Kebayang kalau aku tidak pernah ketemu John, mungkin filmku belum akan premier untuk saat ini.\u201d ujar Ika Wulandari. Sesi dimoderatori oleh Adrian Jonathan, menandai salah satu momen paling emosional di sepanjang festival.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jakarta Film Week 2025 berlangsung pada 22\u201326 Oktober 2025 di berbagai titik: CGV Grand Indonesia, CGV FX Sudirman, Hotel Mercure Cikini, FFTV IKJ, dan Taman Ismail Marzuki. Melalui JFWNET \u2013 Industry Program, festival ini menghadirkan forum industri, masterclass, dan program edukasi yang mendorong kapasitas profesional pelaku film Indonesia lintas disiplin serta kolaborasi regional.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta, 25 Oktober 2025 \u2014 Hari ketiga Jakarta Film Week 2025 menjadi hari yang sarat dengan energi dunia film pendek, menampilkan beragam karya lintas budaya, hingga perbincangan mendalam tentang genre dan penghormatan untuk penggerak film Indonesia. Dari Galeri Indonesia Kaya hingga Taman Ismail Marzuki, festival hari ini menjadi ruang pertemuan bagi pembuat film, penonton, dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":20959,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[12],"tags":[],"class_list":["post-20958","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-press-release"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20958","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=20958"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20958\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":20963,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20958\/revisions\/20963"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/20959"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=20958"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=20958"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=20958"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}