 {"id":10949,"date":"2023-11-03T13:01:10","date_gmt":"2023-11-03T06:01:10","guid":{"rendered":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/?p=10949"},"modified":"2024-09-17T09:51:45","modified_gmt":"2024-09-17T02:51:45","slug":"takashi-shimizu-dan-tai-ohuchi-isi-masterclass-directing","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/article\/takashi-shimizu-dan-tai-ohuchi-isi-masterclass-directing\/%20","title":{"rendered":"Masterclass Directing Bersama Takashi Shimizu dan Tai Ohuchi, Sutradara dan Sinematografer Film Ju-On dan Sana\u00a0"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-10969 size-full lazyload\" data-src=\"https:\/\/jakartafilmweek.com\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/masterclass-directing-scaled.jpg\" alt=\"masterclass directing with Takashi Shimizu\" width=\"2560\" height=\"1440\" data-srcset=\"https:\/\/jakartafilmweek.com\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/masterclass-directing-scaled.jpg 2560w, https:\/\/jakartafilmweek.com\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/masterclass-directing-300x169.jpg 300w, https:\/\/jakartafilmweek.com\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/masterclass-directing-1024x576.jpg 1024w, https:\/\/jakartafilmweek.com\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/masterclass-directing-768x432.jpg 768w, https:\/\/jakartafilmweek.com\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/masterclass-directing-1536x864.jpg 1536w, https:\/\/jakartafilmweek.com\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/masterclass-directing-2048x1152.jpg 2048w\" data-sizes=\"(max-width: 2560px) 100vw, 2560px\" src=\"data:image\/svg+xml;base64,PHN2ZyB3aWR0aD0iMSIgaGVpZ2h0PSIxIiB4bWxucz0iaHR0cDovL3d3dy53My5vcmcvMjAwMC9zdmciPjwvc3ZnPg==\" style=\"--smush-placeholder-width: 2560px; --smush-placeholder-aspect-ratio: 2560\/1440;\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hari ketiga Jakarta Film Week 2023 diramaikan oleh<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">program <\/span><a href=\"https:\/\/jakartafilmweek.com\/events\/masterclass\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Directing Masterclass<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Program ini menjadi ajang diskusi bagi para sineas Indonesia untuk mengenal lebih dalam mengenai pengarahan film bersama dengan Takashi Shimizu dan Tai Ohuchi. Acara ini juga mengundang beberapa sutradara Indonesia salah satunya adalah Fajar Nugros dan Paul Agusta sebagai partisipan yang hadir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Takashi Shimizu merupakan <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">seorang sutradara dan pembuat film Jepang yang dikenal terutama untuk karyanya dalam genre horror. Ia terkenal karena menjadi pengarah film horor Jepang &#8220;Ju-on&#8221; yang dikenal juga sebagai &#8220;The Grudge&#8221; pada tahun 2002. Tidak lama ini ia baru saja merilis film dengan judul \u2018Sana\u2019 atau dalam bahasa Jepang berjudul \u2018Minna no Uta\u2019 yang tayang pertama kali di Indonesia pada pagelaran Jakarta Film Week 2023.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedangkan, Tai Ohuchi adalah sinematografer di film \u2018<a href=\"https:\/\/movies.shochiku.co.jp\/minnanouta\/\">Sana<\/a>\u2019, ia juga telah berkontribusi dalam berbagai genre mulai dari film, drama TV, iklan TV, hingga video musik. Karyanya di antara lain adalah <em>The Hikita\u2019s Are Expecting (2019), One Day You Will Reach The Sea (2022), <\/em>dan<em> In Her Room and Side By Side (2023).<\/em><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama acara berlangsung, Shimizu membagikan pengalamannya dalam pembuatan film \u2018Sana\u2019 secara keseluruhan mulai dari tantangan yang dihadapi maupun teknis. Partisipan sangat antusias untuk memberikan pertanyaan kepada Shimizu. Salah satu pertanyaan yang menarik adalah alasan pemilihan nama \u2018Sana\u2019 jika diartikan adalah \u2018<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Everybody\u2019s Songs<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">\u2019 yang dinilai sangat unik untuk sebuah film horor.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Shimizu menanggapi bahwa tujuan pemilihan nama tersebut agar menarik perhatian khalayak agar berkesan seperti film bertema keluarga. \u201cSaya sengaja memberikan nama itu agar seolah-olah film ini bertema keluarga, jika dari awal kita sudah memberikan judul yang menyeramkan dan tidak sesuai ekspektasi penonton justru akan memberikan efek yang tidak bagus. Dan mungkin alasan lainnya agar mudah diingat oleh para penonton.\u201d ujar Shimizu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film yang telah tayang perdana di Jepang pada 11 Agustus 2023 ini, telah menjalani proses kreatif yang cukup panjang. Shimizu mengungkapkan bahwa dibalik pengembangan proses film yang baik, perlu adanya kepercayaan kepada sesama crew film. \u201cDalam proses pembuatan film, tidak hanya sutradara yang mengambil alih keseluruhan prosesnya tetapi pentingnya kerjasama dan kepercayaan antar crew. Sehingga dalam prosesnya melibatkan seluruh ide-ide yang dimiliki oleh crew agar cerita yang ingin disampaikan oleh penonton dapat terus berkembang<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">.\u201d ungkap Shimizu<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Shimizu turut menambahkan bahwa keberhasilan sebuah film horor yaitu dengan <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">mengambil sudut pandang penonton untuk mengetahui apa yang penonton akan rasakan saat menonton film. Ia juga memberikan tips kepada partisipan untuk membuat sebuah film horror yang tidak hanya mengandalkan<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> jumpscare<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, yaitu dengan memutarbalikkan ekspektasi sehingga dapat \u201cmengkhianati\u201d tebakan penonton.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, sesi diskusi ini memberikan pengetahuan lain mengenai tren<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> slow-paced<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> di industri perfilman Jepang. Nyatanya, hal ini bukanlah suatu kesengajaan melainkan keadaan pendanaan yang mengharuskan proses perfilman Jepang direalisasikan secara minimalis \u201cDi Jepang, film yang mendapatkan pendanaan dari pemerintah hanya film animasi, sedangkan untuk film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">live action <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">tidak didukung oleh pemerintah Jepang. Sehingga kita harus membuat film<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> low budget <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang original dan tindak melepaskan nilai suatu film.\u201d tutupnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara keseluruhan sesi diskusi ini memberikan sisi pandang lain dalam industri perfilman Jepang, sehingga partisipan yang hadir dapat saling sehingga membuka wawasan seputar industri perfilman bersama dengan orang yang ahli dibidangnya.<\/span><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Asia Khairunnisa Luthan | Nanda Hadiyanti<\/span><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hari ketiga Jakarta Film Week 2023 diramaikan oleh program Directing Masterclass. Program ini menjadi ajang diskusi bagi para sineas Indonesia untuk mengenal lebih dalam mengenai pengarahan film bersama dengan Takashi Shimizu dan Tai Ohuchi. Acara ini juga mengundang beberapa sutradara Indonesia salah satunya adalah Fajar Nugros dan Paul Agusta sebagai partisipan yang hadir. Takashi Shimizu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":10969,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[109,47,123,122],"class_list":["post-10949","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-article","tag-jakarta-film-week-2023","tag-jakarta-film-week","tag-masterclass-directing","tag-masterclass"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10949","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10949"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10949\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10971,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10949\/revisions\/10971"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10969"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10949"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10949"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartafilmweek.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10949"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}