Women from Rote Island’s Remarkable Debut As A Powerful Voice for Change

women from rote island

Pada hari keempat Jakarta Film Week 2023, penggemar perfilman Tanah Air disuguhi karya sinematik yang patut dinantikan, yakni “Women from the Rote Island“. Film ini memulai perjalanan internasionalnya dengan penampilan perdana di Busan International Film Festival pada awal Oktober lalu.

Dalam puncak seleksi ketat yang melibatkan 1.500 film Indonesia, hanya 30 karya yang beruntung masuk dalam kurasi tersebut dan hanya tiga yang terpilih untuk ditampilkan di Busan International Film Festival, dan “Women from the Rote Island” merupakan salah satu dari tiga film yang membanggakan Indonesia. 

Proses produksi Women from the Rote Island

Proses produksi film “Women from the Rote Island” adalah sebuah perjalanan yang penuh dedikasi dan pengorbanan. Selama empat tahun, Jeremias dan tim produksi berkomitmen untuk menggarap proyek ini, di mana hampir dua tahun di antaranya digunakan untuk penulisan naskah yang kuat dan berdaya ungkit Jeremias. Ia dengan tekun melakukan perjalanan bolak-balik antara Jakarta dan Pulau Rote, mencari sudut pandang yang mendalam dan otentik untuk menggambarkan kisah ini. 

Perjuangan untuk menghadirkan kisah yang sangat penting ini ke dalam sinema terpusat dalam penulisan naskah dan melatih para pemain. Jeremias sadar bahwa untuk menghadirkan cerita ini dengan segenap keasliannya, ia tidak bisa hanya duduk di belakang meja, tapi perlu terjun langsung ke dalam lapangan, hidup dan bekerja di tengah masyarakat yang ingin ia angkat dalam film.

Hal ini memakan waktu yang lama karena ia harus memahami realitas masyarakat secara lebih dekat yang dimana akhirnya terbayarkan. Dengan hasil yang memuaskan dan menghadirkan sebuah karya sinematik yang tidak hanya autentik dalam cerita dan karakternya, tetapi juga menjadi alat untuk menyampaikan pesan yang mendalam dan sangat penting. 

Fakta menarik film ini

Fakta menarik yang menjadi sorotan film ini adalah sekitar 90% dari para pemain yang terlibat dalam produksi film ini belum pernah bermain dalam film dan muncul di layar lebar sebelumnya dan Jeremias dan timnya dihadapkan dengan tantangan besar ketika mereka dalam proses casting dan menemukan karakter yang tepat dalam menghidupkan karakter-karakter dalam kisah ini. Jeremias percaya bahwa layaknya kehidupan, kesenian butuh proses yang panjang. Dengan pemilihan dan melatih para pemain secara tekun dan giat, Irma Novita Rihi dan para pemain berhasil membawakan karakter secara sangat natural dan menakjubkan. 

Jeremias memilih Pulau Rote sebagai latar lokasi film dengan pertimbangan yang mendalam dan alasan yang kuat. Pulau ini memang dikenal dengan keindahan alamnya yang memukau, tetapi yang tak terlihat dari keindahan itu adalah realitas yang lebih kelam dan banyaknya persoalan memprihatinkan yang terjadi. Pulau Rote terdapat tingkat kasus kekerasan seksual yang tinggi dan Jeremias ingin memanfaatkan platform yang ia miliki untuk menghadirkan perhatian masyarakat secara luas terhadap hal itu yang selama ini mungkin terlupakan oleh banyak orang.

Dengan mengambil lokasi ini sebagai setting utama, ia ingin menekankan bahwa film ini tidak sekadar menjadi representasi Pulau Rote semata tapi sebagai panggilan untuk menggugah kesadaran masyarakat terhadap isu kekerasan seksual yang bukan hanya terjadi di Pulau Rote, namun di berbagai belahan dunia. 

Sebagai film debut Jeremias Nyangoen, “Women from Rote Island” telah menciptakan dampak yang luar biasa di mana keberhasilan film ini tidak hanya terbatas pada penerimaan positif dari penonton, namun juga pengakuan dari industri perfilman. Film ini berhasil memenangkan Direction Award di Jakarta Film Week 2023 dan mendapat empat nominasi di Festival Film Indonesia dengan kategori Best Picture, Best Director, Best Original Screenplay, dan Best Cinematography. Keberhasilan ini adalah bukti nyata dari semua kerja keras Jeremias dan seluruh pemain serta kru film dan membuat masyarakat menjadi semakin menantikan karya-karya selanjutnya dari Jeremias di masa depan yang akan datang.

 

Cut Fatimatuzzahra | Nanda Hadiyanti